JAKARTA. Kesediaan pakan ikan di dalam negeri dengan harga terjangkau merupakan salah satu target Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pakan memiliki peranan yang strategis bagi pembudidaya ikan, karena 80% dari pengeluaran pembudidaya ikan habis hanya untuk membeli pakan ikan. Karena itu, KKP menargetkan harga pakan bisa diturunkan dan ke depan Indonesia bisa menyediakan pakan secara mandiri. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti, pakan ikan menjadi komponen penting dalam menentukan keberhasilan produksi budidaya ikan. Nilai kebutuhannya mencapai 80% dari biaya produksi budidaya. Untuk itu, Susi menginginkan Indonesia bisa swasembada pakan ikan mandiri agar pembudidaya ikan bisa lebih sejahtera. Menurut Susi, posisi pendapatan masyarakat pembudidaya ikan saat ini belum bisa setingkat pelaku Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM). Pendapatannya masih dalam level buruh yang hanya mendapat 20% saja dari total nilai produksi. Hal itu menurut Susi disebabkan masih tingginya biaya operasional akibat tingginya harga pakan ikan. “Semestinya para pembudidaya tersebut bisa mendapatkan 35% hingga 40%”, ujar Susi, Selasa (24/2).
KKP targetkan Indonesia bisa swasembada pakan ikan
JAKARTA. Kesediaan pakan ikan di dalam negeri dengan harga terjangkau merupakan salah satu target Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pakan memiliki peranan yang strategis bagi pembudidaya ikan, karena 80% dari pengeluaran pembudidaya ikan habis hanya untuk membeli pakan ikan. Karena itu, KKP menargetkan harga pakan bisa diturunkan dan ke depan Indonesia bisa menyediakan pakan secara mandiri. Menurut Menteri Kelautan dan Perikanan (MKP) Susi Pudjiastuti, pakan ikan menjadi komponen penting dalam menentukan keberhasilan produksi budidaya ikan. Nilai kebutuhannya mencapai 80% dari biaya produksi budidaya. Untuk itu, Susi menginginkan Indonesia bisa swasembada pakan ikan mandiri agar pembudidaya ikan bisa lebih sejahtera. Menurut Susi, posisi pendapatan masyarakat pembudidaya ikan saat ini belum bisa setingkat pelaku Usaha Mikro dan Kecil Menengah (UMKM). Pendapatannya masih dalam level buruh yang hanya mendapat 20% saja dari total nilai produksi. Hal itu menurut Susi disebabkan masih tingginya biaya operasional akibat tingginya harga pakan ikan. “Semestinya para pembudidaya tersebut bisa mendapatkan 35% hingga 40%”, ujar Susi, Selasa (24/2).