KONTAN.CO.ID - Nilai tukar rupiah dengan dollar Amerika Serikat (AS) sempat mengalami pelemahan pada Selasa (12/5/2026). Dikutip dari
Kompas.com, Selasa (12/5/2026), nilai tukar rupiah tembus mencapai level Rp 17.500 per dollar AS. Berdasarkan data
Bloomberg, rupiah di pasar spot ditutup melemah 115 poin atau 0,66 persen ke level Rp 17.529 per dollar AS.
Posisi itu merupakan level terendah penutupan kurs rupiah terhadap dollar AS sepanjang sejarah, alias all time low (ATL). Sementara itu, kurs Jisdor BI berada di posisi Rp 17.514 per dollar AS, melemah 99 poin dibandingkan kemarin pada level 17.415. Ternyata, nilai tukar rupiah juga pernah mencapai angka Rp 17.000 per dollar AS pada masa Reformasi setelah runtuhnya Orde Baru. Ketika itu, Presiden Bacharuddin Jusuf (BJ) Habibie berhasil menguatkan nilai tukar rupiah hingga Rp 6.500 per dollar AS. Lantas, bagaimana kisahnya?
Baca Juga: Protes Kadin China ke Prabowo Jadi Alarm Iklim Investasi Indonesia Kisah BJ Habibie menguatkan nilai tukar rupiah BJ Habibie diketahui bukanlah seorang ekonom, melainkan ahli aeronautika yang telah diakui dunia. Habibie menggambarkan kejatuhan rupiah pada krisis ekonomi 1998 seperti pesawat terbang dalam keadaan stall. Dilansir dari
Kompas.com (12/9/2019), posisi pesawat saat kehilangan daya angkat dengan bagian depan mengarah ke atas. Kondisi itu dapat menyebabkan pesawat jatuh. Oleh karena itu, Habibie menilai bahwa perlu adanya cara agar rupiah bisa berada di posisi stabil terlebih dahulu. Dalam aeronautika, dibutuhkan keseimbangan dengan gravitasi untuk meningkatkan maupun menurunkan kecepatan pesawat. Hal itu dikenal sebagai aerodinamika. Melalui pendekatan seperti itu, pemerintahan Habibie mendongkrak nilai rupiah dengan beberapa hal, salah satunya kebijakan restrukturisasi perbankan. Ketika itu, beberapa bank digabung (merger) menjadi bank baru yang lebih kuat dari sisi pendanaan. Salah satu dari penggabungan itu adalah Bank Mandiri. Kemudian, BJ Habibie juga mengambil keputusan besar untuk memisahkan Bank Indonesia (BI) dari pemerintah. Keputusan itu diambil Habibie agar BI tidak lagi diperintah atau ditekan oleh penguasa seperti masa Orde Baru. Melalui pemisahan tersebut, BI menjadi lembaga independen dan mendapatkan lagi kepercayaan masyarakat Indonesia. Selain itu, investor asing mulai masuk ke Indonesia dan berimbas kepada penguatan nilai tukar rupiah.
Tonton: Rp 17.529 per Dollar AS, Kurs Rupiah Di Titik Terendah Dalam Sejarah, Ini Dampaknya! Dikutip dari
Kompas.com (17/12/2024), nilai tukar rupiah secara perlahan merangkak naik hingga mampu menguat di angka Rp 6.500 per dollar AS. Kondisi pertumbuhan ekonomi membaik menjadi 0,79% pada 1999, naik dari 1998 yang sempat berada di minus 13,33%. Tingkat kemiskinan juga menjadi 23,4% pada 1999, menurun dari tahun 1998 yang mencapai 24,2%.
Tabel: Data Perbandingan Krisis 1998 vs Pemulihan 1999
| Indikator | 1998 | 1999 |
| Pertumbuhan ekonomi | -13,33% | 0,79% |
| Tingkat kemiskinan | 24,2% | 23,4% |
| Kurs rupiah (krisis) | sekitar Rp 17.000 per dolar AS | menguat hingga Rp 6.500 per dolar AS |
(Sumber: Kompas.com/Isna Rifka Sri Rahayu, Retia Kartika Dewi, Laksmi Pradipta Amaranggana, Erlangga Djumena, Sari Hardiyanto, Inten Esti Pratiwi) Sumber: https://www.kompas.com/tren/read/2026/05/14/170000665/kisah-bj-habibie-kuatkan-rupiah-dari-rp-17.000-jadi-rp-6.500-per-dollar-as?page=all#page1 Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News