JAKARTA. Kinerja asuransi syariah hingga Juli tahun ini tampak cukup menggembirakan. Salah satu komponen yakni kontribusi atau premi ikut meningkat. Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asuransi syariah menorehkan pertumbuhan kontribusi bruto sebesar 15,07% periode Januari-Juli 2016 menjadi Rp 6,849 triliun dibanding periode yang sama di tahun lalu. Namun, pertumbuhan kontribusi ini tidak sebesar pertumbuhan klaim bruto per Juli 2016 yang tercatat sebesar Rp 2,35 triliun, atau naik 20,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Medya Agus menjelaskan, rasio klaim asuransi syariah masih dalam level yang baik yakni sekitar 34%. "Sebagai perusahaan asuransi, kami wajib membayarkan klaim. Yang terpenting adalah kami dapat mengelola klaim sekaligus mengelola risiko dengan baik," ujar Medya.
Klaim asuransi syariah lebih tinggi dari premi
JAKARTA. Kinerja asuransi syariah hingga Juli tahun ini tampak cukup menggembirakan. Salah satu komponen yakni kontribusi atau premi ikut meningkat. Mengutip data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), asuransi syariah menorehkan pertumbuhan kontribusi bruto sebesar 15,07% periode Januari-Juli 2016 menjadi Rp 6,849 triliun dibanding periode yang sama di tahun lalu. Namun, pertumbuhan kontribusi ini tidak sebesar pertumbuhan klaim bruto per Juli 2016 yang tercatat sebesar Rp 2,35 triliun, atau naik 20,82% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Meski begitu, Wakil Ketua Umum Asosiasi Asuransi Syariah Indonesia (AASI), Medya Agus menjelaskan, rasio klaim asuransi syariah masih dalam level yang baik yakni sekitar 34%. "Sebagai perusahaan asuransi, kami wajib membayarkan klaim. Yang terpenting adalah kami dapat mengelola klaim sekaligus mengelola risiko dengan baik," ujar Medya.