KKP akan bangun pelelangan ikan terbesar di Natuna



JAKARTA. Setelah praktek pencurian ikan sempat marak terjadi, kini pemerintah makin serius mengembangkan potensi ekonomi di Natuna, Kepulauan Riau. 

"Karena lokasinya di ujung luar Indonesia dan potensinya besar sekali, kami berharap melalui langkah-langkah yang kami rumuskan integritas Indonesia di Natuna semakin kuat," ujar Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Sumber Daya Rizal Ramli usai rapat koordinasi tindak lanjut optimalisasi pengembangan potensi ekonomi Natuna di Jakarta, Rabu (13/7).

Rizal bilang, pemerintah sudah merumuskan empat langkah untuk mengoptimalkan Natuna. Pertama, mendorong perkembangan industri perikanan dengan cara memindahkan sekitar 400 nelayan dengan bobot kapal di atas 30 gross ton (GT) dari pantai utara Pulau Jawa. Pemerintah menargetkan kapal sudah bergerak ke Natuna akhir Oktober 2016.


Alasannya, Natuna merupakan wilayah perikanan gemuk, namun selama ini nelayan tradisional tidak punya hak untuk menangkap ikan di wilayah tersebut. Justru kapal asing yang lebih banyak mencuri ikan dari Natuna.

Melalui strategi tersebut, Rizal percaya diri kapasitas tangkap di Natuna yang saat ini baru 9,3% bisa bertambah menjadi 40% dalam waktu kurang dari satu tahun. "Tahun depan akan kami tingkatkan lagi menjadi 70%-80%," ujarnya.

Untuk mendukung industri perikanan di Natuna, pemerintah siap membangun fasilitas berupa pelabuhan, cold storage, dan tempat pelelangan ikan (TPI). Tidak tanggung-tanggung, Rizal berambisi menjadikan TPI di Natuna sebagai yang terbesar di Asia Tenggara.

Rizal melanjutkan, langkah kedua untuk mengoptimalkan Natuna, pemerintah akan mengembangkan turisme. Ketiga, mengevaluasi konsesi minyak dan gas. Keempat, memperkuat pertahanan.

Sementara itu Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja menambahkan, saat ini KKP sudah memulai pembangunan TPI di Natuna dengan target selesai pada akhir tahun.

Dengan luas 1.000 meter persegi (m2), TPI memiliki kapasitas sebesar 200 ton untuk tahap pertama dan 3.000 ton untuk tahap kedua. "Potensi perikanan di Natuna antara lain napoleon, kerapu, dan rumput laut," jelas Sjarief.

Asal tahu saja, Natuna menjadi perhatian setelah TNI AL menangkap kapal berbendera Cina di sana pada 17 Juni 2016. Lantas, pada 23 Juni 2016, Presiden Joko Widodo pun berangkat ke Natuna dan menginstruksikan menteri terkait untuk mempercepat pembangunan Natuna.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Dikky Setiawan