Kinerja Reksadana Domestik Kompak Bullish di Tengah Volatilitas Saham dan Obligasi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana domestik kompak bullish dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, saham dan obligasi justru bergerak volatile.

Direktur PT Infovesta Utama, Parto Kawito, mengatakan, reksadana yang mencatatkan kinerja positif tertinggi adalah reksadana pasar saham yang tumbuh 0,15% secara mingguan (WtW). Disusul reksadana pasar uang 0,09%, reksadana campuran 0,05%, dan reksadana pendapatan tetap 0,03%.

Kinerja reksadana syariah juga dalam tren positif. Reksadana saham syariah tercatat naik 0,85%, lalu reksadana campuran syariah 0,10%, dan pendapatan tetap serta pasar uang syariah masing-masing naik 0,09%.


"Hasil itu didorong sentimen dari domestik yang relatif masih kondusif," tulisnya dalam riset mingguan, Senin (18/3).

Baca Juga: Menata Portofolio di Saat Pasar Berpesta

Dipaparkan, survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masih stabil berada di level optimistis yakni 123,1. Lalu neraca perdagangan Indonesia yang berlanjut mencatat surplus US$ 0,87 miliar, meskipun di bawah konsensus, dan masuknya aliran dana asing ke pasar saham domestik.

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak bearish dengan minus 0,73% ke 7.328,05. Pemberat laju indeks disebabkan oleh sektor keuangan yang turun 1,69% dan sektor energi 0,81%.

Sedangkan dalam level saham, top market laggard dicatatkan oleh BBRI yang turun 5,91%, BREN 9,39%, dan TPIA 7,62%. Investor asing secara akumulasi masih melakukan net buy sebesar Rp 7,39 triliun.

Penurunan itu tak lepas dari rilis survei IKK yang turun ke level 123,1 poin pada Februari 2024 dari 125 di Januari 2024. Meski begitu, IKK tetap tergolong optimistis didorong keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi saat ini maupun ekspektasi terhadap ekonomi ke depan.

Baca Juga: Strategi Alokasi Investasi di Tengah Euforia IHSG, Bitcoin dan Emas

Rilis data neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus sebesar US$ 0,87 miliar, tetapi turun dari bulan sebelumnya sebesar US$ 2,32 miliar. Penurunan tingkat surplus diakibatkan oleh laju impor yang lebih cepat dari nilai ekspor.

Tercatat nilai ekspor mengalami perlambatan menjadi minus 9,45% YoY dari minus 8,20% YoY. Hal ini sejalan dengan lesunya permintaan global terutama dari China yang menjadi negara ekspor terbesar Indonesia. Sedangkan nilai impor meningkat 15,84% YoY dari 0,36% YoY.

Sentimen dari global, harga rumah baru China kembali mengalami peningkatan level deflasi menjadi minus 1,4% YoY dari Januari 2024 minus 0,7% YoY. Penurunan ini menunjukkan daya beli pada sektor properti masih cukup lemah.

Baca Juga: Reksadana Syariah Diprediksi Tumbuh Positif pada Bulan Ramadan

"Meskipun pemerintah telah menggelontrakan paket stimulus pada sektor properti, namun masih belum signifikan mendongkrak peningkatan permintaan pada sektor properti," katanya.

Editor: Noverius Laoli