Kinerja Reksadana Saham Turun 21,87%, Ini Prospek Semester II-2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja reksadana saham masih berada dalam tekanan hingga akhir semester I-2026. Pelemahan dipicu kombinasi sentimen global dan domestik yang masih membayangi pasar keuangan.

Berdasarkan data Infovesta, kinerja reksadana saham pada Juni 2026 turun 21,87% secara year to date (YtD) dan terkoreksi 5,11% secara month to month (MoM).

CEO Pinnacle Investment, Guntur Putra menilai koreksi pada Juni merupakan kelanjutan dari tekanan yang telah berlangsung sejak awal tahun.


Baca Juga: SBN Ritel ORI030 Tawarkan Kupon Hingga 7%, Target Penerbitan Capai Rp 20 Triliun

"Selain dipengaruhi oleh ketidakpastian global seperti suku bunga yang masih tinggi dan tensi geopolitik, pasar domestik juga menghadapi berbagai tantangan, mulai dari ketidakpastian arah kebijakan pemerintah, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, hingga potensi penurunan outlook maupun sovereign rating Indonesia," ujar Guntur kepada Kontan, Jumat (3/7).

Menurutnya, kondisi tersebut membuat investor, terutama investor asing, cenderung mengambil sikap hati-hati sehingga arus keluar dana asing masih berlanjut dan pemulihan pasar belum berlangsung secara merata.

Tekanan pasar turut tercermin pada kinerja produk Pinnacle Dana Prima yang mencatatkan penurunan 9,65% secara MoM dan melemah 9,60% secara YtD.

Menghadapi kondisi tersebut, Pinnacle Investment tetap mengedepankan pengelolaan risiko dan pendekatan investasi yang sistematis.

"Kami tetap disiplin berinvestasi pada perusahaan-perusahaan dengan fundamental yang kuat, valuasi yang menarik, serta prospek pertumbuhan jangka panjang yang baik," kata Guntur.

Ia menegaskan, pihaknya tidak mengambil keputusan investasi berdasarkan sentimen jangka pendek. Sebaliknya, perusahaan tetap berpegang pada proses investasi yang terstruktur serta disiplin dalam pengelolaan risiko guna menjaga ketahanan portofolio sekaligus menangkap peluang ketika valuasi menjadi lebih menarik.

Untuk semester II-2026, Guntur memperkirakan prospek pasar saham akan sangat bergantung pada perkembangan kondisi global maupun domestik. Dari dalam negeri, ia menilai kejelasan arah kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang akan menentukan kepercayaan investor.

Baca Juga: Jelang IPO Ditutup, BACH Dinilai Miliki Valuasi Lebih Rendah dari Industri

Menurutnya, komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal, mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah, serta meningkatkan kepercayaan pasar akan menjadi katalis bagi pemulihan pasar saham. Apabila faktor-faktor tersebut membaik, peluang rebound dinilai semakin terbuka mengingat valuasi saham Indonesia saat ini sudah lebih menarik dibandingkan awal tahun.

Dari sisi strategi investasi, Guntur menyarankan investor tetap menyesuaikan penempatan dana dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing. Bagi investor yang membutuhkan likuiditas tinggi atau memiliki profil risiko konservatif, reksadana pasar uang masih menjadi pilihan karena menawarkan stabilitas di tengah ketidakpastian pasar.

Sementara itu, investor dengan horizon investasi jangka panjang dapat mulai melakukan akumulasi secara bertahap di reksadana saham melalui strategi regular investing. Pendekatan tersebut dinilai dapat membantu investor memperoleh harga rata-rata investasi yang lebih baik tanpa harus menebak titik terendah pasar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News