KONTAN.CO.ID - WASHINGTON — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan pernyataan keras terkait konfrontasi geopolitik di Timur Tengah, sembari menegaskan posisi Washington terhadap Iran dan rencananya menekan harga energi global. Dalam pernyataan terbarunya di Gedung Putih, Trump menuding rezim Teheran telah membantai 42.000 pengunjuk rasa tak bersenjata dalam kurun waktu dua hingga tiga bulan terakhir. Hanya saja klaim angka 42.000 korban jiwa merupakan klaim sepihak dari Trump, dan melampaui data verifikasi lembaga internasional saat ini. Di tengah perang dengan Iran, Donald Trump juga membuka konfrontasi dengan Vatikan.
Ekonomi RI di Ujung Tanduk?! Bank Dunia Bongkar Fakta Mengejutkan!
© 2026 Konten oleh Kontan
Blokade Selat Hormuz
Di sektor ekonomi dan militer, Trump mengklaim blokade terhadap Iran di Selat Hormuz berlangsung sangat "luar biasa" dan kuat. Menurutnya, Iran saat ini tidak memiliki Angkatan Laut, Angkatan Udara, maupun peralatan anti-pesawat yang tersisa setelah serangkaian serangan pesawat pengebom B2 milik AS. "Blokade ini lebih kuat daripada bom. Mereka tidak bisa berbisnis," klaim Trump. Ia juga mengklaim bahwa Teheran telah setuju untuk menyerahkan "debu nuklir" (nuclear dust) yang tersimpan jauh di bawah tanah. Target akhirnya adalah kesepakatan permanen tanpa batas waktu 20 tahun yang menjamin Iran nol senjata nuklir. Di sisi lain, kabar positif datang dari perbatasan Israel. Trump mengklaim telah berkomunikasi dengan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Presiden Lebanon. Gencatan senjata dijadwalkan akan segera aktif, dan para pemimpin tersebut diprediksi akan bertemu di Gedung Putih dalam 4-5 hari ke depan. Ini akan menjadi pertemuan pertama kedua negara bertetangga tersebut dalam 44 tahun terakhir. Baca Juga: Paus Leo XIV: Dunia Dikuasai Segelintir Tiran, Perang & Eksploitasi Harus DihentikanUPDATE STOK BBM DAN MINYAK MENTAH INDONESIA, DITENGAH KRISIS ENERGI GLOBAL
© 2026 Konten oleh Kontan