Klaim Lini Asuransi Properti Naik 34,7% per Maret 2026, AAUI Jelaskan Penyebabnya



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat, klaim asuransi properti mengalami peningkatan signifikan sebesar 34,7% Year on Year (YoY), menjadi Rp 2,64 triliun per Maret 2026.

Ketua Umum AAUI Budi Herawan menerangkan peningkatan tersebut tak terlepas dari banyaknya korporasi yang tutup. Dia bilang sektor korporasi sendiri memang menjadi penyumbang premi terbesar di asuransi properti, sehingga ketika tutup berdampak juga terhadap angka klaim.

"Korporasi itu menurunnya signifikan (jumlah). Beberapa pabrik tekstil hingga plat besi itu banyak yang tutup. Akhirnya, memang mesin-mesinnya juga dikembalikan. Mereka juga tahun-tahun sebelumnya itu menyumbang premi, sehingga hal itu jadi salah satu penyebabnya," kata Budi dalam konferensi pers AAUI di kawasan Jakarta Selatan, Rabu (18/6/2026).


Baca Juga: Perluas Distribusi Asuransi Digital, Avrist Assurance Gandeng 5 Mitra Lintas Sektor

Budi menambahkan banyak korporasi tersebut tutup karena mereka juga merasa kesulitan menjual produknya. Faktor utamanya karena penutupan Selat Hormuz. 

Oleh karena itu, dia berharap perjanjian damai konflik di Timur Tengah bisa segera terealisasi, sehingga Selat Hormuz dapat segera dibuka sepenuhnya. Meski demikian, dia beranggapan prosesnya membutuhkan waktu yang tak sebentar karena perlu pembersihan ranjau-ranjau yang diletakkan di sekitar lokasi. 

"Perlu berapa lama? Prediksi kami mungkin bisa 2-3 bulan, jika perjanjian ditandatangani segera. Dengan demikian, diharapkan ekspor Indonesia bisa kembali normal. Oleh karena itu, 2 bulan-3 bulan ke depan memang menjadi waktu yang krusial," tuturnya.

Lebih lanjut, Budi menjelaskan bahwa adanya bencana alam yang terjadi di wilayah Sumatra pada akhir tahun lalu, tak berdampak signifikan terhadap lini asuransi properti. Dengan demikian, fenomena itu juga tak memberikan kontribusi yang besar terhadap klaim asuransi properti industri.

"Sebetulnya saya bisa konfirmasi bukan karena bencana yang terjadi akhir tahun lalu. Itu tak terlalu signifikan. Memang ada beberapa premi besar di lini korporasi, tetapi masih bisa terkendali," ucapnya.

Baca Juga: Kejar Pertumbuhan AUM, BRI-MI Kolaborasi dengan Platform Digital Ayovest

Sementara itu, Wakil Ketua AAUI Bidang Statistik, Riset, dan Analisis Heri Supriyadi menerangkan memang ada perusahaan asuransi yang juga terdampak dari adanya bencana di Sumatra. 

Namun, dia bilang hanya perusahaan asuransi yang menggarap asuransi kredit di wilayah bencana saja yang memang kemungkinan merasakan kenaikan klaim properti. 

"Bagi yang punya jaringan kantor sampai ke Aceh, Padang, dan sebagainya yang terdampak bencana, pasti akan terdampak. Khususnya, kalau kreditnya diasuransikan, berarti asuransi kreditnya kena. Pasti ada, meskipun itu hanya mungkin satu atau dua perusahaan asuransi saja yang kena," ujar Heri.

Sebagai informasi, AAUI mencatat, premi dari lini asuransi properti tumbuh sebesar 6,5% YoY, menjadi Rp 8,31 triliun per Maret 2026. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News