KONTAN.CO.ID - JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkap sejumlah hasil krusial dari lawatan diplomatiknya ke China. Berbicara di dalam pesawat kepresidenan dalam perjalanan pulang, Trump menegaskan bahwa Washington berhasil mengamankan komitmen ekonomi skala jumbo, serta mempertegas posisi geopolitik AS di wilayah Selat Hormuz, Taiwan, hingga pengawasan teknologi kecerdasan buatan alias Artificial Intelligence (AI). Baca Juga: Pejabat Ekonomi AS & China Berunding di Paris, Buka Jalan Menuju KTT Trump-Xi Jinping
Xi Jinping ke Trump: Kita Harusnya Jadi Mitra, Bukan Musuh!
© 2026 Konten oleh Kontan
Geopolitik
Sementara pada isu konflik di Timur Tengah, Donald Trump mengklaim strategi militernya telah mencetak kemenangan total atas Teheran, pasca operasi pemboman intensif menggunakan armada siluman B2 milik Angkatan Udara AS. Selain itu, blokade maritim yang diterapkan militer AS di Selat Hormuz dilaporkan berhasil memotong jalur logistik dan perdagangan energi Iran secara radikal. Berdasarkan hitungan logis, Trump menyebut Iran kehilangan potensi bisnis senilai kurang lebih US$ 500 juta per hari. Dengan blokade efektif yang berjalan selama sekitar 2,5 minggu terakhir, akumulasi kerugian ekonomi yang diderita Iran ditaksir melesat hingga kisaran US$ 8,75 miliar. Tonton: Negara Teluk Bongkar Jaringan Iran, Agen IRGC Ditangkap di Kuwait hingga Bahrain! "Kami mengontrol penuh jalur selat tersebut dan mereka praktis tidak bisa melakukan bisnis sama sekali. Angkatan Laut, Angkatan Udara, radar, hingga sistem antipesawat mereka telah dilumpuhkan," klaim Trump secara agresif. Kendati jurnalis sempat mempertanyakan laporan intelijen global dan pemberitaan media barat seperti The New York Times yang mensinyalir kemampuan peluncur rudal Iran masih akurat, Trump tegas membantah isu tersebut sebagai berita palsu. Trump bersikeras bahwa kapasitas manufaktur rudal Iran telah ambruk 80% hingga 85%, sementara infrastruktur peluncur rudal mereka sudah 80% hancur. Terkait kelanjutan negosiasi nuklir, Trump menegaskan kesepakatan baru dengan Iran harus berupa denuklirisasi total berjangka waktu minimal 20 tahun yang mencakup penarikan seluruh bahan bakar nuklir dan penghentian produksi. Menariknya, pihak Iran dia klaim mengakui secara langsung bahwa mereka tidak memiliki teknologi dan traktor khusus untuk membersihkan debu sisa nuklir atau nuclear dust akibat serangan bom B2, sehingga pembersihan tersebut hanya bisa dieksekusi menggunakan peralatan milik AS atau China. Trump menyatakan AS bersedia melakukan operasi pembersihan tersebut pada momentum yang tepat jika Iran mau menyerah total.Jamaah Aceh Dapat Uang Saku SAR 2.000 per Orang dari Wakaf Abadi Leluhur
© 2026 Konten oleh Kontan