KONTAN.CO.ID-JAKARTA. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa membantah anggapan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati level Rp 18.000 per dolar AS disebabkan oleh pengelolaan fiskal pemerintah yang buruk. Menurut Purbaya, pelemahan rupiah dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh sentimen dan rumor yang berkembang di pasar, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi maupun kondisi fiskal Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). "Kalau kita lihat, tiba-tiba saja penguatannya, pelemahannya satu-dua hari ini karena ada isu macam-macam, ada rumor macam-macam di pasar," ujar Purbaya kepada awak media di Gedung Parlemen, Rabu (3/6/2026).
Ia mencontohkan salah satu rumor yang beredar di pasar terkait dirinya yang disebut meminta perbankan melakukan
stress test apabila nilai tukar rupiah menembus Rp 18.000 per dolar AS.
Baca Juga: Rupiah Jisdor Menguat 0,11% ke Rp 17.863 per Dolar AS pada Selasa (2/6/2026) "Ada yang bilang saya suruh perbankan melakukan
stress test kalau rupiahnya Rp 18.000 lebih. Padahal saya enggak pernah isu seperti itu. Jadi banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen ke rupiah negatif," katanya. Purbaya menegaskan tugas pemerintah adalah menjaga fundamental ekonomi agar tetap kuat. Menurutnya, nilai tukar pada akhirnya akan ditentukan oleh kondisi ekonomi yang sehat dan berkelanjutan. "Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi saja. Supaya ekonominya berjalan terus semakin cepat. Karena pada akhirnya kita percaya rupiah akan ditentukan oleh fondasi ekonominya," ujarnya. Saat disinggung terkait pelemahan rupiah juga dipicu oleh kebijakan fiskal pemerintah, Purbaya secara tegas membantah tudingan tersebut. "Enggak ada. Anda pasti menuduh kebijakan fiskal, kan? Banyak yang bilang gara-gara fiskalnya berantakan. Tapi enggak begitu. Kita makin bagus," tegasnya.
Baca Juga: Makin Loyo, Rupiah Spot Melemah 0,42% ke Rp 17.876 per Dolar AS, Kamis (28/5) Siang Purbaya mengungkapkan kondisi fiskal pemerintah justru menunjukkan perbaikan. Ia menyebut, posisi APBN hingga Mei 2026 membaik dibandingkan bulan sebelumnya. "Bulan Mei surplus primernya positif lagi, lebih tinggi dibanding bulan April. Pendapatan pajak kita lebih bagus dibanding tahun lalu. Tumbuhnya 22% lebih," ungkapnya. Menurut Purbaya, perbaikan penerimaan negara tersebut menunjukkan reformasi perpajakan yang dijalankan pemerintah mulai memberikan hasil. "Reformasi di perpajakan sudah menghasilkan peningkatan pendapatan perpajakan yang amat signifikan. Sehingga anggaran kita amat aman," katanya. Ia juga menegaskan tidak melihat adanya persoalan pada kondisi fiskal Indonesia saat ini. Penilaian tersebut sejalan dengan pandangan lembaga pemeringkat internasional terhadap kondisi fiskal Indonesia. "Saya sih enggak ada masalah. Kalau melihat kondisi fiskal kita, saya sih enggak ada masalah," ujarnya.
Baca Juga: Rupiah Melemah Jadi Rp 17.801 per Dolar AS, Pasar Soroti Kebijakan Ekspor Lewat DSI Terkait upaya penguatan rupiah, Purbaya mengatakan implementasi kebijakan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang kini mulai berjalan diharapkan dapat memberikan tambahan pasokan valas secara bertahap ke pasar domestik.
"Ini kan baru masuk sekarang. Uangnya belum langsung masuk. Nanti bertahap akan naik terus," katanya. Purbaya memperkirakan dampak kebijakan tersebut mulai terlihat pada akhir bulan. Selain itu, meredanya berbagai rumor negatif di pasar juga diyakini akan membantu pemulihan nilai tukar rupiah. "Harusnya akhir bulan sudah mulai kelihatan penguatnya. Dan nanti saya pikir begitu rumors-nya sudah mulai hilang, ini akan naik juga rupiah. Soalnya fundamentalnya bagus, enggak ada masalah ekonominya," pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News