KONTAN.CO.ID - Jumlah warga Amerika Serikat (AS) yang mengajukan klaim awal tunjangan pengangguran turun tipis pada pekan lalu, tetap mencerminkan tingkat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang relatif rendah. Namun, lemahnya perekrutan tenaga kerja mulai memicu kekhawatiran rumah tangga terhadap kondisi pasar tenaga kerja. Departemen Tenaga Kerja AS pada Kamis (29/1/2026) melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran negara bagian turun 1.000 menjadi 209.000 klaim, setelah disesuaikan secara musiman, untuk pekan yang berakhir pada 24 Januari. Data pekan sebelumnya direvisi naik 10.000 menjadi 210.000 klaim.
Baca Juga: Defisit Perdagangan Kanada Membengkak pada November 2025, Imbas Penurunan Ekspor Ekonom yang disurvei Reuters sebelumnya memperkirakan klaim pengangguran berada di level 205.000. Data klaim tersebut juga mencakup libur nasional Martin Luther King Jr. Day pada Senin pekan lalu. Klaim pengangguran biasanya berfluktuasi di sekitar hari libur nasional. Data kali ini juga tercatat tidak stabil akibat tantangan penyesuaian musiman pada periode akhir tahun dan pergantian tahun. Volatilitas diperkirakan masih berlanjut dalam beberapa pekan ke depan, menyusul badai musim dingin yang melanda sebagian besar wilayah AS dengan salju dan suhu beku. Secara historis, klaim pengangguran masih berada di level rendah, seiring perusahaan menahan diri untuk melakukan PHK sambil mencermati kondisi ekonomi yang terus berubah, terutama terkait kebijakan tarif impor.
Baca Juga: Uni Eropa Jatuhkan Sanksi Baru bagi Iran, IRGC Segera Masuk Daftar Organisasi Teroris Meski United Parcel Service (UPS) dan Amazon.com mengumumkan pemangkasan tenaga kerja pekan ini, dampaknya terhadap data klaim diperkirakan terbatas. Pengalaman tahun lalu menunjukkan bahwa PHK berskala besar dari kedua perusahaan tersebut tidak memicu lonjakan signifikan klaim pengangguran. Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pada Rabu (28/1) bahwa indikator pasar tenaga kerja menunjukkan kondisi yang “mulai stabil setelah periode pelemahan bertahap”. Bank sentral AS sendiri mempertahankan suku bunga acuannya di kisaran 3,50%–3,75%.
Baca Juga: Konflik Global Dongkrak Bisnis Lockheed Martin, Proyeksi 2026 Lampaui Target Konsumen Mulai Pesimistis Jumlah penerima tunjangan pengangguran berkelanjutan yang mencerminkan tingkat perekrutan turun 38.000 menjadi 1,827 juta orang pada pekan yang berakhir 17 Januari. Namun, data klaim berkelanjutan juga terdampak persoalan penyesuaian musiman. Selain itu, sebagian penerima kemungkinan telah kehabisan masa manfaat tunjangan yang umumnya dibatasi hingga 26 minggu di sebagian besar negara bagian. Data klaim berkelanjutan ini mencakup periode survei rumah tangga yang digunakan pemerintah untuk menghitung tingkat pengangguran Januari. Tingkat pengangguran AS tercatat turun ke 4,4% pada Desember dari 4,5% pada November, dan diperkirakan masih bertahan di level tinggi bulan ini.
Baca Juga: China Hapus Kebijakan yang Bikin Krisis Properti, Tapi Industri Properti Belum Pulih Laporan Conference Board menunjukkan indikator ketenagakerjaan memburuk pada Januari. Ekonom menilai lemahnya perekrutan dipicu oleh ketidakpastian kebijakan tarif, operasi penegakan imigrasi yang mengurangi pasokan dan permintaan tenaga kerja, serta kehati-hatian perusahaan dalam perekrutan di tengah investasi besar-besaran pada teknologi kecerdasan buatan (AI).
Laporan ketenagakerjaan AS yang sangat dinantikan untuk Januari dijadwalkan rilis pekan depan. Namun, rilis tersebut berpotensi tertunda apabila pemerintah kembali mengalami penutupan sebagian (
partial shutdown), mengingat Kongres menghadapi tenggat pendanaan pada 30 Januari.