Kinerja Unitlink Pasar Uang 2025 Terendah, Cek Prospek Aman 2026 di Sini



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kinerja unitlink berbasis pasar uang menjadi yang paling rendah, dibandingkan jenis unitlink lain sepanjang 2025. Berdasarkan data Infovesta secara year to date (ytd) atau sampai Desember 2025, rata-rata imbal hasil atau return unitlink berbasis pasar uang tercatat sebesar 4,24%. 

Jika ditelaah lebih lanjut, kinerja unitlink berbasis saham menjadi yang tertinggi pada 2025, dengan rata-rata imbal hasil sebesar 12,09%. Diikuti, unitlink berbasis campuran dengan rata-rata return sebesar 9,92%, serta pendapatan tetap sebesar 7,32%. Terakhir, ditempati unitlink berbasis pasar uang.

Meski menjadi yang terendah pada 2025, kinerja unitlink pasar uang tercatat meningkat dibandingkan 2024. Adapun kinerja unitlink pasar uang tercatat menjadi yang paling tinggi sepanjang 2024, dengan rata-rata return sebesar 3,06%.


Baca Juga: Aset Dana Pensiun Tembus Rp 1.662,16 Triliun per November 2025

Mengenai hal itu, Research Analyst Infovesta Kapital Advisori Arjun Ajwani menilai salah satu penyebab utama rendahnya kinerja unitlink pasar uang pada 2025 karena suku bunga mulai turun meskipun masih berada di level relatif tinggi.

"Oleh karena itu, meski terendah, imbal hasilnya masih cukup tinggi pada 2025, dibandingkan 2024. Namun, kenaikan return-nya terbatas, karena sudah mulai siklus penurunan suku bunga atau sikap dovish oleh bank sentral," katanya kepada Kontan, Senin (12/1).

Lebih lanjut, Arjun memperkirakan prospek unitlink pasar uang sebenarnya masih lumayan bagus pada 2026. Dia bilang salah satunya disebabkan unitlink pasar uang dapat menjadi pilihan investasi yang aman di tengah risiko domestik maupun global yang masih relatif tinggi.

"Jadi, pilihan investasi untuk diversifikasi dan mengurangi risiko portofolio," ujarnya.

Meskipun demikian, Arjun menyampaikan secara potensi return, unitlink pasar uang kemungkinan akan kalah dengan pendapatan tetap dan saham pada 2026. Hal itu dipicu juga suku bunga yang akan melanjutkan penurunan di tengah sentimen dovish pasar, demi mendukung pertumbuhan ekonomi dan di tengah inflasi yang masih relatif rendah atau terkendali.

"Jelas, unitlink pasar uang secara potensi return tidak semenarik peluang di pendapatan tetap dan saham," ucap Arjun.

Baca Juga: Jasindo Masih Fokus Garap Asuransi Kendaraan di 2026 Meski Penjualan Mobil Melambat

Selanjutnya: 7 Kebiasaan Finansial yang Bisa Menghambat Kelas Menengah Naik Level

Menarik Dibaca: 7 Kebiasaan Finansial yang Bisa Menghambat Kelas Menengah Naik Level

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News