Kinerja Positif, Tapi Pergerakan Saham ADMR Masih Terbatas



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) masih bergerak terbatas. Padahal entitas Grup Alamtri ini membukukan kinerja keuangan yang positif didorong kenaikan harga komoditas.

Pada perdagangan Rabu (23/9), saham ADMR mulai menguat 2,63% ke Rp 1.560 per saham. Sepanjang tahun berjalan ini, saham ADMR tak bergerak kemana-mana alias flat.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menilai fundamental ADMR masih menarik. Namun, pasar membutuhkan bukti lebih kuat bahwa ekspansi aluminium mampu mengkompensasi volatilitas bisnis batubara metalurgi.


Baca Juga: Direktur Bumi Resources (BRMS) Ini Beli 750.500 Saham BRMS

“ADMR tetap memiliki fundamental yang menarik, tetapi pasar saat ini masih membutuhkan bukti lebih kuat bahwa ekspansi aluminium dapat segera mengompensasi volatilitas bisnis batubara metalurgi,” katanya kepada Kontan, Rabu (23/9).

Menurut Nafan, pertumbuhan laba ADMR yang solid belum otomatis mendorong rerating harga saham. Dia bilang ekspektasi pasar terhadap ADMR sudah cukup tinggi sehingga investor membutuhkan katalis baru untuk memberikan valuasi lebih tinggi.

Selain itu, kata Nafan, risiko operasional jangka pendek turut menahan pergerakan saham ADMR. Salah satunya adalah gangguan pengiriman batubara kokas akibat rendahnya permukaan Sungai Barito pada musim kering yang membatasi aktivitas pengangkutan.

Setali tiga uang, Research Analyst Phintraco Sekuritas Vinna N. Rachmawati menyebut kondisi kekeringan berkepanjangan berpotensi membebani operasional ADMR pada kuartal mendatang, meski terdapat katalis dari bisnis aluminium.

“Akibatnya, kegiatan logistik di sepanjang Sungai Barito untuk sementara dihentikan dan batubara ditumpuk di area pelabuhan ADMR,” tulisnya Vinna dalam riset yang dirilis pada Senin (21/9).

Vinna menyebut sebenarnya kinerja operasional ADMR pada semester pertama 2026 sebenarnya cukup solid. Volume penjualan batubara metalurgi meningkat 9% secara tahunan, seiring harga jual rata-rata yang lebih tinggi.

Pendapatan ADMR pada semester pertama 2026 mencapai US$ 584 juta, naik 39,3% secara tahunan atau Year on Year (YoY). Segmen penjualan produk pertambangan menyumbang US$582 juta atau sekitar 99,6% dari total pendapatan.

Laba kotor ADMR juga meningkat 54,2% YoY menjadi US$ 227,8 juta, dengan margin laba kotor melebar menjadi 47,6%. Laba bersih meningkat 24% YoY menjadi US$ 174,2 juta per Juni 2026 dibandingkan US$ 140,5 juta.

Namun, kontribusi bisnis aluminium belum masuk ke laporan pendapatan ADMR pada semester pertama 2026. Melalui PT Kalimantan Aluminium Industry, smelter aluminium kini berada dalam tahap peningkatan produksi atau ramp-up.

Vinna memperkirakan ADMR mulai membukukan pendapatan dari penjualan aluminium pada semester kedua 2026. Tahap pertama smelter tersebut ditargetkan mencapai kapasitas penuh sebesar 500.000 ton pada akhir tahun.

Masuknya kontribusi aluminium menjadi salah satu katalis yang dinilai dapat mengubah persepsi pasar terhadap ADMR. Menurutnya, investor berpotensi mulai menilai ADMR sebagai perusahaan mineral  dengan eksposur aluminium, bukan hanya produsen batubara kokas.

Di sisi komoditas, Vinna melihat prospek aluminium domestik masih positif. Kapasitas aluminium primer Indonesia diproyeksikan meningkat hampir 11 kali lipat menjadi 10,4 juta ton pada 2030 dari 850.000 ton pada 2025.

Konsumsi aluminium domestik juga diperkirakan tumbuh 14% pada 2026 dan sekitar 16% secara compound annual growth rate pada 2027–2030. Vinna bilang pertumbuhan tersebut didukung industrialisasi, pembangunan infrastruktur dan kebijakan industri.

"Segmen aluminium dapat menjadi katalis pertumbuhan utama ADMR. Kontribusi bisnis tersebut juga diproyeksikan secara bertahap menjadi sumber pendapatan yang semakin signifikan," jelasnya.

Di sisi lain, Phintraco Sekuritas tetap melihat ada risiko membayangi prospek ADMR. Selain gangguan logistik akibat kondisi Sungai Barito, investor perlu mencermati volatilitas harga komoditas energi serta potensi perlambatan permintaan baja global.

Meski begitu, Phintraco Sekuritas masih mempertahankan rekomendasi beli  ADMR dengan target harga di Rp 2.310 per saham. Nafan juga merekomendasikan beli ADMR dengan area masuk di Rp 1.505–Rp 1.595.

Baca Juga: Harga Emas Terkoreksi, Analis Ungkap Level Penting Ini untuk Rebound

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News