Kinerja Telkom (TLKM) Masih Dibayangi Tekanan Daya Beli, Intip Prospeknya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) masih mampu mencetak pertumbuhan pendapatan sepanjang sembilan bulan pertama 2026. Meski demikian, tekanan daya beli membayangi kinerja emiten pelat merah ini.  

Per September 2026, TLKM membukukan pendapatan konsolidasi sebesar  Rp 113,5 triliun. Ini tumbuh 3,5% secara tahunan secara tahunan atau Year on Year (YoY) dari Rp 109,61 triliun. 

Pertumbuhan tersebut terutama ditopang bisnis Data, Internet & IT Services yang meningkat 8,3% secara tahunan menjadi Rp 71,5 triliun hingga akhir September 2026.


Sementara itu, Telkom mencatat EBITDA Rp 55,5 triliun, naik 2% secara tahunan, dengan margin 48,9%. Laba bersih TLKM tercatat turun 3,89% YoY menjadi Rp 14,4 triliun. 

Baca Juga: Pemulihan Kimia Farma (KAEF) Belum Stabil, Beban Keuangan Jadi Tantangan

Direktur Utama Telkom Nanang Hendarno menyampai pihaknya melanjutkan strategi TLKM 30 dengan memperkuat bisnis inti dan menjalankan transformasi untuk menopang pertumbuhan jangka panjang.

“Kami melihat konsumsi masyarakat terhadap layanan data terus meningkat. Ini merupakan peluang bagi TelkomGroup untuk terus mengembangkan bisnis,” katanya belum lama ini. 

Pada segmen B2C, pendapatan mencapai Rp 81,6 triliun, tumbuh 3,5% secara tahunan. Sementara itu, pendapatan Telkomsel naik 1,8% menjadi Rp 82,9 triliun sepanjang periode tersebut.

Sementara, bisnis digital Telkomsel tumbuh 7,7% menjadi Rp 60,7 triliun, sementara ARPU seluler meningkat 7,1% menjadi Rp 45.400 dan data yield naik 6,5% secara tahunan.

Pendapatan IndiHome tercatat Rp 19,1 triliun. Pelanggan meningkat 1,2% secara kuartalan menjadi 9,63 juta, sedangkan ARPU naik 3,2% menjadi Rp 217.700 pada kuartal ketiga.

Segmen B2B Infrastructure membukukan pendapatan Rp 7,1 triliun, tumbuh 5,5% secara tahunan, didukung layanan data center, konektivitas, serta penyewaan infrastruktur milik TelkomGroup sepanjang periode tersebut.

Baca Juga: IHSG Anjlok 3,78% ke Bawah 5.000, Analis Ungkap Level Kritis Berikutnya

PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) mencatat pendapatan Rp 7,01 triliun, tumbuh 1,8%. EBITDA mencapai Rp 5,81 triliun. Sementara, laba bersih tercatat Rp 1,55 triliun hingga September tahun ini.

Berikutnya, NeutraDC membukukan pendapatan Rp 1,39 triliun, tumbuh 17% secara tahunan. EBITDA meningkat 35% dengan margin 40,9%, ditopang bisnis data center Singapura dan Cikarang.

Segmen B2B ICT mencatat pendapatan Rp 11,2 triliun, meningkat 3,1%. Bisnis UKM menjadi pendorong dengan pendapatan Rp 3,3 triliun, tumbuh 10,2% secara tahunan.

Segmen internasional juga tumbuh 5,8% menjadi Rp 8,9 triliun, terutama didukung pendapatan jaringan yang melonjak 50,2% menjadi Rp 1,37 triliun hingga September 2026.

Nanang bilang, pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam merupakan bagian dari upaya memperkuat infrastruktur digital Indonesia serta meningkatkan peran dalam konektivitas regional dan global.

“Pertumbuhan bisnis konektivitas internasional, termasuk pengembangan jaringan kabel laut dan hub Batam, menjadi bagian dari upaya TelkomGroup memperkuat infrastruktur digital Indonesia,” tuturnya. 

Hingga kuartal III-2026, Telkom telah menata 14 entitas, terdiri dari divestasi tiga entitas, penutupan sembilan entitas, serta penggabungan dua entitas dalam grup.

 
TLKM Chart by TradingView

Dari sisi anggaran belanja modal alias capital expenditure (capex), TLKM telah menyerap  Rp 15,7 triliun dengan rasio capex terhadap pendapatan 13,8%. Sebanyak 94,3% belanja modal dialokasikan untuk B2C dan B2B Infrastructure.

Equity Research Analyst Sucor Sekuritas Niko Pandowo mencermati tekanan kinerja kuartal III-2026 terutama berasal dari komponen non-inti, termasuk kerugian kurs dan pajak pengalihan aset.

“Kenaikan beban umum dan administrasi serta biaya interkoneksi turut menekan profitabilitas, bahkan melampaui pertumbuhan pendapatan perseroan pada kuartal ketiga tahun ini,” tulisnya dalam riset yang dirilis, Selasa (3/11/2026).

Niko juga menyoroti perkembangan ARPU seluler yang tumbuh secara tahunan, tetapi mengalami penurunan secara kuartalan di tengah pelemahan daya beli masyarakat.

“Kenaikan ARPU secara tahunan didukung disiplin harga, sedangkan pelemahan kuartalan mencerminkan faktor musiman dan daya beli masyarakat yang lebih rendah,” katanya. 

Di tengah tekanan daya beli, Sucor Sekuritas tetap positif terhadap prospek TLKM dan menaikkan rekomendasi saham menjadi beli dengan target harga Rp 2.500 per saham.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News