KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) belum berhasil kembali ke level Rp 7.000. BBCA menutup perdagangan Senin (20/4) dengan menguat 0,78% atau naik 50 poin ke level Rp 6.475 per saham.
Jika ditarik lebih jauh, saham bank berlogo bunga cengkeh itu sudah terkoreksi 19,81% secara year to date. Anjloknya saham BBCA turut menjadi pemberat bagi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Dengan pelemahan yang hampir 20% itu, BBCA sudah menggerus IHSG sebesar 151,62 poin sepanjang 262 berjalan. Ini menjadikan BBCA saham pemberat nomor satu bagi IHSG.
Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nico Demus mengatakan sejauh ini memang tekanan saham BBCA lebih kepada keluarnya investor asing.
Baca Juga: Astra Graphia (ASGR) Tebar Dividen di Atas Laba, Seberapa Menarik Sahamnya? Dalam catatan Nico, dalam satu bulan terakhir hingga per Senin (20/4), investor asing sudah keluar sebanyak Rp 3,5 triliun. Menurutnya, itu merupakan angka yang tergolong besar bagi BBCA. “Dari sisi kinerja, walaupun masih di bawah target manajemen tetapi capaian Februari 2026 sudah merupakan sesuatu yang baik adanya di tengah situasi dan kondisi yang terjadi saat ini,” katanya kepada Kontan, Senin (20/4). Laba bersih secara individual BBCA pada Februari 2025 mencapai Rp 4,22 triliun atau turun 15,39% secara bulanan. Secara akumulasi, Januari–Februari 2026, laba BBCA mencapai Rp 9,22 triliun atau tumbuh 2,81%. Dari sisi top line, pendapatan bunga BBCA tumbuh 0,78% menjadi Rp 14,98 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit BBCA bergerak lambat yang hanya tumbuh 4,84% secara tahunan menjadi Rp 953,22 triliun. “Namun keluarnya investor asing lebih disebabkan karena adanya penurunan outlook dari stabil menjadi negatif yang dikeluarkan oleh Fitch,” jelasnya kepada Kontan, Senin (20/4). Tak hanya itu, Nico mencermati dengan level NPL yang berada di 1,7% membuat BBCA menjadi salah satu bank yang sehat. Apalagi, BBCA punya segmentasi konsumen yang memang hanya untuk BBCA. “BBCA mampu memanjakan ritel dan juga korporasi dalam hal pengembangan infrastruktur teknologi digital untuk BCA Banking, yang menjadi katalis positif bagi perbankan,” katanya.
Nico menyoroti transmisi kebijakan moneter yang berjalan lambat menjadi penghambat prospek BBCA. Namun dia masih merekomendasikan beli BBCA dengan target harga di Rp 9.600. Sementara itu, Equity Research CGS Internasional Sekuritas Handy Noverdanius dan Owen Tjandra telah memangkas proyeksi Earning per Share (EPS) BBCA untuk tahun 2025 dan 2026 masing-masing sebesar 2% dan 3%.
“Untuk mencerminkan asumsi
NIM yang lebih rendah sehingga menghasilkan target harga berbasis GGM (Gordon Growth Model) yang lebih rendah di level Rp 10.000 per saham,” tulisnya dalam riset. Meski demikian, CGS Internasional Sekuritas tetap mempertahankan rekomendasi Add karena Handy dan Owen menilai BBCA masih akan mampu membukukan kinerja yang solid dengan fundamental yang kuat. Mereka menjelaskan potensi re-rating bisa terjadi, apabila yield kredit dan permintaan kredit yang lebih baik dari perkiraan. Selain itu, perbaikan sentimen makro juga berpotensi mendorong re-rating.
Baca Juga: Jelang RDG BI, Begini Proyeksi Rupiah untuk Besok (21/4) Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News