Kinerja Reksadana Menguat di Agustus 2026, Investor Pantau Dampak RAPBN 2027



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana mulai menunjukkan penguatan pada Agustus 2026. Kondisi tersebut terjadi di tengah perhatian investor terhadap sejumlah katalis domestik, termasuk arah kebijakan pemerintah dalam RAPBN 2027.

Berdasarkan data Infovesta, reksadana saham mencatat return bulanan paling tinggi sebesar 3,60% pada Agustus 2026. Namun, secara YtD reksadana saham masih mencatatkan return negatif 11,60%.

Reksadana campuran mencatatkan return bulanan sebesar 2,71%, dengan kinerja YtD minus 4,88%. Kemudian, reksadana pendapatan tetap tumbuh 1,44% secara bulanan dan mencatatkan return YtD sebesar 0,07%.


Baca Juga: Wall Street Dibuka Datar, Investor Cermati Konflik AS-Iran dan Saham AI

Adapun reksadana pasar uang mencatatkan return bulanan sebesar 0,44% dan menjadi kategori dengan kinerja YtD tertinggi, yakni 2,73%.

Sebagai pembanding, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 4,64% sepanjang Agustus 2026. Meski demikian, indeks masih mencatatkan penurunan 24,53% sejak awal tahun.

Pada kategori reksadana saham, 10 produk dengan kinerja terbaik mencatatkan return YtD di kisaran minus 1,96% hingga positif 19,56%. Secara bulanan, return produk-produk tersebut berada pada rentang 7,15% hingga 13,51%.

Untuk reksadana campuran, 10 produk dengan kinerja terbaik mencatatkan return YtD sebesar 3,31% hingga 8,19%. Secara bulanan, produk-produk tersebut membukukan return 5,31% hingga 11,77%.

Sementara itu, 10 reksadana pendapatan tetap dengan kinerja terbaik mencatatkan return YtD 3,45% hingga 4,41%, dengan return bulanan berada di rentang 2,33% hingga 3,57%.

Pada reksadana pasar uang, 10 produk dengan kinerja terbaik mencatatkan return YtD 3,47% hingga 3,65%. Secara bulanan, return produk-produk tersebut berada di kisaran 0,56% hingga 1,55%.

Senior Vice President Head of Retail, Product Research & Distribution Henan Putihrai Asset Management (HPAM), Reza Fahmi Riawan mengatakan, perbaikan risk appetite terhadap aset domestik turut mendukung kinerja reksadana pada Agustus setelah tekanan pada paruh pertama tahun mulai mereda.

Baca Juga: Laba Semen Indonesia (SMGR) Melesat Jadi Rp 228 Miliar Semester I-2026

Selain perkembangan pasar, arah pertumbuhan ekonomi domestik juga menjadi perhatian dalam melihat peluang kinerja aset investasi, termasuk reksadana.

Menurut Reza, salah satu faktor yang perlu dicermati adalah arah kebijakan pemerintah dalam RAPBN 2027. Sejumlah agenda produktif yang disiapkan pemerintah berpotensi memberikan dukungan terhadap aktivitas ekonomi domestik.

"Prospek pertumbuhan domestik juga menjadi perhatian setelah RAPBN 2027, dengan agenda produktif seperti hilirisasi, food and energy resilience, infrastructure, health," ujar Reza kepada Kontan, Rabu (2/9/2026).

Agenda tersebut dapat menjadi perhatian bagi investor karena berkaitan dengan sektor-sektor yang berpotensi memperoleh dukungan dari belanja dan kebijakan pemerintah.

Selain arah kebijakan fiskal, persepsi terhadap risiko Indonesia juga menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. Reza menyebut keputusan S&P mempertahankan Indonesia pada level investment grade turut mendukung persepsi terhadap aset domestik.

Kondisi tersebut dapat menjadi sentimen tambahan bagi aset domestik yang menjadi underlying sejumlah produk reksadana, terutama reksadana saham dan pendapatan tetap.

Meski begitu, kinerja reksadana tetap akan dipengaruhi perkembangan fundamental dan kondisi pasar. Stabilitas rupiah, arus modal asing, kinerja laba emiten, likuiditas domestik, serta kebijakan moneter menjadi sejumlah faktor yang perlu dicermati.

Dari eksternal, arah kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan geopolitik juga masih berpotensi memengaruhi sentimen investor terhadap aset domestik.

Baca Juga: IHSG Diproyeksi Sideways pada Kamis (3/9/2026), Cermati Sentimen yang Membayangi

Perkembangan pelaksanaan agenda RAPBN 2027 pun menjadi salah satu faktor yang akan menentukan seberapa besar dukungan kebijakan fiskal terhadap aktivitas ekonomi dan pasar investasi domestik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News