Kinerja sektor alat berat bertambah kuat



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Membaiknya harga komoditas batubara memberi sentimen positif pada emiten alat berat. Kinerja emiten alat berat kembali positif.

Ambil contoh, PT United Tractors Tbk (UNTR), yang meraih pendapatan bersih Rp 46,25 triliun, atau naik 36,47% year on year (yoy). Laba bersih emiten ini juga naik jadi Rp 5,6 triliun dari sebelumnya Rp 3,12 triliun. UNTR optimistis bisa menjual 3.200 unit alat berat hingga akhir 2017.

Sementara itu, PT Intraco Penta Tbk (INTA) juga membukukan kenaikan pendapatan usaha sebesar 47,96% yoy menjadi Rp 1,52 triliun. Kinerja ini ditopang penjualan alat berat dan suku cadang yang melejit hingga 74% yoy.


Sayangnya, bisnis pembiayaan yang sebelumnya memberi pendapatan, kini justru menyumbang beban buat INTA. Sehingga, INTA harus menanggung kerugian Rp 155,79 miliar.

Kinerja PT Hexindo Adiperkasa Tbk (HEXA) juga meningkat. Dari laporan tahun buku semester I-2017 yang berakhir pada 30 September lalu, HEXA mencetak kenaikan pendapatan 30,03% yoy menjadi US$ 157,45 juta. Laba HEXA juga tumbuh 59,07% menjadi US$ 9,79 juta.

Investor Relation INTA Ferdinand Dion mengatakan, membaiknya harga komoditas dan momentum pembangunan infrastruktur Indonesia mendorong lonjakan penjualan alat berat. "Dengan target kelistrikan 35.000 MW, permintaan batubara naik," ujar dia, Rabu (8/11). INTA pun memasang target pertumbuhan pendapatan 20% pada tahun ini.

Analis Binaartha Parama Sekuritas Muhammad Nafan Aji mengatakan, saat ini China banyak melakukan kegiatan industri manufaktur yang membuat permintaan batubara secara global meningkat. Percepatan pembangunan infrastruktur juga mendorong prospek sektor ini.

Direktur Investa Saran Mandiri Hans Kwee mengatakan, kinerja gemilang sektor alat berat masih bisa berlanjut hingga tahun depan. Hanya saja, pertumbuhan kinerja sektor ini di 2018 tak akan setinggi tahun ini.

Menurut dia, banyak tambang yang sebelumnya tidak beroperasi, di tahun ini mulai produksi lagi. Sehingga, kebutuhan alat berat meningkat cukup besar. "Tapi pada tahun depan, perusahaan tambang akan lebih banyak menjaga produksi saja," ujar Hans, Selasa (7/11).

Saham pilihan

Hans menilai, saham UNTR paling menarik dikoleksi. Ini karena UNTR masih menjadi penguasa pasar di sektor ini. Sementara itu, Nafan mencatat price to earning ratio (PER) UNTR sebesar 17,58 kali, sehingga harga saham ini masih terdiskon. Secara teknikal, UNTR masih channeling up, sehingga investor bisa maintain buy dengan target harga Rp 39.500.

Menurut Hans, saham HEXA juga masih murah dengan PER 12,38 kali. Secara teknikal, HEXA terkonsolidasi dalam rentang harga Rp 3.500–Rp 3.660. Sebaliknya, harga saham INTA saat ini dinilai sudah terlalu tinggi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati