Klaim Indonesia Peringkat Dua Ketahanan Energi, Begini Ini Fakta Sebenarnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Klaim mengenai posisi Indonesia yang menduduki peringkat kedua dunia dalam hal ketahanan energi di tengah gejolak geopolitik global mendapat sorotan. Meski memiliki modal sumber daya alam yang melimpah, Indonesia dinilai masih memiliki kerentanan terutama pada sektor minyak mentah.

Pengamat Energi Universitas Indonesia (UI), Iwa Garniwa menilai, klaim peringkat tersebut biasanya merujuk pada subindikator tertentu seperti ketersediaan sumber daya (resource availability), bukan indeks komposit secara menyeluruh. Menurutnya, Indonesia memang unggul karena memiliki cadangan batubara, LNG, geotermal hingga mineral kritis yang melimpah.

"Indonesia sering masuk peringkat atas di kategori energy supply resilience atau resource self sufficiency karena tiga faktor utama sumber daya domestik melimpah, diversifikasi sumber energi, dan stabilitas geopolitik relatif," ujarnya kepada Kontan, Senin (4/5/2026).


Baca Juga: Harga Pangan Naik Serentak, Beras hingga Cabai Melonjak Dua Digit Awal Mei 2026

Iwa menjelaskan, dari sisi suplai, Indonesia diuntungkan sebagai eksportir batubara termal terbesar dunia serta produsen LNG dan geotermal terbesar kedua di dunia. Namun, secara kinerja sistem masih terdapat celah, di mana bauran energi terbarukan per 2025 baru mencapai 16% dari target 23%.

"Apakah sesuai kondisi saat ini? Secara supply side, klaim itu ada dasarnya. Tapi secara system performance, masih ada gap. Indonesia juga masih net importer minyak mentah dan produk BBM. Jadi peringkat nomor 2 dunia biasanya berlaku untuk sub indeks resource availability, bukan energy security komprehensif," jelasnya.

Terkait investasi, Iwa menyebut peringkat tinggi ini memberikan sinyal positif. Data BloombergNEF 2025 mencatat transformasi net-zero Indonesia merupakan peluang senilai US$ 3,8 triliun hingga 2050. Namun, kepastian regulasi tetap menjadi kunci utama bagi para investor untuk masuk ke proyek energi bersih.

Lebih lanjut, Iwa menyoroti, meski kuat di sektor hulu, ketergantungan pada impor minyak yang mencapai kurang lebih 1 juta barel per hari membuat ekonomi domestik rentan terhadap guncangan harga global dan risiko chokepoint di jalur perdagangan internasional.

"Ketahanan energi tidak sama dengan swasembada energi. Indonesia kuat di batubara, gas, geotermal. Tapi untuk minyak, kita impor. Ketergantungan ini membuat ekonomi rentan ke guncangan harga global," tandasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News