Kisah Muhammad Nur Ajib, Sukses Alih Tanam dari Tembakau ke Sayur dan Kopi



KONTAN.CO.ID - Mantan petani tembakau asal Temanggung, Jawa Tengah, Muhammad Nur Ajib bercerita telah mengakhiri untuk menanam tembakau pada tahun 2021. Sejak tahun 2022, dia telah beralih ke lahan pertanian sayur dan kopi.

Terlepas dari pengendalian produk tembakau, Ajib menceritakan ada sejumlah kerugian yang dia alami selama menjadi petani tembakau dari sisi tata niaga. Oleh karena itu, dia mencoba beralih ke pertanian lain yang dinilai lebih adil secara harga jual-beli.

“Kalau tembakau kan yang beli pabrik besar dan harganya ditentukan pabrik. Petani juga tidak punya daya tawar. Kalau sayur kan tergantung pembeli di pasar, jadi lebih adil,” ucapnya dalam siaran pers, Jumat (22/5).


Kisah petani tembakau beralih tanam ke sayuran dan kopi ini membawa dia dan puluhan petani lain hadir dalam Indonesian Conference on Tobacco Control (ICTOH) ke-11 yang dibuka pada Kamis, 21 Mei 2026 di  Airlangga Sharia & Entrepreneurship Education Center (ASEEC) Tower di Kampus Universitas Airlangga Surabaya.

Ajib menyatakan kerap dibenturkan dengan banyak kepentingan ketika menghadapi ketidakadilan. Mulai dari kepentingan kesehatan, cukai, dan perdagangan. Dia pun mencoba untuk beralih secara perlahan.

Baca Juga: Amankan Pasokan Listrik, PLN EPI Teken Kontrak Gas dan LNG Rp 360 Triliun

Saat proses peralihan, Ajib dibantu oleh para pengajar Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) Universitas Muhammadiyah Magelang melalui Sekolah Tani Mandiri Muhammadiyah. Selain Ajib, ada banyak petani lain yang telah mengurangi lahan pertanian tembakau atau telah beralih sepenuhnya.

Kini, Ajib kerap membantu para petani lain untuk menerangkan kerugian-kerugian menanam tembakau dibandingkan lainnya. Kini, sudah banyak petani yang telah membantu arahkan untuk beralih.

”Ada yang tadinya setiap tahun tanam 12 ribu pohon tembakau, sekarang hanya 3 ribu dan sisanya ditanami sayuran. Ini bentuk diversifikasi,” tuturnya.

Ajib berharap proses pelestarian petani tembakau untuk lahan pertanian lainnya bisa menjadi sorotan seluruh elemen masyarakat, terutama pemerintah. Baginya, sulit petani di daerahnya untuk tidak menanam tembakau saat musim kemarau. ”Jadi kecil kemungkinan petani mau beralih dari tembakau jika tidak ada sentuhan pemerintah,” ujarnya.

Menurut dia, petani tembakau membentuk Forum Petani Multikultur Indonesia (FPMI) tahun 2019. Anggotanya berasal dari Jawa Timur, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Barat

Kini, sebagian anggota FPMI telah melakukan diversifikasi dan alih tanam. Selain itu, mereka mendapatkan penghargaan Hari Tembakau Sedunia tahun 2023 dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena peran positifnya dalam mendukung pengendalian prevalensi merokok.

Ajib mengapresiasi pernyataan positif pemerintah tentang komitmen untuk petani yang ingin beralih tanam. Dia berharap pernyataan itu harus segera diimplementasikan.

Baca Juga: Pertamina Patra Niaga Jaga Ketahanan Stok BBM di Tengah Lonjakan Harga Minyak

"Beberapa kali saya mendengar pernyataan seperti itu dari pejabat, tapi penerapannya enggak ada. Maka saya harap kali ini benar-benar dijembatani bagi para petani yang ingin beralih," tutur Ajib.

Konferensi Nasional Pengendalian Tembakau atau ICTOH 2026 berlangsung pada Kamis-Jumat, 21-22 Mei 2026. Agenda ini diikuti oleh para pengajar, peneliti, organisasi masyarakat sipil, dan pemerintah yang akan melakukan diskusi ilmiah soal pengendalian tembakau.

Ketua Panitia ICTOH 2026, Sumarjati Arjoso menyatakan agenda ini meliputi 3 pleno, 7 simposium, 12 diskusi paralel, dan presentasi poster. Terdapat 155 abstrak artikel ilmiah yang mendaftar dalam ICTOH tahun ini. Namun, hanya 125 yang diterima untuk dipresentasikan.

Wakil Menteri Kesehatan Benjamin Paulus Octavianus yang menghadiri ICTOH menyatakan komitmennya untuk melakukan pengendalian tembakau, salah satunya dengan membantu petani tembakau beralih ke lahan pertanian.

Beny mengatakan ketangguhan perekonomian Indonesia di masa depan sangat ditentukan oleh keberanian bangsa untuk melepaskan diri dari kecanduan nikotin. Terlebih lagi, kata dia, generasi muda saat ini menghadapi ancaman adiksi tembakau melalui tren gaya hidup modern seperti vape. “Sekarang sudah banyak pasien asma akibat vape,” kata Beny.

Oleh karena itu, Beny merekomendasikan beberapa hal yang bisa digunakan untuk pengendalian tembakau. Pertama adalah larangan penggunaan vape karena di dalamnya bisa dimasukkan zat-zat aditif seperti narkoba.

“Jangan sampai anak muda mau sehat dengan olahraga, tapi justru terpapar narkoba lewat liquid vape yang mereka gunakan,” ucap Beny.

Kedua, Beny menganjurkan agar kurikulum antirokok bisa masuk dalam kurikulum Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas. Sebab, anak-anak dan remaja sangat rentan untuk mencoba merokok.

Kendati demikian, Beny menekankan pengendalian tembakau tidak boleh mematikan mata pencaharian petani. Jika petani tembakau didorong untuk tidak menanam tembakau, maka harus ada solusi transisi ekonomi berkedilan.

Dia pun berkomitmen untuk menjadi jembatan aspirasi para petani tembakau dengan kebijakan kementerian terkait. Tujuannya agar proses transisi tetap menjamin kesejahteraan hidup petani.

”Saya siap menjadi jembatan bagi para petani tembakau yang ingin beralih. Kita benahi kesehatan bangsa, tapi tetap memastikan perut petaninya tetap kenyang,” tutur Beny.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News