KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) mulai menunjukkan pemulihan setelah mencatatkan pertumbuhan penjualan dan laba pada semester I-2026. Perbaikan volume penjualan menjadi faktor utama yang menopang bisnis perseroan, meski tekanan biaya dan persaingan pasar masih menjadi tantangan hingga akhir tahun. Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2026, UNVR membukukan penjualan bersih sebesar Rp 16,89 triliun, meningkat 7,05% secara tahunan (yoy). Sementara itu, laba bersih perseroan melonjak 37,7% menjadi Rp 2,97 triliun.
Kenaikan laba tersebut turut didorong oleh keuntungan satu kali (one-off) dari divestasi bisnis Sariwangi. Namun, apabila faktor tersebut dikeluarkan, laba inti UNVR tetap mencatatkan pertumbuhan positif dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Baca Juga: Laba Unilever Indonesia (UNVR) Naik 37,7%, Analis Sebut Momentum Pemulihan Berlanjut Presiden Direktur Unilever Indonesia Benjie Yap menyebut kinerja semester I-2026 mencerminkan penguatan fundamental bisnis perseroan. Pertumbuhan penjualan domestik terutama ditopang oleh peningkatan volume dasar sebesar 7,3%. "Pertumbuhan volume menunjukkan fundamental bisnis yang semakin kuat," ujar Benjie. Analis BRI Danareksa Sekuritas Christy Halim menilai tren pemulihan UNVR masih berpeluang berlanjut. Menurut dia, pertumbuhan volume yang kuat pada kuartal II-2026 menunjukkan adanya perbaikan permintaan, baik untuk produk utama maupun kategori premium.
Selain pertumbuhan penjualan, perbaikan margin juga menjadi katalis bagi kinerja UNVR ke depan. Kenaikan harga jual secara selektif sekitar 3%-5% yang mulai diterapkan sejak awal Juni diperkirakan mulai memberikan dampak lebih besar terhadap margin pada kuartal III-2026. Christy memperkirakan pendapatan UNVR sepanjang 2026 dapat tumbuh 5,8%, sementara laba bersih berpotensi meningkat 12,9%. Perseroan juga berencana membagikan seluruh keuntungan bersih dari divestasi Sariwangi kepada pemegang saham pada tahun ini.
Baca Juga: Laba Unilever Indonesia(UNVR) Melesat 37,7% Jadi Rp 2,97 Triliun pada Semester I-2026 Di sisi lain, proses pemisahan bisnis foods & refreshment masih berjalan sesuai rencana. Beberapa merek seperti Bango dan Royco termasuk dalam transaksi yang diusulkan dengan McCormick. Dengan prospek tersebut, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham UNVR, meski menurunkan target harga menjadi Rp 2.200 per saham. Analis Kiwoom Sekuritas Kevin Yudha Pratama juga melihat prospek UNVR masih cukup positif, didukung oleh peningkatan volume penjualan, perluasan distribusi, serta perbaikan efisiensi operasional.
Namun, ia mengingatkan perseroan tetap menghadapi sejumlah risiko, terutama terkait kemampuan menjaga volume penjualan di tengah kenaikan biaya bahan baku, fluktuasi nilai tukar rupiah, serta ketatnya persaingan harga di pasar.
Baca Juga: Unilever Indonesia (UNVR) Realisasikan Buyback Rp 285 Miliar Faktor-faktor tersebut akan menjadi penentu keberlanjutan pemulihan kinerja UNVR pada paruh kedua 2026. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News