KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Kinerja reksa dana mulai menunjukkan perbaikan pada Agustus 2026, seiring rebound pasar saham dan meningkatnya risk appetite investor. Untuk diketahui, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, nilai aktiva bersih NAB reksa dana tercatat sebesar Rp 652,88 triliun rupiah per 31 Agustus 2026 atau meningkat 0,05% MoM. Meski demikian, investor reksadana tercatat membukukan
net redemption sebesar Rp 8,5 triliun secara MoM pada Agustus 2026.
Jika berbicara terkait kinerja
return-nya, empat jenis reksa dana menunjukkan penguatan sepanjang Agustus 2026. Berdasarkan data Infovesta per 31 Agustus 2026, reksa dana campuran mencatat kinerja positif sebesar 2,71% MoM, meski masih terkoreksi 4,88% ytd.
Baca Juga: Reksa Dana Pendapatan Tetap Mulai Menarik, Pasar Saham Berangsur Pulih Penguatan lebih tinggi secara bulanan dicatatkan reksa dana saham, return-nya naik 3,60% pada Agustus 2026. Kendati demikian, indeks tersebut masih menjadi salah satu yang mencatat penurunan terdalam secara YtD, yakni 11,60%. Sementara itu, reksa dana pendapatan tetap membukukan kenaikan 1,44% MoM. Secara YtD, ini relatif stabil dengan mencatat pertumbuhan tipis sebesar 0,07%. Adapun reksa dana pasar uang naik 0,44% MoM sepanjang Agustus 2026. Secara YtD, indeks pasar uang mencatat kinerja positif sebesar 2,73%. Perihal tren pasar reksadana di dalam negeri, CEO Pinnacle Investment Guntur Putra bilang, pihaknya masih memiliki pandangan konstruktif terhadap pasar hingga akhir 2026. Namun, strategi investasi perlu dilakukan dengan lebih hati-hati karena perjalanan pasar diperkirakan tidak akan berjalan linear. “Peluang masih menarik di saham maupun fixed income, tetapi perjalanan pasar kemungkinan tidak akan linear dan volatilitas dapat meningkat sewaktu-waktu,” ujar Guntur kepada Kontan, Senin (7/9/2026). Menurutnya, risiko
market sell-off tetap terbuka apabila terjadi eskalasi geopolitik, kenaikan harga energi, penguatan dolar AS maupun lonjakan kembali
yield global.
Baca Juga: Surya Semesta (SSIA) Turunkan Target Pendapatan ke Rp 7,2 Triliun di 2026 Selain itu, peningkatan kembali inflasi Amerika Serikat (AS) juga menjadi risiko yang perlu dicermati. Jika tekanan inflasi mendorong The Fed mempertahankan kebijakan moneter lebih ketat atau bahkan kembali menaikkan suku bunga, kondisi tersebut dapat memicu sentimen risk-off dan mendorong aliran modal keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, Guntur menyebut reksa dana saham masih menarik bagi investor dengan horizon investasi jangka menengah hingga panjang. Pilihan investasi dapat diarahkan pada emiten berkualitas yang memiliki fundamental kuat dan valuasi menarik. Di sisi lain, instrumen
fixed income juga dinilai masih menawarkan peluang karena memberikan tingkat
carry yang kompetitif. Namun, pengelolaan durasi menjadi semakin penting untuk mengantisipasi perubahan arah suku bunga global. “Strategi investor sebaiknya tidak terlalu agresif mengejar momentum. Kami lebih menyukai akumulasi bertahap, menjaga diversifikasi dan sebagian likuiditas, serta melakukan rebalancing secara disiplin,” jelas Guntur. Lebih lanjut Guntur menjelaskan, secara keseluruhan kinerja reksa dana pada Agustus mencerminkan penguatan saham dan meningkatnya
risk appetite investor. Reksadana campuran dan saham ikut menikmati momentum tersebut, sementara fixed income tetap positif karena level yield obligasi masih memberikan carry yang menarik. Sementara pasar uang, sesuai karakteristiknya, memberikan return yang lebih stabil.
“Kami melihat fondasi ekonomi Indonesia menuju 2027 masih cukup sehat, ditopang likuiditas domestik, disiplin fiskal, serta ruang bagi peningkatan investasi sektor swasta. Perkembangan AI juga mulai menciptakan peluang baru melalui meningkatnya kebutuhan data center, energi, konektivitas, dan infrastruktur digital,” imbuhnya. Namun, Guntur menekankan, investor tetap perlu mencermati yield global yang tinggi, arah dolar AS, serta volatilitas arus modal asing. Rupiah memiliki ruang untuk lebih stabil apabila fundamental domestik tetap terjaga, tetapi faktor global masih dapat menjadi sumber volatilitas.
Baca Juga: Chandra Asri (TPIA) Siap Lunasi Surat Utang Rp 361,48 Miliar Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News