Klasemen Market Cap BEI Bergeser, BBCA Kembali Teratas, DCII Menyalip BREN



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Klasemen saham dengan kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali bergeser. Berbeda dengan akhir 2025, kini saham berlikuiditas rendah justru masuk ke jajaran papan atas. 

Pada akhir 2025, PT Barito Renewable Energy Tbk (BREN) berada di puncak klasemen sebagai saham dengan kapitalisasi pasar tertinggi di Bursa Efek Indonesia (BEI). Per 30 Desember 2025, market cap BREN mencapai Rp 1.298 triliun. 

Di urutan kedua ada saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dengan kapitalisasi pasar mencapai Rp 985 triliun atau setara dengan 6,22% dari total market cap BEI. Menyusul saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) dengan market cap Rp 778 triliun.  


Baca Juga: IHSG Diproyeksikan Bisa Sentuh 7.000 pada Akhir Tahun 2026, Ini Penggeraknya

Kemudian ada saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan nilai kapitalisasi pasar Rp 606 triliun. Lalu di urutan kelima ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan market cap sebesar Rp 549 triliun. 

Komposisi jajaran lima terbesar itu mengalami pergeseran di awal semester II-2026. Per Senin (13/7/2026), saham BBCA menduduki posisi puncak dengan market cap Rp 760 triliun atau setara dengan 7,23% dari total market cap di BEI. 

Urutan kedua dipegang oleh saham PT DCI Indonesia Tbk (DCII) dengan kapitalisasi pasar Rp 475 triliun. DCII berhasil menggesar BREN, di mana saham emiten Prajogo Pangestu itu memiliki market cap sebesar Rp 4232 triliun.

Lalu di urutan keempat, ada saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) dengan market cap senilai Rp 431 triliun. Kelima ada, masih dari Himbara ada PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan market cap Rp 393 triliun. 

Namun kalau dilihat dari komposisi tersebut ada beberapa saham dengan likuiditas rendah. Misalnya, DCII dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) yang masuk ke dalam jajaran 10 besar. 

Pada perdagangan Senin (13/7/2026), volume transaksi DCII hanya 500 saham dengan nilai transaksi Rp 94,90 juta. Kemudian nilai transaksi MORA hanya Rp 5,62 miliar dengan volume sebesar 842.400. 

Baca Juga: Rotasi Sentimen AI dan Aturan Modal Jadi Daya Tarik Reksadana Saham Dolar

Investment Advisor Phintraco Sekuritas Alrich Paskalis menjelaskan, besarnya kapitalisasi pasar DCII dan MORA tidak otomatis membuat kedua saham tersebut menjadi penggerak utama Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

"DCII dan MORA memiliki market cap yang besar, tetapi free float-nya relatif kecil. Akibatnya, kontribusinya terhadap pergerakan IHSG tidak sebesar yang terlihat dari nilai market cap-nya," ujar Alrich kepada Kontan, Senin (13/7/2026).

Menurut Alrich, saham dengan transaksi aktif seperti BBCA, BBRI, BMRI, TLKM maupun ASII tetap memiliki pengaruh lebih besar terhadap arah IHSG. Arus dana investor institusi juga cenderung terkonsentrasi pada saham-saham yang lebih likuid.

Setali tiga uang, Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus menyebut bobot saham berlikuiditas rendah dalam praktiknya tidak terlalu besar terhadap pergerakan indeks meski kapitalisasi pasarnya tinggi.

"IHSG secara praktik justru lebih didominasi oleh saham seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan TLKM. Mereka aktif diperdagangkan sehingga memiliki pengaruh lebih besar terhadap indeks," kata Nico.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menimpali kapitalisasi pasar memang menjadi salah satu penentu bobot saham terhadap IHSG. Namun, likuiditas transaksi tetap menjadi faktor penting dalam mencerminkan kondisi pasar secara keseluruhan.

"Pada saham dengan likuiditas rendah seperti DCII maupun MORA, perubahan harga yang besar belum tentu mencerminkan perubahan sentimen pasar secara luas," jelasnya.

Baca Juga: Solusi Bangun Indonesia (SMCB) Melikuidasi Anak Usaha, Simak Detailnya

Dus, Nafan menyarankan investor tidak hanya berpatokan pada pergerakan saham berkapitalisasi besar. Investor juga perlu mencermati breadth market, nilai transaksi, serta partisipasi saham-saham likuid seperti anggota indeks LQ45 maupun IDX80.

Untuk paruh kedua ini, Nafan bilang saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih menjadi kandidat utama untuk kembali meningkatkan nilai kapitalisasi pasar. Fundamental yang kuat, likuiditas tinggi, dan dominasi investor institusi menjadi penopang utama. 

"Secara keseluruhan, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar masih memiliki peluang paling konsisten meningkatkan kapitalisasi pasar pada semester kedua tahun ini,” ujar Nafan.

Selain perbankan, Nafan menyebut saham TLKM berpotensi mengalami re-rating apabila monetisasi aset digital dan efisiensi bisnis berlanjut. Adapun BREN, AMMN, BYAN, DCII, dan MORA akan lebih bergantung pada katalis sektoral masing-masing.

Sementara, Alrich memproyeksikan ada peluang kenaikan kapitalisasi pasar akan berbeda pada setiap emiten. Prospek tersebut sangat bergantung pada sektor usaha serta katalis fundamental yang dimiliki masing-masing saham.

"BBCA, BBRI, dan BMRI masih berpeluang menjadi mover utama kenaikan market cap jika investor asing kembali melakukan akumulasi," ujar Alrich.

Dia menyebut valuasi sektor perbankan saat ini sudah lebih menarik dibanding beberapa tahun terakhir. Sementara itu, TLKM juga berpotensi mengalami re-rating apabila kinerja data center, IndiHome, serta efisiensi operasional terus membaik.

Alrich bilang ASII berpeluang memperoleh sentimen positif apabila konsumsi domestik dan penjualan otomotif pulih pada semester II. Sementara AMMN, BREN, dan BYAN masih akan dipengaruhi harga komoditas serta perkembangan proyek masing-masing.

Bahkan, Alrich menyebut BBCA menjadi kandidat terkuat untuk kembali menembus kapitalisasi pasar Rp 1.000 triliun apabila sentimen pasar membaik. Sebaliknya, peluang DCII lebih bergantung pada pertumbuhan bisnis data center dan peningkatan likuiditas perdagangan

"Peluang BBCA menjadi emiten pertama yang kembali menembus kapitalisasi Rp 1.000 triliun lebih besar dibanding emiten lainnya," kata Alrich.

Di sisi lain, Nico memperkirakan komposisi saham berkapitalisasi besar masih akan didominasi sektor perbankan pada semester dua ini. Dia bahkan melihat peluang BBNI kembali masuk jajaran sepuluh besar kapitalisasi pasar BEI.

“Masih akan didominasi oleh BBCA, BBRI, BMRI, TLKM, ASII, dan BBNI. Fundamental BBNI kuat dengan valuasi yang masih menarik," ucap Nico.

Nico menambahkan peluang munculnya kembali saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 1.000 triliun masih bergantung pada sentimen pasar dan arah kebijakan. Menurutnya, peningkatan kepercayaan investor akan menjadi faktor yang paling menentukan.

"Harapan kami bukan hanya dari sentimen semata, tetapi juga kebijakan yang mampu meningkatkan kepercayaan pelaku pasar dan investor," ucapnya. 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News