Kiwoom Sekuritas Optimistis Batas Harga Saham Rp 1 Bisa Dongkrak Likuiditas Pasar



KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Aktivitas transaksi di Kiwoom Sekuritas Indonesia menunjukkan pertumbuhan hingga 2026.

Direktur Utama Kiwoom Sekuritas, Changkun Shin mengatakan rata-rata nilai transaksi Kiwoom Sekuritas mencapai Rp198 miliar atau meningkat 15% dibandingkan rata-rata tahun 2025 yang berada di kisaran Rp 171 miliar per hari.

Di sisi lain, rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengubah batas minimum harga saham yang dapat diperdagangkan di pasar reguler dan pasar tunai dari Rp 50 menjadi Rp 1 juga diprediksi bisa meningkatkan aktivitas transaksi.


Menurutnya, kebijakan tersebut pada dasarnya dapat memberikan dampak positif bagi industri sekuritas, terutama dari sisi likuiditas dan price discovery.

Baca Juga: Kiwoom Sekuritas Optimistis Kinerja Tetap Tumbuh Meski IHSG Tertekan

Saham-saham yang selama ini tertahan di level Rp 50 akan memiliki ruang untuk kembali diperdagangkan berdasarkan mekanisme supply dan demand yang lebih wajar.

"Dengan demikian, investor juga memiliki kesempatan yang lebih baik untuk melakukan transaksi pada saham-saham yang sebelumnya relatif tidak likuid," ujarnya kepada Kontan, Jumat (21/8/26).

Namun, pada tahap awal penerapan kebijakan, terdapat potensi tekanan jual khususnya pada saham yang memiliki posisi pembiayaan atau kewajiban penyelesaian transaksi.

Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu peningkatan force sell dan menimbulkan volatilitas dalam jangka pendek.

Meski begitu, dalam jangka menengah dan panjang kebijakan tersebut dinilai bisa berkontribusi terhadap peningkatan likuiditas serta pembentukan harga yang lebih efisien.

Lebih lanjut, Shin juga melihat adanya potensi peningkatan aktivitas transaksi, terutama pada saham-saham berharga rendah yang sebelumnya tertahan di level Rp 50.

Baca Juga: Rencana Batas Harga Saham Turun ke Rp1, Transaksi Saham Tertentu Berpotensi Melesat

Akan tetapi, ia menilai dampak kebijakan tersebut tidak hanya dapat dilihat dari kenaikan nilai transaksi saja.

"Bagi perusahaan sekuritas yang memiliki basis nasabah ritel yang cukup kuat, dampak yang lebih signifikan kemungkinan akan terlihat pada peningkatan frekuensi transaksi dan aktivitas nasabah," katanya.

Meski diperkirakan aktivitas perdagangan akan meningkat, tetapi ia berpendapat masih terlalu dini untuk memberikan proyeksi persentase kenaikan nilai transaksi secara spesifik.

Di sisi lain, peningkatan transaksi diperkirakan lebih terkonsentrasi pada saham-saham berharga rendah yang secara langsung terdampak perubahan kebijakan.

Di perusahaan sendiri, dengan basis nasabah Kiwoom Sekuritas yang cukup kuat di segmen ritel, kenaikan frekuensi transaksi dinilai berpotensi akan lebih terlihat dibandingkan dengan peningkatan nilai transaksi secara keseluruhan.

Sayangnya, masih ada sejumlah risiko yang perlu dicermati. Saham dengan harga sangat rendah berpotensi memiliki volatilitas persentase yang tinggi dan meningkatkan aktivitas perdagangan spekulatif.

Baca Juga: Kiwoom Sekuritas Bagikan 4 Rekomendasi Saham untuk Perdagangan Hari Ini (13/7)

Selain itu, harga nominal yang rendah juga bisa menimbulkan persepsi keliru bahwa suatu saham otomatis tergolong murah.

Karena itu, penerapan kebijakan perubahan minimum harga itu tentunya perlu disertai mekanisme auto rejection yang memadai, pengawasan transaksi yang kuat, manajemen risiko perusahaan sekuritas, dam edukasi dan perlindungan bagi investor ritel.

Ia berharap, jika rencana ini diterapkan serta diiringi dengan mekanisme yang tepat bisa makin meningkatkan aktivitas nasabah dan likuiditas perdagangan di pasar modal Indonesia.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News