KONTAN.CO.ID - WASHINGTON. Pasar tenaga kerja Amerika Serikat (AS) masih menunjukkan ketahanan meski perekrutan pekerja melambat. Jumlah warga AS yang mengajukan klaim baru tunjangan pengangguran turun pada pekan lalu, menandakan pemutusan hubungan kerja (PHK) tetap rendah. Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (20/8) melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran mencapai 206.000 pada pekan yang berakhir 15 Agustus 2026. Angka ini turun 6.000 dari pekan sebelumnya yang direvisi naik menjadi 212.000.
Hasil tersebut juga lebih baik dari perkiraan ekonom yang disurvei
Reuters sebesar 210.000 klaim.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun, Pasar Tenaga Kerja Tetap Solid Data terbaru menunjukkan pasar kerja AS relatif stabil, meski laporan ketenagakerjaan Juli memperlihatkan penurunan jumlah pekerjaan. Pada Juli, AS kehilangan 23.000 pekerjaan, terutama akibat berkurangnya lapangan kerja di sektor pendidikan pemerintah daerah. Di sisi lain, sektor swasta masih menambah 30.000 pekerjaan. "Permintaan tenaga kerja tetap lemah, tetapi pasokan pekerja melambat lebih jauh sehingga pasar tenaga kerja secara umum tetap seimbang," kata Matthew Martin, ekonom senior AS di Oxford Economics. Klaim pengangguran sejauh ini juga masih berada di sisi bawah kisaran 189.000-230.000 klaim sepanjang tahun ini. Bahkan, angka pekan lalu lebih rendah dibandingkan periode yang sama dalam tiga tahun terakhir. Kondisi tersebut menggambarkan pasar kerja AS yang cenderung berada dalam pola low-hire, low-fire, yakni perusahaan tidak banyak merekrut pekerja baru, tetapi juga belum meningkatkan PHK secara signifikan. Perkembangan ini turut memperkuat ekspektasi bahwa tingkat pengangguran AS masih relatif stabil. Tingkat pengangguran saat ini berada di 4,1%, masih dekat dengan level rendah secara historis.
Baca Juga: Klaim Pengangguran Mingguan AS Turun di Tengah Stabilitas Pasar Tenaga Kerja Jumlah penerima tunjangan pengangguran yang masih berlanjut setelah pekan pertama juga naik 18.000 menjadi 1,799 juta orang pada pekan yang berakhir 8 Agustus. Meski meningkat, angka tersebut tetap berada pada tren yang relatif rendah dan masih jauh di bawah level setahun sebelumnya. Data klaim terbaru juga mencakup periode survei untuk laporan ketenagakerjaan Agustus. Klaim tercatat 17.000 lebih tinggi dibandingkan periode survei Juli, ketika klaim berada di level terendah sejak 1969. Namun, ekonom menilai kenaikan tersebut belum menunjukkan perubahan besar dalam kondisi pasar kerja. Thomas Simons, Kepala Ekonom AS Jefferies, mengatakan data klaim pengangguran belakangan ini tidak cukup akurat untuk memprediksi perubahan jumlah pekerjaan bulanan. Stabilnya pasar tenaga kerja, ditambah tanda-tanda inflasi yang mulai moderat, dapat memberi ruang bagi Federal Reserve (The Fed) untuk mempertahankan suku bunga pada pertemuan September. Pasar saat ini juga masih memperkirakan The Fed akan menahan suku bunga pada September, meski inflasi AS masih berada di atas target 2% bank sentral selama sekitar lima tahun terakhir.
Di sisi lain, pertumbuhan angkatan kerja AS turut dipengaruhi oleh faktor demografi dan kebijakan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump.
Baca Juga: Klaim Pengangguran AS Turun ke 208.000, Pasar Tenaga Kerja Tetap Solid Populasi yang menua mendorong lebih banyak pekerja memasuki masa pensiun, sementara kebijakan imigrasi berpotensi membatasi pertumbuhan jumlah tenaga kerja. Dengan kondisi tersebut, penciptaan lapangan kerja yang lebih rendah masih dapat menjaga tingkat pengangguran tetap stabil. Ini membuat pasar tenaga kerja AS belum memberikan tekanan yang cukup besar bagi The Fed untuk segera mengubah arah kebijakan moneternya.