Kinerja Reksadana Berpotensi Pulih di Semester II, Tapi Masih Selektif



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana diperkirakan mulai membaik secara bertahap pada paruh kedua 2026, meski pergerakannya masih akan cenderung selektif di tengah dinamika global dan domestik.

Berdasarkan data Infovesta Utama, rata-rata kinerja reksadana pasar uang tumbuh 1,3% sejak awal tahun. Sementara itu, reksadana pendapatan tetap mencatatkan kinerja negatif 0,3%, reksadana campuran turun 2%, dan reksadana saham terkoreksi hingga 5,3%.

Deputy CIO Sinarmas Asset Management, Triwira Tjandra, menilai tekanan yang terjadi pada awal tahun bersifat sementara. 


Baca Juga: Garuda Metalindo (BOLT) Catat Pertumbuhan Penjualan 14,6% pada Kuartal I-2026

Kondisi tersebut dipicu kombinasi faktor global seperti suku bunga tinggi lebih lama (higher-for-longer) dan ketegangan geopolitik serta faktor domestik berupa pelebaran defisit dan likuiditas yang sempat ketat pada periode Maret–April.

"Memasuki kuartal III, seiring normalisasi likuiditas dan tetap kuatnya permintaan domestik, yield berpotensi lebih stabil dengan ruang penurunan terbatas, sehingga kinerja reksadana pendapatan tetap cenderung didominasi carry dibanding capital gain," ujar Wira kepada Kontan, Senin (27/4/2026).

Di pasar saham, Wira melihat peluang pemulihan yang masih terbatas secara forward looking pada kuartal III. 

Sentimen positif berpotensi datang dari kejelasan terkait indeks global seperti MSCI yang dapat mengurangi ketidakpastian dan membuka kembali ruang aliran dana asing.

"Namun demikian, kami belum melihat ruang re-rating yang agresif, sehingga pergerakan tetap akan lebih bergantung pada earnings dan bersifat selektif antar sektor," kata Wira.

Dalam kondisi tersebut, ia menyarankan investor menerapkan pendekatan defensif dan selektif dalam berinvestasi di reksadana.

Untuk jangka pendek, reksadana pasar uang dinilai masih menarik sebagai instrumen yang menawarkan stabilitas dan likuiditas. 

Baca Juga: RUPS Perdana Usai IPO, Superbank Putuskan Belum Bagi Dividen

Sementara itu, pada reksadana pendapatan tetap, investor dapat mempertimbangkan durasi pendek hingga menengah dengan fokus pada obligasi korporasi guna menangkap yield yang relatif tinggi dengan volatilitas yang lebih terjaga.

Adapun untuk reksadana saham dan campuran, investor dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap dengan ekspektasi imbal hasil yang lebih moderat dalam jangka menengah hingga panjang.

Secara keseluruhan, strategi utama yang disarankan adalah mengoptimalkan imbal hasil carry sembari menjaga fleksibilitas untuk melakukan masuk bertahap ke aset berisiko.

Dari sisi proyeksi, Wira memperkirakan return reksadana pasar uang berada di kisaran 4,0%–5,5% secara tahunan, sejalan dengan suku bunga dan yield instrumen likuid seperti deposito dan SRBI.

Reksadana pendapatan tetap diproyeksikan mencetak imbal hasil 5%–7%, dengan kontribusi utama berasal dari carry.

Sementara itu, reksadana campuran diperkirakan memberikan return 6%–8,5% dan reksadana saham di kisaran 6,0%–10,0% secara tahunan.

Baca Juga: AKR Corporindo (AKRA) dan BOLT Bakal Bagi Dividen Tunai, Simak Rekomendasi Sahamnya

Namun, seluruh proyeksi tersebut bersifat indikatif dan dapat berubah mengikuti dinamika suku bunga, nilai tukar serta perkembangan global dan domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News