Kinerja Tripar Multivision (RAAM) Membaik di Semester I-2026, Pendapatan Tumbuh 14,7%



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Tripar Multivision Plus Tbk (RAAM) mencatat perbaikan kinerja sepanjang semester I-2026. Pencapaian ini didukung oleh penayangan film di bioskop yang lebih kuat, peningkatan monetisasi pustaka konten, serta kemajuan berkelanjutan dalam optimalisasi struktur permodalan.

Mengutip siaran pers pada Senin (3/8/2026), RAAM membukukan pendapatan konsolidasian sebesar Rp 128,6 miliar pada semester I-2026, naik 14,7% dari Rp 112,1 miliar pada semester I 2025. 

Laba kotor juga naik hampir dua kali lipat menjadi Rp52,6 miliar, tumbuh 91,2% secara tahunan, sementara margin laba kotor melebar menjadi 40,9% dari 24,5% pada periode yang sama tahun sebelumnya. 


Baca Juga: Marketing Sales Lippo Karawaci (LPKR) Capai Rp 3,7 Triliun pada Semester I-2026

Beban umum dan administrasi juga turun 15,6%, sehingga RAAM berhasil membukukan laba operasional sebesar Rp6,3 miliar, dibandingkan rugi operasional Rp27,3 miliar pada semester I-2025.

Direktur dan Chief Financial Officer RAAM Vikas Chand Sharma, menyatakan perbaikan ini terlihat jelas pada kuartal kedua, ketika pendapatan naik menjadi sekitar Rp80,4 miliar dan EBITDA mencapai sekitar Rp22,2 miliar, dibandingkan rugi EBITDA pada kuartal pertama. Bisnis film tetap menjadi pendorong utama pertumbuhan Perseroan. 

“Pendapatan film naik 30,4% secara tahunan menjadi Rp74,4 miliar, didukung oleh membaiknya performa penayangan di bioskop domestik dan regional. Cerita Lila berhasil menembus satu juta penonton bioskop di Indonesia, sementara Sengkolo 2 melampaui ekspektasi Perseroan di Malaysia dan menambah pendapatan box office internasional,”  ungkap Vikas, dalam keterangannya. RAAM tercatat meraih pendapatan sebesar Rp6,75 miliar dari serial televisi selama periode ini. Selain dari rilis film baru, RAAM juga mencatatkan pendapatan yang lebih kuat dari monetisasi pustaka kontennya yang luas. 

Hasil ini mencerminkan pemanfaatan yang semakin optimal atas portofolio kekayaan intelektual Perseroan, mulai dari televisi, platform digital, perjanjian lisensi, hingga kanal distribusi lainnya. 

“Hasil semester pertama ini menunjukkan bahwa fundamental operasional RAAM semakin kuat. Perbaikan performa penayangan film kami, ditambah monetisasi pustaka konten yang lebih tinggi, mendorong pemulihan signifikan pada laba kotor dan EBITDA,” tambahnya.

Baca Juga: Menhub Tinjau Evakuasi KM Mutiara Sentosa II, Investigasi Kebakaran Segera Dimulai Sepanjang semester I 2026, RAAM melepas kepemilikan sahamnya di PT Ciputra Multivision Nusantara sebagai bagian dari strategi alokasi modal dan penurunan utang Perseroan secara lebih luas. 

Dana hasil transaksi ini digunakan untuk mengurangi pinjaman bank yang masih berjalan dan diperkirakan menekan beban bunga tahunan sekitar Rp11 miliar. Alhasil, utang bersih RAAM turun menjadi sekitar Rp304,4 miliar per Juni 2026, dari Rp403,0 miliar pada akhir Maret 2026. 

Rasio utang bersih terhadap ekuitas Perseroan pun membaik menjadi 24,7%, dari 31,3% pada akhir kuartal pertama. Divestasi ini menimbulkan kerugian non-operasional yang bersifat satu kali sebesar sekitar Rp64 miliar. 

Dampak akuntansi ini dicatat dalam pos pendapatan dan beban lain-lain, sehingga RAAM membukukan rugi bersih sebesar Rp64,8 miliar untuk semester I 2026. 

“Karena kerugian ini bersifat tidak berulang dan timbul dari transaksi yang justru bertujuan memperkuat neraca Perseroan, manajemen menilai kerugian ini perlu dilihat secara terpisah saat menilai kinerja dan kapasitas laba ke depan dari operasi inti RAAM,” jelasnya.

Baca Juga: De Heus Akuisisi Aset Janu Putera (AYAM), Ekspansi Bisnis Unggas Berlanjut

Ke depan, RAAM tetap fokus mengonversi platform operasional yang telah diperkuat menjadi pertumbuhan laba yang berkelanjutan.

Prioritas perusahaan untuk sisa tahun 2026 mencakup menjaga disiplin jadwal rilis film, memperluas jangkauan komersial pustaka kekayaan intelektualnya, mengembangkan peluang distribusi regional, serta meningkatkan produktivitas operasional bioskop dan bisnis makanan-minuman. 

RAAM juga akan terus mengevaluasi peluang untuk memperluas jaringan bioskopnya, khususnya di kota-kota yang penetrasi layarnya masih relatif rendah. Perseroan berencana menjalankan ekspansi ini secara selektif, dengan keputusan investasi yang mempertimbangkan permintaan lokal, proyeksi tingkat okupansi, dan ekspektasi imbal hasil investasi. 

“Minat masyarakat Indonesia terhadap konten produksi lokal terus tumbuh, dan performa rilis-rilis terbaru kami memperkuat keyakinan kami atas potensi jangka panjang pasar ini. RAAM memasuki semester kedua dengan momentum operasional yang lebih kuat, neraca yang lebih efisien, dan strategi yang jelas untuk mengembangkan kekayaan intelektual bernilai tinggi lewat berbagai kanal distribusi,” tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News