KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Tiga emiten menara telekomunikasi terbesar di Indonesia kompak mencetak pertumbuhan kinerja pada 2025 di tengah konsolidasi operator telekomunikasi, khususnya XL Axiata dengan Smartfren. PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG), misalnya, yang membukukan pendapatan sebesar Rp 6,9 triliun di 2025. Ini tumbuh 0,61% secara tahunan atau year on year (YoY) dari Rp 6,86 triliun. Dari sisi bottom line, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk TBIG mencapai Rp 1,48 triliun yang naik 4,78% secara tahunan dari Rp 1,42 triliun.
CEO Tower Bersama Infrastructure Hardi Wijaya Liong bilang setelah penggabungan XL Axiata dan Smartfren, yang membentuk XLSmart, terdapat beberapa kontrak sewa yang tidak diperpanjang saat masa berlaku berakhir. “Sehingga menyebabkan penurunan jumlah penambahan kontrak sewa bersih pada 2025,” jelasnya. Hardi belum lama ini.
Baca Juga: Fundamental Ekonomi dan Kinerja Emiten Jadi Penentu Kinerja Reksadana Saham Namun sepanjang 2025, kata Hardi, TBIG mampu menambahkan 1.280 penyewaan kotor yang terdiri dari 797 site telekomunikasi dan 483 kolokasi ke portofolio. Secara akumulasi sampai dengan 31 Desember 2025, TBIG memiliki 41.892 penyewaan dan 24.321 site telekomunikasi. Total penyewaan pada menara telekomunikasi mencapai 41.892. Kinerja positif juga ditorehkan oleh PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) alias Mitratel. Emiten pelat merah ini meraup pendapatan sebesar Rp 9,53 triliun atau tumbuh 2,43% YoY. Dari sisi bottom line, laba tahun berjalan Mitratel masih mampu tumbuh 0,55% secara tahunan dari Rp 2,10 triliun di 2024 menjadi Rp 2,11 triliun di sepanjang 2025. Secara operasional, Mitratel mengoperasikan 40.230 menara hingga akhir 2025. Jumlah kolokasi meningkat signifikan menjadi 22.854 atau tumbuh 11,7% secara tahunan. Direktur Utama Mitratel Theodorus Ardi Hartoko mengatakan pencapaian kinerja di 2025 menunjukkan ketahanan dan relevansi strategi jangka panjang Mitratel. "Kami secara disiplin mengeksekusi strategi untuk mengoptimalkan bisnis menara sebagai core serta mempercepat pengembangan fiber sebagai enabler utama ekosistem digital,” jelasnya. MTEL akan terus memperkuat posisi sebagai next-generation tower company melalui optimalisasi utilisasi aset, peningkatan kolokasi, serta ekspansi layanan infrastruktur digital berbasis kebutuhan pelanggan.
Baca Juga: Pefindo Beri Peringkat idA untuk Prime Agri Resources (SGRO), Prospek Stabil Pria yang akrab dipanggil Teddy ini bilang manajemen Mitratel melihat peluang pertumbuhan yang semakin besar seiring meningkatnya kebutuhan konektivitas nasional. PT Sarana Menara Nusantara Tbk (TOWR) juga berhasil mencetak pertumbuhan kinerja di 2025. Laba yang dapat diatribusikan kepada entitas induk TOWR tumbuh 10,28% YoY menjadi Rp 3,67 triliun. Dari sisi top line, TOWR berhasil mengantongi pendapatan sebesar Rp 13,32 triliun atau tumbuh 4,65% YoY dari Rp 12,73 triliun. Pundi-pundi cuan TOWR paling besar masih berasal dari pendapatan sewa. Sepanjang 2025, TOWR mengoperasikan sebanyak 36.247 menara atau tumbuh 2,4% YoY. Di sisi lain, total tenant TOWR mencapai 60.540, yang tumbuh 4,3% secara tahunan. Berdasarkan raihan kinerja 2025, Equity Research Indo Premier Aurelia Barus dan Belva Monica mempertahankan proyeksi laba TBIG di kisaran Rp 1,48 triliun di 2026 dan Rp 1,5 triliun di 2027. Namun mereka tetap berhati-hati karena dampak merger XLSmart belum sepenuhnya tercermin. Ini berpotensi menimbulkan risiko penurunan mengingat portofolio TBIG yang besar di Jawa dan eksposur pendapatan yang signifikan. “Di sisi positif, pesanan FWA setelah kemenangan spektrum 1,4 GHz oleh Solusi Sinergi Digital dan MyRepublic dapat menjadi katalis positif,” tulis Aurelia dan Belva dalam risetnya.
Baca Juga: Saham-Saham Produsen Emas Bangkit, Simak Prospeknya Menurut Analis Sementara untuk TOWR, Aurelia dan Belva menilai ada potensi risiko kenaikan meliputi pesanan menara yang lebih tinggi dari perkiraan dari operator seluler dan implementasi FWA yang lebih kuat.
Untuk MTEL, Aurelia dan Belva memperkirakan peningkatan jumlah tenant sebesar 5% YoY, dengan rasio tenancy naik menjadi 1,59 kali yang didorong oleh pesanan kolokasi dari XLSmart. Mereka memproyeksikan EBITDA MTEL tumbuh 5% YoY, dengan margin sedikit pulih ke 84%. Menurutnya, peningkatan margin akan berasal dari rasio tenancy menara yang lebih tinggi dan normalisasi atribusi bisnis terkait menara. Lebih lanjut, Indo Premier Sekuritas merekomendasikan beli MTEL dengan target harga di Rp 760, beli TOWR dengan target harga di Rp 940, dan menyarankan hold TBIG dengan target harga di Rp 1.400. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News