KITB Gandeng HEDA Tarik Investasi dari Negara Anggota BRICS



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. PT Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB), pengelola KEK Industropolis Batang, meneken nota kesepahaman (MoU) dengan Hangzhou Economic and Technological Development Area (HEDA) dalam rangkaian BRICS SEZ Hangzhou Dialogue & GDTE 2026 di Hangzhou, Tiongkok.

Kerja sama tersebut mencakup dukungan bisnis, promosi investasi dan perdagangan, pertukaran kebijakan, kegiatan bisnis bersama, serta peningkatan kapasitas. Kolaborasi diarahkan untuk mendukung pengembangan sektor prioritas KITB, antara lain kendaraan listrik, otomotif, energi terbarukan, elektronik, advanced manufacturing, serta digital dan komunikasi.

Sejumlah peluang tindak lanjut juga dijajaki, termasuk investasi asal Tiongkok dan kerja sama di sektor biofarmasi. Delegasi KITB juga melakukan benchmarking pengembangan kawasan high-tech, energi terbarukan, dan penerapan ESG sebagai masukan bagi pengembangan Klaster Inovasi Industropolis Batang.


Kerja sama ini ditopang oleh perkembangan investasi dan ekosistem industri di Industropolis Batang. Hingga September 2026, komitmen investasi di kawasan mencapai Rp114,5 triliun, dengan dukungan Danantara Indonesia dan Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM.

Baca Juga: KEK Industropolis Batang Pacu Sport Tourism

Ekosistem tersebut diisi aktivitas hilirisasi dan manufaktur berorientasi ekspor, termasuk perusahaan dari negara anggota dan mitra BRICS. PT LBM Energi Baru Indonesia, misalnya, menggelontorkan investasi sekitar Rp1,5 triliun di lahan 31,72 hektare untuk memproduksi hingga 150.000 ton LFP dan 150.000 ton FP per tahun. Investasi ini diperkirakan menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja.

Dari Malaysia, PT TGP Plaspack Lestari menanamkan investasi sekitar Rp115 miliar dan menyerap sekitar 500 tenaga kerja. Sekitar 85% produksinya ditujukan untuk pasar ekspor. Sementara itu, PT Trax Sumbiri Indo mengembangkan teknologi manufaktur pakaian olahraga yang dipasarkan ke berbagai negara.

Kehadiran perusahaan-perusahaan tersebut memperkuat posisi Industropolis Batang sebagai basis produksi yang terhubung dengan rantai pasok global, sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian daerah. Pada kuartal II 2026, PDRB Kabupaten Batang tumbuh 8,38%, sementara tingkat pengangguran turun dari 5,67% menjadi 5,07%.

Direktur Pemasaran & Pengembangan PT Kawasan Industri Terpadu Batang Angga Brahmana Sukma mengatakan kerja sama dengan HEDA memperluas peluang Industropolis Batang untuk menarik investasi dari negara-negara BRICS sekaligus memperoleh transfer pengetahuan.

“Kami satu-satunya Kawasan Ekonomi Khusus di Indonesia yang berhasil menandatangani kerja sama dengan salah satu Kawasan Ekonomi Khusus di China dalam agenda BRICS ini. Harapannya dengan kerja sama ini membuka platform yang lebih luas lagi untuk kita bisa kerja sama di bidang investasi, tentunya untuk menarik investasi dari negara-negara BRICS, dan yang penting kita bisa mendapatkan transfer of knowledge,” ujar Angga dałam keterangannya, Rabu (30/9/2026).

Baca Juga: KEK Industropolis Batang Dorong Pertumbuhan Ekonomi Kreatif

Menurutnya, kerja sama dengan HEDA bukan dimulai dari titik nol, melainkan menjadi bagian dari upaya memperluas jejaring investasi internasional yang telah terbentuk di Industropolis Batang.

Kolaborasi ini diharapkan memperkuat konektivitas ekosistem industri Indonesia dan Tiongkok, sekaligus membuka peluang baru di bidang investasi, pengembangan industri, teknologi, dan integrasi rantai pasok global.

Industropolis Batang adalah Kawasan Ekonomi Khusus dan Proyek Strategis Nasional seluas 4.300 hektare di Jawa Tengah, dikelola oleh KITB di bawah Danareksa dan didukung Danantara Indonesia. 

Sebagai bagian dari jaringan Danareksa yang mengelola 7 lokasi strategis seluas total 7.855 hektare di Indonesia, kawasan ini menaungi 1.650 tenant dari 25 negara asal dengan modal investasi tenant lebih dari US$ 10 miliar dan 298.741 lapangan kerja tercipta. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News