KKP Catat Ekspor Perikanan Tembus Rp 16,7 Triliun hingga Jelang Lebaran 2026



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mencatatkan kinerja ekspor perikanan yang cukup solid sejak awal tahun hingga menjelang periode Lebaran 2026. 

Berdasarkan data sistem KKP, nilai ekspor perikanan Indonesia hingga pertengahan Maret ini telah menembus angka US$ 983,14 juta atau setara Rp 16,7 triliun.

Kepala Badan Pengendalian dan Pengawasan Mutu Hasil Kelautan dan Perikanan (Badan Mutu KKP), Ishartini mengungkapkan, realisasi tersebut dikumpulkan dari total volume ekspor sebanyak 197.718,80 ton.


Baca Juga: KKP Targetkan 1.000 Kampung Nelayan Merah Putih Dibangun pada 2026

Data ini merujuk pada aktivitas perdagangan sebelum adanya kebijakan penghentian sementara angkutan barang pada 13 Maret 2026.

"Sistem kami mencatat bahwa ekspor ikan ke berbagai negara telah mencapai 197.718,80 ton yang ditaksir nilainya mencapai Rp 16,7 triliun,” ujar Ishartini dalam siaran resmi di Jakarta, Selasa (17/3/2026).

Angka tersebut didasarkan pada penerbitan Sertifikat Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (SMKHP) sebagai syarat utama keamanan pangan di 140 negara mitra.

Hingga saat ini, Amerika Serikat, Tiongkok, dan Jepang masih menjadi pasar utama bagi produk perikanan nasional.

KKP mencatat diversifikasi produk terus meluas hingga mencakup 486 HS Code dengan komoditas unggulan seperti udang vanname, tuna, cumi-cumi, rajungan, rumput laut, hingga kepiting. 

Baca Juga: KKP Fasilitasi UMKM Perikanan Tembus Retail Modern lewat Business Matching 2026

Hal ini dinilai membuktikan bahwa keberterimaan produk Indonesia di pasar global sangat dipercaya mutunya.

Namun, di balik capaian tersebut, Ishartini tidak menampik adanya tantangan dari eskalasi geopolitik di Timur Tengah.

Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2025, volume ekspor perikanan mengalami penurunan cukup dalam sebesar 41,35%, yang berujung pada koreksi nilai ekspor sebesar 21,71% secara tahunan.

Menurutnya, meski permintaan (demand) masih stabil, kendala utama terletak pada rantai pasok global. Konflik geopolitik memicu perubahan rute pengiriman (shipment), kenaikan biaya logistik, hingga terbatasnya kontainer dan mother vessel.

Faktor-faktor tersebut pada akhirnya berkontribusi menaikkan harga jual produk di pasar internasional.

Baca Juga: KKP Perkuat Pengelolaan Rantai Dingin di Kampung Nelayan Merah Putih

"Hanya saja memang dari sisi volume memang agak terkendala karena transportasi dalam rantai pasok terkena imbas eskalasi misalnya perubahan rute shipment, biaya tambahan logistik, kontainer dan mother vessel yang terbatas yang semuanya itu juga berkontribusi dalam menaikkan harga produk,” terangnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News