Kobexindo Tractors (KOBX) Yakin Permintaan Alat Berat Tahun Ini Tetap Tinggi



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Emiten alat berat PT Kobexindo Tractors Tbk (KOBX) yakin permintaan alat berat akan tetap tinggi pada 2023. Emiten ini masih mencermati tren penjualan dan kondisi pasar batubara serta perekonomian global yang tampak volatile

Wakil Presiden Direktur Kobexindo Tractors Martio meyakini permintaan alat berat KOBX baik untuk sektor pertambangan maupun non pertambangan akan tetap melonjak pada tahun ini. Kebutuhan alat berat bakal tetap ada baik sebagai armada baru maupun peremajaan armada, terutama bagi perusahaan-perusahaan tambang. 

"Kami mencermati parameter utama yakni suplai dan permintaan batubara yang berimbas kepada harga komoditas ini yang belakangan terus terkoreksi," ungkap dia, Jumat (14/4). 


Dia menyebut, euforia atau lonjakan penjualan alat berat global terjadi pada kuartal akhir 2020 dan mencapai puncaknya pada 2021 lalu. Namun, tren tersebut mengendur pada tahun berikutnya sebagai akibat dari ancaman inflasi dan kenaikan suku bunga acuan global. Kedua faktor tadi juga dipengaruhi oleh dinamika konflik geopolitik Rusia-Ukraina sejak tahun lalu. 

Baca Juga: Laba Bersih Turun pada 2022, Simak Penjelasan Kobexindo Tractors (KOBX)

Sejauh ini, KOBX menyediakan merek alat berat pertambangan seperti Doosan, Terex, dan Mercedes-Benz. "Kobexindo juga akan merilis produk baru unggulan, namun kami belum dapat sampaikan secara detail," imbuh dia. 

KOBX menyiapkan capital expenditure (capex) atau belanja modal sebesar US$ 4 juta pada 2023 guna mendukung operasional dan peremajaan unit rental alat berat.

Baca Juga: Segmen Penjualan Suku Cadang Turut Menjadi Pendongkrak Kinerja Kobexindo Tahun 2022

KOBX belum merilis target resmi untuk pendapatan dan laba bersih KOBX tahun 2023. Tahun lalu, pendapatan bersih KOBX naik 41,23% secara year on year (YoY) menjadi US$ 168,52 juta.

Tetapi laba bersih KOBX turun 69,23% (YoY) menjadi US$ 4,16 juta. Martio mengatakan, ada dua faktor utama di balik penurunan laba bersih perusahaan tersebut, yakni rugi kurs dan perubahan metode pencatatan akuntansi nilai properti investasi. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Wahyu T.Rahmawati