Kinerja Prodia (PRDA) & Proline (PRDL) Berbeda, Ini Prospeknya pada Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja dua emiten dalam grup Prodia menunjukkan perbedaan cukup tajam pada Semester I-2026. PT Prodia Widyahusada Tbk (PRDA) masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba, sementara PT Prodia Diagnostic Line Tbk (PRDL) atau Proline, justru mengalami tekanan hingga berbalik mencatatkan rugi bersih.

Pada Semester I-2026, PRDL membukukan rugi bersih Rp8,84 miliar, berbalik dari laba bersih Rp5,31 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pelemahan tersebut terjadi seiring pendapatan yang turun 51,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi Rp13,7 miliar dari Rp28,5 miliar.

Laba kotor PRDL juga tertekan cukup dalam, yakni turun 76,1% YoY menjadi Rp4,51 miliar dari sekitar Rp18,9 miliar pada Semester I-2025. Penurunan pendapatan dan laba kotor tersebut akhirnya menekan profitabilitas perseroan hingga berbalik mencatatkan rugi.


Di sisi lain, PRDA membukukan kinerja yang lebih solid. Pendapatan PRDA pada Semester I-2026 mencapai Rp1,11 triliun, tumbuh 8,5% YoY dari sekitar Rp1,02 triliun. Laba bersih juga meningkat 11,4% YoY menjadi Rp77,6 miliar dari sekitar Rp69,7 miliar.

Capaian tersebut sekaligus menjadi kinerja Semester I tertinggi PRDA dalam empat tahun terakhir.

Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori Ekky Topan mengatakan, perbedaan kinerja kedua emiten tersebut terutama mencerminkan karakteristik model bisnis yang berbeda.

Baca Juga: Kontras Kinerja Prodia Group: Prodia (PRDA) Solid, Proline (PRDL) Butuh Turnaround

“PRDA memiliki bisnis layanan laboratorium yang lebih defensif dan recurring, sehingga masih mampu mencatat pertumbuhan pendapatan dan laba. Sementara PRDL sebagai produsen alat dan reagen diagnostik lebih sensitif terhadap volume penjualan, siklus pengadaan, dan product mix,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (11/8/2026).

Menurut Ekky, perbedaan sensitivitas tersebut membuat penurunan penjualan PRDL memberikan dampak yang cukup besar terhadap profitabilitas perseroan.

Penurunan kinerja PRDL terutama berasal dari pelemahan penjualan pada segmen kimia klinik dan hematologi. Pertumbuhan pada segmen instrumen belum mampu mengimbangi penurunan tersebut.

Selain itu, terdapat sejumlah faktor lain yang turut memengaruhi kinerja PRDL, seperti transisi produk dan pergeseran waktu pembelian pelanggan.

“Selain itu, terdapat faktor transisi produk, pergeseran waktu pembelian pelanggan, serta kenaikan beban pada fase awal utilisasi fasilitas produksi baru,” jelas Ekky.

Kondisi tersebut membuat penurunan pendapatan ikut memberikan tekanan terhadap margin dan akhirnya membawa PRDL mencatatkan rugi bersih pada Semester I-2026.

Baca Juga: Setelah IPO, PRDL Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Ekspansi Bisnis 2026

Memasuki Semester II-2026, Ekky melihat prospek PRDA masih cukup positif. Pertumbuhan volume pemeriksaan diperkirakan tetap menjadi salah satu penopang utama kinerja perseroan.

“Prospek PRDA masih cukup positif, didukung pertumbuhan volume pemeriksaan, pengembangan layanan specialty clinic, serta peningkatan kontribusi tes esoterik dan precision health,” katanya.

Sementara itu, peluang pemulihan PRDL masih terbuka, terutama melalui peluncuran produk baru dan ekspansi distribusi. Namun, Ekky menilai investor masih perlu menunggu kinerja kuartal III dan IV untuk memastikan proses pemulihan benar-benar mulai terlihat.

“Untuk PRDL, peluang recovery tetap ada, terutama dari produk baru dan ekspansi distribusi. Namun, masih perlu melihat kinerja kuartal III dan IV untuk memastikan apakah pemulihan penjualan sudah mampu memperbaiki margin dan profitabilitas,” ungkapnya.

Baca Juga: Prodia (PRDA) Cetak Laba Rp 77,6 Miliar, Analis Yakin Kinerja Terjaga Hingga 2026

Dari sisi katalis, PRDA berpotensi mendapatkan dorongan dari pertumbuhan volume pemeriksaan, pengembangan layanan baru, serta digitalisasi. Namun, tekanan margin dan persaingan di industri laboratorium tetap menjadi risiko yang perlu diperhatikan.

Sementara itu, katalis PRDL berasal dari peluncuran produk baru, ekspansi distribusi, pertumbuhan segmen instrumen, serta peluang substitusi produk impor. Di sisi lain, risiko yang perlu dicermati adalah pemulihan penjualan yang lebih lambat dari ekspektasi serta kondisi arus kas yang masih perlu diperbaiki.

Dari kedua saham tersebut, Ekky masih lebih memilih PRDA karena memiliki fundamental dan pertumbuhan kinerja yang lebih solid.

Untuk PRDA, Ekky memberikan rekomendasi buy atau akumulasi dengan target harga sekitar Rp2.850 per saham.

Sementara untuk PRDL, ia masih mengambil sikap wait and see dan belum memberikan target harga. Menurutnya, perlu ada konfirmasi perbaikan pendapatan, margin, dan arus kas pada Semester II-2026 sebelum prospek pemulihan PRDL dapat dinilai lebih positif.

Dengan demikian, PRDA masih menjadi pilihan analis di antara kedua emiten Prodia, sementara PRDL perlu membuktikan proses turnaround terlebih dahulu sebelum kembali mendapatkan rekomendasi positif.

Baca Juga: Pendapatan Turun 51,9% di Semester I-2026, Proline (PRDL) Fokus Diversifikasi Produk

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News