KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI) menyoroti perlambatan aktivitas bongkar muat di pelabuhan yang berpotensi mendorong kenaikan biaya logistik nasional, termasuk tarif sewa kontainer. Ketua Umum DPP ALFI, Akbar Djohan, menjelaskan pelabuhan merupakan titik krusial dalam distribusi barang, baik untuk kontainer maupun kargo curah. Namun, kinerja pelabuhan dinilai masih perlu ditingkatkan, baik dari sisi infrastruktur maupun pengelolaan. “Pelabuhan itu kan pintu masuk dan pintu keluar distribusi barang. Ada pelabuhan multi terminal yang bisa bongkar muat kontainer maupun non-containerized seperti barang curah. Selain port management yang harus modern, juga harus sudah menerapkan smart port,” ujarnya saat dihubungi Kontan, Rabu (25/3).
Akbar menekankan, peningkatan kinerja pelabuhan tidak hanya bergantung pada sistem atau soft infrastructure, tetapi juga pada hard infrastructure seperti peralatan bongkar muat.
Baca Juga: Kontainer Langka, GPEI: Biaya Logistik Melonjak Hingga 30% “Nah hard infrastructure-nya itu salah satunya adalah equipment, di antaranya crane. Crane di pelabuhan sebagai infrastruktur yang sangat vital. Keandalan dan kecanggihan crane ini dalam operasional memang dituntut harus sangat prima,” jelasnya. Menurutnya, jika kinerja peralatan dan operasional di darat tidak optimal, maka akan berdampak langsung pada kelancaran arus kapal di pelabuhan. “Kalau tidak optimal pelayanan di darat, dampaknya kapal yang akan masuk bisa terhambat dan menimbulkan waiting cost yang unpredictable. Ini bisa berdampak domino, mulai dari biaya tunggu kapal membengkak,” katanya. Akbar menambahkan, kondisi tersebut berpotensi menurunkan daya saing pelabuhan nasional. Jika biaya semakin tinggi, operator kapal dapat mencari alternatif pelabuhan lain yang lebih efisien. “Kalau kapalnya merasa pelabuhan ini tidak punya competitiveness pelayanan, maka kapal-kapal itu akan mencari pelabuhan bongkar yang baru,” ujarnya. Selain itu, keterbatasan kontainer juga memperparah situasi. Pasokan kontainer yang menipis, ditambah tingginya permintaan, membuat biaya sewa menjadi semakin mahal. “Kalau kontainernya tertahan, supply-nya sedikit, demand-nya tinggi, maka pasti harga kontainernya naik,” jelasnya. Kondisi global, termasuk ketegangan geopolitik, turut memengaruhi rantai pasok. Kenaikan biaya asuransi dan hambatan distribusi kontainer berdampak langsung pada biaya pengiriman (freight cost).
Baca Juga: Prabowo Soroti Impor Kakao Tinggi, Pengusaha: Minimnya Kakao Fermentasi Jadi Hambatan Dari sisi pelaku usaha, dampak kenaikan biaya logistik disebut sudah mulai dirasakan, meskipun besaran kenaikan bersifat bervariasi. “Kalau dampak kenaikan misalnya demurrage cost-nya tinggi, itu bisa 5%–10% dampaknya,” ungkapnya. Untuk mengatasi persoalan ini, ALFI menilai diperlukan pembenahan menyeluruh, baik dari sisi infrastruktur maupun tata kelola pelabuhan. Salah satu langkah penting adalah penetapan service level agreement (SLA) yang terstandar guna memastikan kualitas layanan tetap terjaga. “Standarisasi soft dan hard infrastructure pelabuhan itu harus punya service level agreement yang terstandar,” ujarnya.
Selain itu, pemerintah didorong untuk segera melakukan transformasi tata kelola logistik nasional guna meningkatkan efisiensi dan daya saing sektor logistik Indonesia. “Sudah saatnya pemerintah sebagai regulator melakukan transformasi tata kelola logistik nasional, mulai dari pelabuhan, konektivitas, hingga sistem transportasi nasional,” katanya. Akbar menilai, momentum ketidakpastian rantai pasok global saat ini dapat dimanfaatkan untuk melakukan perbaikan struktural demi menciptakan ketahanan logistik nasional yang lebih kuat di masa depan. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News