Unggas, khususnya ayam merupakan sumber protein hewani yang paling populer untuk di konsumsi di Indonesia. Apalagi saat harga daging sapi mahal. Makanya, tidak mengherankan kalau, para pedangan daging ayam di RPU Penggaron, Semarang, tetap bisa bertahan, walaupun kondisi di sentra unggas tersebut masih terbilang sepi. Dan kondisi masing-masing pedagang juga berbeda-beda tergantung kepintaran mereka berusaha.Contohnya Wiwik Rumiyati. Ia termasuk pedagang unggas yang paling lengkap di sentra unggas Penggaron. Ia menawarkan ayam potong broiler, ayam petelur, ayam kampung, bebek dan angsa. Semua unggas itu dijual dalam keadaan hidup. Maka, tentu pelanggannya adalah pembeli yang ingin unggas dalam keadaan fresh sekali.Ia mendapat pasokan unggas dari peternak di Boyolali. Ia merawat unggas dagangannya yang belum terjual. Misalnya dengan memberi pakan bekatul. Dalam dua minggu ia bisa menghabiskan 50 kilogram (kg) bekatul selama dua minggu. Harganya berkisar Rp 2.000-Rp 2.500 per kg.Tidak semua pembelinya berbelanja unggas untuk dimasak. Tidak jarang ada pembeli yang belanja untuk dipelihara lagi.Harga pada saat ini, menurut Wiwik, ayam potong Rp 25.000 per kg, sementara ayam petelur berkisar Rp 40.000 - Rp 45.000 per ekor, dan ayam kampung dibanderol Rp 80.0000 per ekor tergantung ukuran. Sedangkan, bebek dan angsa dihargai Rp 40.000 - Rp 50.000 per ekor. Ia mengaku bisa menjual hingga150 ekor unggas. Maka, tak heran, walaupun sepi Wiwik masih bisa meraih omzet Rp 180 juta sebulan. Ia juga menawarkan jasa antar gratis untuk pesanan di sekitar Penggaron. "Di luar wilayah itu biayanya Rp 1.000 per ekor," ujarnya.Nah, pembeli yang enggan membawa unggas dalam kondisi hidup, biasanya langsung menyambangi kios-kios pemotong unggas yang letaknya di depan kios pedagang unggas. Salah seorang pemilik kios pemotongan unggas, Prayogo bilang, ongkos potong satu ekor unggas sekitar Rp 700. Setiap hari, ia mengaku, bisa memotong sekitar 100 ekor. Alhasil, ia bisa mengantongi omzet Rp 22 juta sebulan.Sistem potong unggas di sini sudah menggunakan mesin. Kata Prayogo, unggas yang masih hidup terlebih dahulu disembelih, kemudian dimasukkan ke dalam mesin yang secara otomatis bisa membersihkan bulu unggas. Selanjutnya, dibantu ketiga pekerjanya, Prayogo membersihkan bagian dalam tubuh unggas, serta memisahkan bagian jeroan dan daging. "Biasanya pelanggan minta sampai siap olah saja, tidak sampai dipotong-potong. Tapi, kalau ada permintaan, bisa langsung kami potong," ujar pria yang mengaku punya langganan berbagai rumah makan ini. Pantas dicatat bahwa kebersihan lokasi ini sangat terjaga. Pengurus Paguyuban Pedagang RPU Penggaron, Abror bilang, limbah berupa bulu, darah dan kotoran unggas dikelola secara profesional. "Limbah disedot ke tempat pembuangan limbah, sehingga sirkulasi lancar dan kesehatan hewan terjaga," tuturnya. (Bersambung)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News
Komplit, terjaga pula kebersihannya (2)
Unggas, khususnya ayam merupakan sumber protein hewani yang paling populer untuk di konsumsi di Indonesia. Apalagi saat harga daging sapi mahal. Makanya, tidak mengherankan kalau, para pedangan daging ayam di RPU Penggaron, Semarang, tetap bisa bertahan, walaupun kondisi di sentra unggas tersebut masih terbilang sepi. Dan kondisi masing-masing pedagang juga berbeda-beda tergantung kepintaran mereka berusaha.Contohnya Wiwik Rumiyati. Ia termasuk pedagang unggas yang paling lengkap di sentra unggas Penggaron. Ia menawarkan ayam potong broiler, ayam petelur, ayam kampung, bebek dan angsa. Semua unggas itu dijual dalam keadaan hidup. Maka, tentu pelanggannya adalah pembeli yang ingin unggas dalam keadaan fresh sekali.Ia mendapat pasokan unggas dari peternak di Boyolali. Ia merawat unggas dagangannya yang belum terjual. Misalnya dengan memberi pakan bekatul. Dalam dua minggu ia bisa menghabiskan 50 kilogram (kg) bekatul selama dua minggu. Harganya berkisar Rp 2.000-Rp 2.500 per kg.Tidak semua pembelinya berbelanja unggas untuk dimasak. Tidak jarang ada pembeli yang belanja untuk dipelihara lagi.Harga pada saat ini, menurut Wiwik, ayam potong Rp 25.000 per kg, sementara ayam petelur berkisar Rp 40.000 - Rp 45.000 per ekor, dan ayam kampung dibanderol Rp 80.0000 per ekor tergantung ukuran. Sedangkan, bebek dan angsa dihargai Rp 40.000 - Rp 50.000 per ekor. Ia mengaku bisa menjual hingga150 ekor unggas. Maka, tak heran, walaupun sepi Wiwik masih bisa meraih omzet Rp 180 juta sebulan. Ia juga menawarkan jasa antar gratis untuk pesanan di sekitar Penggaron. "Di luar wilayah itu biayanya Rp 1.000 per ekor," ujarnya.Nah, pembeli yang enggan membawa unggas dalam kondisi hidup, biasanya langsung menyambangi kios-kios pemotong unggas yang letaknya di depan kios pedagang unggas. Salah seorang pemilik kios pemotongan unggas, Prayogo bilang, ongkos potong satu ekor unggas sekitar Rp 700. Setiap hari, ia mengaku, bisa memotong sekitar 100 ekor. Alhasil, ia bisa mengantongi omzet Rp 22 juta sebulan.Sistem potong unggas di sini sudah menggunakan mesin. Kata Prayogo, unggas yang masih hidup terlebih dahulu disembelih, kemudian dimasukkan ke dalam mesin yang secara otomatis bisa membersihkan bulu unggas. Selanjutnya, dibantu ketiga pekerjanya, Prayogo membersihkan bagian dalam tubuh unggas, serta memisahkan bagian jeroan dan daging. "Biasanya pelanggan minta sampai siap olah saja, tidak sampai dipotong-potong. Tapi, kalau ada permintaan, bisa langsung kami potong," ujar pria yang mengaku punya langganan berbagai rumah makan ini. Pantas dicatat bahwa kebersihan lokasi ini sangat terjaga. Pengurus Paguyuban Pedagang RPU Penggaron, Abror bilang, limbah berupa bulu, darah dan kotoran unggas dikelola secara profesional. "Limbah disedot ke tempat pembuangan limbah, sehingga sirkulasi lancar dan kesehatan hewan terjaga," tuturnya. (Bersambung)Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News