Kinerja Pembiayaan Investasi Multifinance Beragam Pada Awal 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Sejumlah perusahaan multifinance mencatat kinerja pembiayaan investasi yang beragam pada awal 2026, di tengah tekanan kondisi ekonomi global yang masih berlanjut.

Data terakhir Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat pembiayaan investasi industri multifinance per Februari 2026 mencapai Rp 167,92 triliun atau turun 2,89% secara tahunan (year on year/YoY). Porsi pembiayaan investasi tercatat sebesar 32,79% dari total portofolio pembiayaan multifinance.

Perusahaan pembiayaan PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) misalnya, mencatatkan piutang pembiayaan investasi sebesar Rp 821 miliar pada kuartal I-2026. Nilai tersebut tumbuh 3% secara YoY, meski belum agresif.


Baca Juga: Suku Bunga Tetap & Yield Obligasi Naik, ACC Atur Ulang Strategi Pendanaan

Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman mengatakan, salah satu tantangan utama berasal dari kondisi ekonomi global yang tidak menentu.

“Hal ini memberikan tekanan kepada daya beli masyarakat sehingga ekspansi bisnis pun berpotensi tertahan dan memberikan dampak terhadap penyaluran pembiayaan investasi menjadi tidak tumbuh agresif,” kata Ristiawan kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Kendati demikian, CNAF memproyeksikan pembiayaan investasi masih memiliki peluang untuk tumbuh positif meski dengan skema yang lebih selektif dan terarah pada sepanjang tahun 2026 ini.

Hal senada disampaikan PT BRI Multifinance Indonesia (BRI Finance). Perusahaan menyebut penyaluran pembiayaan investasi saat ini berjalan lebih selektif.

Baca Juga: Pembiayaan Alat Berat Adira Finance Tembus Rp136 Miliar di Tengah Tekanan Batubara

Corporate Secretary BRI Finance Aditia Fakhri Ramadhani mengatakan, pembiayaan investasi mengalami penyesuaian secara terukur sejalan dengan dinamika pasar.

“Pembiayaan investasi perusahaan menunjukkan penyesuaian secara terukur sejalan dengan dinamika pasar dan strategi pengelolaan portofolio yang lebih selektif,” ujarnya kepada Kontan, Senin (20/4/2026).

Ia menambahkan, segmen ini masih berkontribusi signifikan, yakni sebesar 34,32% terhadap total portofolio pembiayaan per Maret 2026. Menurutnya, kondisi global seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut mempengaruhi permintaan pembiayaan.

“Kondisi ini mendorong pelaku usaha untuk lebih berhati-hati dalam melakukan ekspansi, sehingga permintaan pembiayaan investasi cenderung lebih selektif,” kata dia.

BRI Finance pun memproyeksikan pembiayaan investasi tetap tumbuh, meski secara moderat.

“Proyeksi kami, pembiayaan investasi akan tumbuh secara moderat seiring mulai pulihnya kepercayaan dunia usaha dan stabilisasi kondisi pasar, meskipun masih dibayangi risiko geopolitik dan volatilitas harga komoditas,” imbuhnya.

Sementara itu, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) mencatat penyaluran pembiayaan investasi sebesar Rp 1,8 triliun pada kuartal I-2026 dengan pertumbuhan double digit secara YoY.

Chief Financial Officer Adira Finance Sylvanus Gani mengatakan, pembiayaan investasi tersebut berkontribusi sekitar 15% terhadap total portofolio perusahaan.

“Dari sisi komposisi, pembiayaan investasi berkontribusi sekitar 15% terhadap total portofolio perusahaan,” kata Gani kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Gani menilai perlambatan pembiayaan investasi di industri tidak terlepas dari kehati-hatian pelaku usaha.

“Para pelaku usaha cenderung lebih selektif dalam melakukan belanja modal, sejalan dengan upaya efisiensi operasional serta tekanan terhadap biaya produksi,” jelasnya.

Ia menambahkan, keputusan investasi saat ini sangat bergantung pada prospek permintaan pasar serta kemampuan menjaga profitabilitas.

“Jika daya beli melemah dan permintaan pasar melambat, pelaku usaha biasanya akan lebih berhati-hati dalam menambah kapasitas atau melakukan pembelian aset produktif baru,” katanya.

Adapun PT Wahana Ottomitra Multiartha Tbk (WOM Finance) mencatat pembiayaan investasi relatif stabil pada kuartal I-2026 di kisaran Rp 130 miliar.

Direktur WOM Finance Cincin Lisa Hadi mengatakan, pembiayaan investasi tersebut menyumbang lebih dari 30% terhadap total portofolio pembiayaan perusahaan.

“Tren pembiayaan investasi perusahaan di kuartal I-2026 masih relatif stabil, dengan nilai rata-rata Rp 130 miliar dan porsi lebih dari 30% dari keseluruhan pembiayaan,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (21/4/2026).

Ia menambahkan, tantangan penyaluran pembiayaan investasi berasal dari daya beli masyarakat yang masih selektif, kualitas pembiayaan, peningkatan risiko kredit, serta fluktuasi permintaan pasar.

Untuk itu, WOM Finance menerapkan strategi prudent melalui penguatan analisis kredit, diversifikasi portofolio, serta fokus pada pembiayaan dengan fundamental dan arus kas yang terukur.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News