Klaim Pengangguran AS Turun Dekati Level Terendah dalam 57 Tahun



KONTAN.CO.ID – WASHINGTON. Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) menunjukkan ketahanan di tengah ketidakpastian ekonomi global. Jumlah warga AS yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran turun ke level terendah dalam hampir 57 tahun pada pekan lalu, menandakan pemutusan hubungan kerja (PHK) masih rendah.

Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (22/10/2026) melaporkan, klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian turun 6.000 menjadi 194.000 klaim secara musiman pada pekan yang berakhir 17 Oktober 2026. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan perkiraan ekonom yang disurvei Reuters, yakni sebanyak 200.000 klaim.


Jumlah klaim tersebut mendekati level 189.000 yang tercatat pada pertengahan Juli lalu. Angka itu merupakan level terendah sejak 1969.

Para ekonom menilai, peningkatan keuntungan perusahaan di tengah kuatnya permintaan domestik membantu melindungi pekerja dari risiko PHK. Namun, terdapat kekhawatiran bahwa pengetatan kondisi keuangan dan kenaikan suku bunga akibat tekanan inflasi yang dipicu perang AS-Israel dengan Iran dapat melemahkan pasar tenaga kerja pada tahun depan.

Data klaim pengangguran tersebut mencakup periode ketika pemerintah melakukan survei terhadap perusahaan untuk menghitung komponen penggajian nonpertanian atau nonfarm payrolls dalam laporan ketenagakerjaan Oktober.

Baca Juga: Utang Zona Euro Membengkak, Prancis dan Italia Tertekan

Pada September 2026, jumlah tenaga kerja nonpertanian AS bertambah 29.000 pekerjaan, setelah meningkat 133.000 pekerjaan pada Agustus. Pertumbuhan lapangan kerja cenderung lebih lemah ketika Hari Buruh AS (Labor Day) jatuh relatif lebih akhir dalam bulan tersebut, seperti yang terjadi pada September.

Meski demikian, para ekonom masih menilai pasar tenaga kerja AS berada dalam kondisi low-hire, low-fire, yakni perusahaan cenderung membatasi perekrutan sekaligus tidak banyak melakukan PHK.

Ketidakpastian akibat perang dan kebijakan tarif impor turut menghambat perekrutan tenaga kerja.

Klaim Berkelanjutan Pengangguran AS Meningkat

Laporan Departemen Tenaga Kerja AS juga menunjukkan peningkatan jumlah orang yang masih menerima tunjangan pengangguran setelah pekan pertama bantuan. Indikator yang dikenal sebagai klaim berkelanjutan (continuing claims) ini kerap digunakan untuk melihat kondisi perekrutan tenaga kerja.

Pada pekan yang berakhir 10 Oktober 2026, klaim berkelanjutan meningkat 25.000 menjadi 1,728 juta secara musiman.

Namun, indikator tersebut tidak mencakup lulusan perguruan tinggi baru dan kelompok lain yang tidak memenuhi syarat untuk memperoleh tunjangan pengangguran karena memiliki sedikit atau tidak memiliki riwayat pekerjaan.

Selain itu, sebagian penganggur jangka panjang kemungkinan telah menghabiskan masa kelayakan menerima tunjangan. Di sebagian besar negara bagian AS, bantuan pengangguran dibatasi hingga 26 minggu. Kondisi tersebut turut menahan jumlah klaim berkelanjutan pada level yang relatif rendah.

Durasi median pengangguran pada September mencapai 11,5 minggu, mendekati level tertinggi dalam empat setengah tahun. Meski demikian, dengan tingkat pengangguran sebesar 4,2% pada bulan tersebut, pasar tenaga kerja dinilai belum menjadi sumber tekanan inflasi.

Baca Juga: Rencana Merger SpaceX-Tesla US$ 3,5 Triliun Bikin Resah, Ini Pemicunya

Prospek Kebijakan Suku Bunga The Fed

Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif stabil mengurangi kebutuhan Federal Reserve (The Fed) untuk memperketat kebijakan moneter secara agresif dalam menghadapi dampak inflasi akibat konflik di Timur Tengah.

Pada September 2026, bank sentral AS telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi kisaran 3,75%–4,00%.

Para ekonom memperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan pekan depan. Namun, kenaikan biaya pinjaman kembali diperkirakan terjadi pada Desember.

Perkembangan pasar tenaga kerja dan tekanan inflasi akan menjadi faktor penting bagi arah kebijakan moneter AS selanjutnya. Klaim pengangguran yang rendah menunjukkan PHK masih terkendali, tetapi peningkatan durasi pengangguran dan lemahnya perekrutan mengindikasikan bahwa pasar tenaga kerja belum sepenuhnya terbebas dari tekanan.

Kombinasi antara risiko inflasi, ketidakpastian geopolitik, tarif impor, dan kebijakan suku bunga akan menentukan seberapa kuat pasar tenaga kerja AS mampu bertahan dalam beberapa bulan mendatang.