Kinerja SMGR Mulai Membaik, Namun Tantangan Industri Semen Belum Mereda



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencatat kinerja keuangan yang positif pada kuartal I-2026 dengan membukukan laba bersih setelah pajak atau net profit after tax (NPAT) sebesar Rp80 miliar.

Capaian tersebut menunjukkan pertumbuhan signifikan, yakni naik 89% secara tahunan (year on year/YoY) dan meningkat 6% secara kuartalan (quarter on quarter/QoQ). Meski demikian, realisasi laba tersebut masih dinilai berada di bawah ekspektasi pasar.

Laba SMGR di Bawah Ekspektasi Analis


Dalam riset tertanggal 30 April 2026, analis UBS Sekuritas Indonesia Ivan Reynaldo Sutheja menilai bahwa kinerja laba kuartal I-2026 baru mencerminkan sekitar 15% dari estimasi tahunan UBS dan 11% dari konsensus pasar.

"Kontribusi laba kuartal I-2026 juga lebih rendah dibandingkan pola musiman kuartal I-2025 yang mencapai 22%," tulis Ivan dalam risetnya.

Menurut Ivan, tekanan terhadap laba terutama dipicu kenaikan tarif pajak efektif yang mencapai 57% pada kuartal I-2026, jauh di atas estimasi UBS sebesar 31%.

Selain itu, biaya tunai per ton juga tercatat meningkat 8% YoY. Kenaikan ini lebih cepat dari proyeksi sebelumnya yang diperkirakan baru akan terjadi pada kuartal II hingga kuartal IV-2026.

Baca Juga: Rupiah dan Rupee Sentuh Rekor Terburuk Sepanjang Masa, Ini Sentimen yang Menyeretnya

Pendapatan Masih Tumbuh Solid

Di sisi lain, pendapatan PT Semen Indonesia Tbk masih menunjukkan tren perbaikan. UBS mencatat pendapatan perseroan tumbuh 8% YoY dan sedikit melampaui estimasi internal maupun konsensus pasar.

Pertumbuhan tersebut ditopang oleh kenaikan penjualan domestik sebesar 7,7% YoY, yang berasal dari peningkatan volume 5,4% serta kenaikan average selling price (ASP) sebesar 2,2%.

"Kinerja ini mencerminkan kemajuan dari upaya restrukturisasi perusahaan," ujar Ivan.

Proyeksi Kinerja Kuartal II-2026

Investment Analyst Infovesta Utama Ekky Topan menilai kinerja SMGR pada kuartal II-2026 berpotensi membaik secara bertahap, seiring pemulihan permintaan semen domestik.

"Jika tren pemulihan permintaan domestik berlanjut pada kuartal II, didukung realisasi proyek konstruksi dan perbaikan distribusi, maka pendapatan SMGR masih berpeluang melanjutkan pertumbuhan," kata Ekky Topan kepada Kontan, Senin (18/5/2026).

Namun demikian, ia menegaskan bahwa perbaikan kinerja masih menghadapi sejumlah tantangan, terutama efisiensi biaya dan tingginya persaingan di industri semen yang masih mengalami kondisi oversupply.

Kenaikan biaya energi dan bahan bakar juga dinilai berpotensi menekan margin perseroan sepanjang tahun ini.

Sentimen yang Perlu Dicermati Investor

Ekky menambahkan, terdapat beberapa sentimen utama yang perlu diperhatikan investor pada kuartal II-2026, antara lain:

  • Keberlanjutan pemulihan permintaan semen domestik
  • Arah biaya energi dan logistik
  • Realisasi belanja infrastruktur pemerintah
  • Persaingan harga di tengah kondisi overcapacity industri semen

 
SMGR Chart by TradingView

Rekomendasi Saham SMGR

Dari sisi pasar saham, Ekky menilai SMGR masih menarik untuk strategi trading jangka pendek karena valuasinya yang relatif murah. Saham SMGR diproyeksikan berpotensi menguji level Rp2.150 sebagai target terdekat, dengan target swing di kisaran Rp2.300–Rp2.400 per saham.

Sementara itu, Ivan dari UBS Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan rekomendasi netral untuk saham PT Semen Indonesia Tbk dengan target harga Rp2.700 per saham.

Dengan kondisi tersebut, prospek SMGR ke depan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika permintaan domestik, tekanan biaya, serta efektivitas strategi efisiensi perusahaan di tengah kompetisi industri semen yang ketat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News