KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Surya Semesta Internusa Tbk (
SSIA) diperkirakan membaik pada 2026. Penjualan lahan industri yang berpotensi meningkat, didukung pengembangan kawasan Subang Smartpolitan dan beroperasinya pabrik BYD, diyakini menjadi pendorong utama pertumbuhan pendapatan dan laba perseroan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, berpandangan target penjualan lahan SSIA tahun ini sebesar 135 hektare memang cukup agresif dibandingkan realisasi tahun sebelumnya, namun masih memiliki peluang untuk dicapai apabila momentum investasi asing langsung (FDI) tetap berlanjut.
Baca Juga: Laba TOTL Melonjak 56% di 2025, Simak Rekomendasi Analis Dari target tersebut, sekitar 8 hektare diperkirakan berasal dari sisa cadangan lahan (land bank) di kawasan Suryacipta City of Industry Karawang (dibandingkan 6 hektare yang terjual pada kuartal I-2026). Sementara itu, kawasan Subang Smartpolitan diproyeksikan menyumbang sekitar 119 hektare, setelah membukukan penjualan sekitar 2 hektare pada kuartal I-2026. Selain itu, keberadaan pabrik BYD yang telah mulai beroperasi menjadi katalis penting karena berpotensi menciptakan multiplier effect bagi kawasan industri. Menurut Nafan, kehadiran produsen kendaraan listrik umumnya akan diikuti oleh pemasok komponen (tier-1 maupun tier-2), perusahaan logistik, hingga penyedia jasa pendukung. Hal ini dapat meningkatkan daya tarik kawasan Subang sebagai pusat manufaktur baru. “Selain itu, meningkatnya permintaan dari sektor data center juga menjadi katalis struktural. Indonesia masih menjadi salah satu tujuan ekspansi operator pusat data di kawasan Asia Tenggara seiring pertumbuhan ekonomi digital, sehingga kebutuhan lahan industri dengan infrastruktur memadai diperkirakan tetap kuat,” ujar Nafan kepada Kontan, Selasa (28/7/2026).
Baca Juga: IHSG Diproyeksi Melemah Terbatas, Cermati Saham Rekomendasi Analis, Senin (9/2) Senada, Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa, juga mencatat manajemen SSIA menargetkan
marketing sales yang signifikan pada tahun buku 2026 ini, terutama didukung oleh permintaan yang tertunda (carryover demand) dari tahun sebelumnya. “Didukung oleh nilai tukar dolar AS terhadap rupiah yang lebih kuat pada tahun ini, kami memperkirakan perseroan mampu membukukan
average selling price (ASP) yang lebih tinggi, meningkat dari Rp 1,9 juta per meter persegi menjadi sekitar Rp 2 juta per meter persegi,” ungkap Yasmin. Tak hanya itu saja, Yasmin juga mencatat SSIA telah menyelesaikan exit ramp sementara yang terhubung langsung ke fasilitas BYD guna meningkatkan aksesibilitas tenant, sambil menunggu pembangunan Jalan Tol Patimban selesai.
Terpantau pengembangan infrastruktur juga terus memberikan dukungan. Jalan Tol Patimban saat ini masih dalam tahap pembangunan dan ditargetkan rampung pada kuartal II hingga kuartal III 2027. Di sisi lain, pembangunan paket 5 dan 6 Pelabuhan Patimban ditargetkan selesai pada akhir 2026.
Baca Juga: Proyeksi IHSG di Tengah Sentimen Kebijakan Bank Sentral dan Saham Rekomendasi Analis Lebih lanjut, Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim, berpandangan SSIA berada pada posisi yang tepat untuk memanfaatkan berkembangnya industri manufaktur kendaraan listrik (electric vehicle/EV) di Indonesia melalui kawasan industri Subang. Di saat yang sama, peningkatan porsi pendapatan berulang (
recurring income) diperkirakan akan memperbaiki visibilitas laba dan menjaga stabilitas arus kas perseroan dalam jangka panjang. “Risiko utama yang perlu dicermati meliputi penjualan lahan yang lebih rendah dari ekspektasi, keterlambatan pembangunan infrastruktur pendukung Patimban, serta perlambatan pengembangan ekosistem kendaraan listrik di kawasan Subang,” jelas Kevin. Kevin pun memperkirakan kinerja laba SSIA akan berbalik mencetak keuntungan pada tahun 2026 setelah sebelumnya mengalami rugi, didorong oleh pemulihan penjualan lahan industri dan dibukanya kembali hotel Paradisus Bali. Senada dengan Kevin, dari sisi keuangan Yasmin memperkirakan pendapatan SSIA diperkirakan meningkat 28,5% secara tahunan (YoY) dari Rp 4,43 triliun pada 2025 menjadi Rp 5,69 triliun pada 2026.
Ada pun SSIA diproyeksikan berbalik mencetak laba bersih sebesar Rp 300 miliar pada 2026, setelah membukukan rugi bersih Rp 89 miliar pada 2025. Melihhat berbagai faktor di atas, Yasmin merekomendasikan investor untuk buy saham SSIA dengan target harga Rp 2.080 per saham. Kemudian Kevin juga memberikan rekomendasi untuk buy saham SSIA dengan target harga Rp 1.660 per saham. Sementara itu, Nafan masih memberikan rekomendasi untuk
wait and see terhadap saham SSIA. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News