KONTAN.CO.ID - Kondisi bisnis di Australia bertahan stabil pada Juni, sementara kepercayaan pelaku usaha membaik seiring meredanya tekanan biaya setelah tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran untuk mengakhiri konflik mereka. Namun, ketegangan yang kembali meningkat di Timur Tengah dalam beberapa hari terakhir kembali mendorong kenaikan harga minyak.
Baca Juga: Bursa Asia Fluktuatif Selasa (14/7) Pagi, Ancaman Tarif Hormuz Trump Guncang Pasar Berdasarkan survei yang dirilis National Australia Bank (NAB) pada Selasa (14/7/2026), indeks kondisi bisnis tetap berada di level +3 pada Juni, sama seperti dua bulan sebelumnya. Sementara itu, indeks kepercayaan bisnis membaik menjadi -5, dibandingkan -14 pada Mei, meski masih berada di wilayah negatif. Perbaikan sentimen tersebut didorong oleh perkembangan positif di Timur Tengah setelah AS dan Iran menandatangani kesepakatan untuk mengakhiri perang yang berlangsung selama beberapa bulan dan sempat memicu guncangan pada pasar energi global. Survei NAB juga menunjukkan, pertumbuhan harga produk melambat ke level yang terakhir terlihat pada Februari. Bahkan, harga ritel turun untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun.
Baca Juga: Julukan VARgentina Kembali Menggema, Apa yang Terjadi di Piala Dunia 2026? "Dalam konteks makroekonomi yang lebih luas, hasil survei bisnis masih konsisten dengan perlambatan pertumbuhan aktivitas ekonomi sepanjang paruh pertama 2026. Namun, survei juga menunjukkan dampak konflik Timur Tengah terhadap aktivitas ekonomi dan tekanan harga ternyata tidak separah yang sebelumnya dikhawatirkan," tulis NAB dalam laporannya. Meski demikian, situasi di kawasan Teluk kembali memanas pada pekan ini. Amerika Serikat melanjutkan serangan militernya terhadap Iran dan kembali memberlakukan blokade terhadap pelayaran melalui Selat Hormuz.
Perkembangan tersebut mendorong harga minyak mentah Brent naik sekitar 2% menjadi US$ 85 per barel, level tertinggi sejak pertengahan Juni, setelah sehari sebelumnya melonjak hampir 10%.
Baca Juga: Harga Minyak Dunia Sentuh Level Tertinggi Sebulan Selasa (14/7), Brent ke US$ 84,98 Di sisi kebijakan moneter, Reserve Bank of Australia (RBA) telah menaikkan suku bunga acuan sebanyak tiga kali sepanjang tahun ini hingga mencapai 4,35% sebagai upaya meredam dampak lonjakan harga energi global. Pada pertemuan terakhir bulan Juni, RBA mempertahankan suku bunga, namun menegaskan bahwa peluang pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut masih tetap terbuka apabila diperlukan.