KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Kinerja saham perbankan terutama di big banks terlihat kompak menguat jelang akhir pekan ini atau pada penutupan perdagangan Jumat (20/2/2026). Kenaikan tertinggi terjadi pada saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) sebesar 1,86% ke level Rp 3.840 per saham. Adapun pada pembukaan perdagangan, sahamnya menguat di level Rp 3.790 per saham, dan selama sepekan terakhir harga sahamnya juga naik 1,59%. Di susul saham PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) yang naik 0,99% ke level Rp 5.125 per saham. Kinerja sahamnya juga menguat pada pembukaan perdagangan hari ini di level Rp 5.100, dan selama sepekan sahamnya naik 0,99%.
Baca Juga: Kredit Menganggur Perbankan Tembus Rp 2.506 Triliun, Ini Penyebabnya Lebih lanjut, saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) naik 0,70% ke level Rp 7.225 per saham. Pada pembukaan perdagangan sahamnya sempat dibuka di level Rp 7.175 per saham. Selama sepekan sahamnya juga naik tipis 0,35% Harga saham bank pelat merah berikutnya yakni PT Bank Negara Indonesia (BBNI) naik 20 poin atau 0,45% ke level Rp 4.470 per saham. BBNI sempat dibuka di level Rp 4.520. Namun selama sepekan terakhir sahamnya susut 0,22%.
Head of Online Trading BCA Sekuritas Achmad Yaki menilai, saham perbankan dalam seminggu terkahir cenderung flat dalam tiga hari perdagangan terakhir. "Tekanan jual Asing masih besar terutama di BBCA dan BBNI," kata Yaki kepada kontan.co.id, Jumat (20/2). Walau demikian, Yaki memproyeksikan prospek kedepan masih optimis bisa tumbuh meski masih di
range high single digit sampai
low double digit. Menurutnya, semua bank himbara dan BBCA menarik untuk investasi menengah dan panjang, namun kalau fokus trading bisa juga terutama di saham bank himbara. Yaki juga turut merekomendasikan saham BBNI
trading buy TP Rp 4.630, BBRI
trading buy TP Rp 4.040, BBTN
trading buy TP Rp 1.460, BMRI
trading buy TP Rp 5.475, dan BBCA
Buy On Weakness TP Rp 8.700 per saham. Adapun Senior Market Chartist Nafan Aji Gusta dari Mirae Asset Sekuritas Indonesia menilai prospek sektor perbankan nasional dinilai masih cukup solid meski dibayangi dinamika likuiditas dan persaingan dana pihak ketiga. Menurutnyaa, margin bunga bersih
(net interest margin/NIM) perbankan masih dapat terjaga dalam periode mendatang. Menurut Nafan, kondisi tersebut didukung oleh suku bunga kredit yang relatif masih tinggi, sementara kenaikan bunga simpanan mulai melandai. “Net interest margin perbankan masih bisa dijaga. Yang penting bunga kredit masih relatif tinggi, sementara kenaikan bunga simpanan mulai melandai,” ujarnya. Ia menekankan kualitas aset tetap menjadi faktor krusial. Rasio kredit bermasalah (
non performing loan/NPL) harus dijaga rendah agar ketahanan industri perbankan tetap kuat. “NPL ini penting. Kalau kualitas aset bagus, itu menandakan perbankan masih resilient ke depan,” katanya. Selain itu, sejumlah bank dinilai masih mampu menjaga daya tarik bagi investor, antara lain melalui pembagian dividen yang konsisten serta fundamental kinerja yang relatif stabil. Dari sisi kinerja, pertumbuhan kredit perbankan sepanjang 2025 disebut masih solid dengan kenaikan dua digit, meski rata-rata berada di kisaran sekitar 10%–12%. Menurut Nafan, capaian tersebut menunjukkan permintaan kredit tetap terjaga di tengah kondisi ekonomi yang fluktuatif. Transformasi digital juga menjadi pendorong penting kinerja perbankan. Berbagai inovasi layanan digital, termasuk yang dikembangkan oleh Bank Mandiri dan Bank Rakyat Indonesia, membantu meningkatkan transaksi nasabah sekaligus memperbesar pendapatan berbasis komisi (
fee based income). “Transaksi digital meningkat sehingga
fee based income ikut naik. Ini penting supaya bank tidak hanya bergantung pada pendapatan bunga,” jelasnya. Lebih lanjut, ia melihat kebijakan restrukturisasi kredit yang mulai dinormalisasi menjadi sinyal positif terhadap kemampuan bayar debitur. Hal tersebut tercermin dari penurunan rasio risiko kredit dan perbaikan indikator kualitas pinjaman. Meski demikian, tantangan likuiditas masih perlu dicermati. Persaingan penghimpunan dana pihak ketiga dinilai masih cukup ketat sehingga bank perlu menjaga strategi pendanaan agar tetap efisien. Nafan pun merekomendasikan saham BBCA dengan
accumulative buy TP Rp 7.650, saham BBNI
accumulative buy TP Rp 4.510, BBRI
accumulative buy TP Rp 3.910 per saham, dan BMR
I accumulative buy TP Rp 5.000 per saham.
Baca Juga: Kredit Menganggur di Perbankan Masih Menggunung pada Awal Tahun Ini Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News