KONTAN.CO.ID – MADINAH. Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) pada penyelenggaraan haji 2026 menghadirkan skema layanan baru dengan mengedepankan penanganan cepat berbasis rawat jalan selama 24 jam, tanpa menyediakan fasilitas rawat inap. Kepala Seksi Kesehatan Daerah Kerja (Daker) Makkah, Edi Supriyatna mengatakan, Klinik Kesehatan Haji Indonesia (KKHI) tahun 2026 menghadirkan sistem layanan baru dengan konsep Urgent Care Center (UCC) selama 24 jam tanpa fasilitas rawat inap. Kebijakan ini menjadi salah satu pembeda utama dibandingkan penyelenggaraan haji tahun sebelumnya.
“Seluruh personel kesehatan telah siap memberikan pelayanan kepada jamaah. Total ada 122 personel, terdiri dari 54 di KKHI Makkah dan 68 lainnya tersebar di 10 sektor,” ujarnya, dalam keteranganya kepada Tim Media Center Haji, Selasa (28/4/2026).
Baca Juga: Kloter Pertama Jamaah Haji Indonesia Menuju Tanah Suci Selain itu, KKHI tahun ini juga memperkuat aspek legalitas layanan dengan menggandeng pihak ketiga, yaitu Saudi German Hospital, untuk memfasilitasi perizinan sesuai regulasi pemerintah Arab Saudi. “Setiap pelayanan kesehatan di Arab Saudi wajib bekerja sama dengan pihak ketiga. Tahun ini seluruh perizinan difasilitasi oleh Saudi German Hospital,” jelasnya. Berdasarkan ketentuan, setiap 5.000 jamaah harus dilayani oleh satu klinik. Dengan jumlah jamaah Indonesia, KKHI menyiapkan sekitar 47 pos kesehatan yang tersebar di Makkah, sektor, Madinah, hingga Armuzna. Dalam implementasinya, layanan kesehatan dibagi berdasarkan tingkat kegawatdaruratan. Kasus berat (level 1–2) langsung dirujuk ke rumah sakit Arab Saudi, level 3 ditangani di KKHI, sementara kasus ringan (level 4–5) dikelola di pos kesehatan satelit oleh tim kloter.
Baca Juga: Dua Jemaah Haji Indonesia Wafat di Madinah “Tahun ini tidak ada rawat inap di KKHI. Semua berbasis rawat jalan, tindakan, dan rujukan,” tegas Edi.
KKHI juga dilengkapi fasilitas radiologi dan laboratorium, yang tidak tersedia di pos kesehatan sektor. Terkait tingginya jumlah jamaah risiko tinggi (risti) yang mencapai lebih dari 70%, termasuk lansia sekitar 30%. "Inilah pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memberikan perlindungan. Lansia membutuhkan perhatian khusus, baik dari sisi kesehatan, transportasi, maupun akomodasi,” katanya. Ia juga mengimbau jamaah untuk menjaga kondisi tubuh dengan rutin minum air minimal 200 ml per jam, menghindari paparan panas berlebih, serta beristirahat sebelum menjalankan ibadah, terutama setelah tiba dari Madinah. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News