Kinerja turun, SIDO kejar target di semester dua



JAKARTA. Melemahnya daya beli masyarakat tidak hanya dirasakan oleh emiten ritel saja. Emiten jamu dan farmasi PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) juga terkena imbasnya.

Dalam laporan keuangan per semester pertama 2017, pendapatan SIDO turun 6,8% menjadi Rp 1,20 triliun dibandingkan pendapatan periode sama tahun lalu Rp 1,29 triliun. Laba bersih SIDO pun turun 7,6% menjadi Rp 244,9 miliar dibanding sebelumnya Rp 265,1 miliar.

Pelemahan kinerja SIDO ini disebabkan oleh penurunan penjualan dari segmen makanan dan minuman 27% year on year (yoy) menjadi Rp 373,8 miliar. Padahal dua segmen lainnya yaitu segmen jamu herbal dan suplemen serta segmen farmasi tumbuh masing-masing 5,9% dan 15,5% menjadi Rp 788,3 miliar dan Rp 47,08 miliar.


Direktur Keuangan Sido Muncul Venancia Sri Indrijati bilang, SIDO belum akan merevisi target pertumbuhan pendapatan. Pihaknya berharap bisa mengejar ketinggalan pada semester II melalui peningkatan di segmen herbal, sehingga akhir tahun masih dapat dicapai. "Kami akan upayakan tetap tumbuh," ujar Venancia kepada KONTAN, Jumat (28/7).

Untuk mendongkrak penjualan di semester II, SIDO akan mendorong penetrasi pasar produk herbal, khususnya merek Tolak Angin. Dengan merek yang sudah terkenal luas di masyarakat dan memiliki pasar besar, SIDO optimistis kinerja di semester II bakal lebih baik.

Salah satu strategi SIDO adalah dengan penetrasi pasar ekspor. Dalam rangka menggenjot ekspor, SIDO telah mendaftarkan kantor cabang di Manila, Filipina. SIDO pun secara resmi sudah terdaftar di Securities and Exchange Commision selaku instansi yang berwenang untuk menerbitkan license to transact business in the Philippinies.

Menurut Venancia, proses ini ditargetkan akan rampung di kuartal empat 2017. "Mudah-mudahan setelah itu kami bisa langsung merealisasikanya," kata dia.

Dengan penetrasi ke pasar Filipina, SIDO berharap bisa menambah pundi-pundi penjualan ekspor. Saat ini, ekspor SIDO hanya berkontribusi 2% dari seluruh penjualan.

Sebelumnya SIDO sudah ekspor ke Filipina. Tapi, ekspor ini tidak dikelola sendiri melaikan penjualan langsung kepada distributor lokal. Kali ini SIDO memutuskan untuk menggunakan full marketing. "Dulu ekspornya pasif, sekarang akan support marketing-nya," kata Venancia.

SIDO memiliki sejumlah alasan memilih Filipina sebagai tujuan pemasaran penuh diantaranya yaitu populasi besar yang mencapai setengah dari penduduk Indonesia, dan jenis konsumen di Filipina hampir sama dengan Indonesia yang familiar dengan obat herbal.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati