KONTAN.CO.ID – MADINAH. Di tengah lautan jemaah yang memadati Kota Nabi, langkah Novem Bill Ichtiar tampak berbeda. Di usianya yang baru 17 tahun, remaja asal Yogyakarta itu menapaki perjalanan spiritual bersama sang ayah, Subur Adi Cahyono, sebuah momen yang bagi banyak orang baru terwujud ketika usia tak lagi muda.
Baca Juga: Kemenhaj Imbau Jemaah Haji Jaga Kesehatan, Suhu Arab Saudi Capai 40 Derajat Bagi Subur, keputusan tersebut berangkat dari keyakinan sederhana: jika rezeki bisa diikhtiarkan sejak dini, maka panggilan ke Tanah Suci pun layak dipersiapkan lebih awal. Tekad itu muncul pada 2012, saat regulasi masih memungkinkan anak usia balita didaftarkan sebagai calon jemaah haji. Tanpa ragu, Subur mendaftarkan Novem ketika usianya baru menginjak tiga tahun. Ia mengaku mempertimbangkan faktor fisik sebagai alasan utama. Menurutnya, ibadah haji bukan hanya soal kemampuan finansial, tetapi juga membutuhkan stamina yang prima untuk menjalani rangkaian ibadah yang panjang dan melelahkan. “Karena haji itu selain membutuhkan biaya besar, juga butuh tenaga ekstra. Jadi tujuan saya, kalau bisa sejak dini, saat stamina anak masih benar-benar fit,” ujar Subur, Selasa (6/5/2026).
Baca Juga: Presiden Prabowo Akan Hadiri KTT ASEAN di Filipina, RI Buka Peluang Kerja Sama Nikel Untuk mewujudkan niat tersebut, Subur dan keluarganya konsisten menyisihkan rezeki sedikit demi sedikit—baik harian, mingguan, maupun bulanan. “Rezeki yang kami miliki selalu kami sisihkan untuk hal-hal kebaikan, terutama untuk ibadah,” katanya. Kesederhanaan profesinya sebagai tekniker gigi tak menyurutkan langkahnya. Selain itu, ia juga aktif sebagai Ketua Paguyuban Pelontong Madura di Yogyakarta serta Ketua Asosiasi Teknisi Gigi di wilayah yang sama. Dari hasil kerja keras itulah ia menjaga komitmen agar dana haji tetap terjaga dan tidak terpakai untuk kebutuhan lain. Meski demikian, perjalanan ibadah keluarga ini belum sepenuhnya lengkap. Sang istri belum dapat berangkat tahun ini karena perbedaan waktu pendaftaran yang membuatnya tidak bisa digabung dalam keberangkatan reguler.
Baca Juga: Kemenhaj Imbau Jemaah Pakai Aplikasi Kawal Haji untuk Lapor Kendala di Tanah Suci “Istri saya sebenarnya sudah mendaftar. Tapi karena waktu pendaftarannya berbeda, tidak bisa digabungkan. InsyaAllah tahun depan menyusul,” jelasnya. Subur mengaku sempat berupaya agar bisa berangkat bertiga. Baginya, kebersamaan keluarga dalam menunaikan ibadah haji adalah kebahagiaan tersendiri. Namun, ia tetap bersyukur bisa mendampingi putranya tahun ini. Kini, ikhtiar panjang itu berbuah di Madinah. Novem menjadi salah satu jemaah termuda asal Indonesia yang menapaki Kota Nabi. Ia mengaku bahagia dan bersyukur bisa menunaikan ibadah haji di usia muda. “Alhamdulillah senang. Sebelum berangkat saya ikut manasik, jaga kesehatan, dan menjaga stamina, semua diarahkan oleh ayah,” ujarnya. Melalui manasik, Novem mulai memahami makna ibadah haji. Di Tanah Suci, ia tak hanya menjalankan rangkaian ibadah, tetapi juga memanjatkan doa-doa sederhana.
Baca Juga: 1,5 Juta UMKM Terima KUR Rp 96 T, Simak Cara Pinjam & Angsuran KUR BRI 2026 Ia berharap sang ayah diberi kelancaran dalam menuntaskan seluruh rangkaian ibadah. Untuk ibunya yang belum bisa berangkat, ia berdoa agar senantiasa diberi kesehatan dan umur panjang sehingga dapat segera menyusul ke Tanah Suci.
“Buat ibu, semoga selalu sehat, panjang umur, dan bisa segera menyusul,” ucapnya. Di balik kisah ini, tersimpan pesan tentang kesabaran, konsistensi, dan keyakinan. Bahwa ikhtiar yang dimulai sejak dini, sekecil apa pun, pada waktunya bisa berbuah menjadi perjalanan besar yang penuh makna. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News