KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Antusiasme investor terhadap instrumen SR024 lebih besar dibandingkan Surat Berharga Negara (SBN) Ritel seri sebelumnya. Berdasarkan data per Senin (13/4/2026) pukul 17.15 WIB, sisa kuota untuk tenor tiga tahun (SR024-T3) tinggal 10,2% atau sekitar Rp 1,22 triliun. Sementara itu, tenor lima tahun (SR024-T5) masih menyisakan 13,2% atau sekitar Rp 726,03 miliar. Adapun imbal hasil yang ditawarkan masing-masing sebesar 5,55% untuk SR024-T3 dan 5,9% untuk SR024-T5. Masa penawaran instrumen ini berlangsung sejak 6 Maret hingga 15 April 2026.
Baca Juga: Penjualan Alat Berat dan Batubara United Tractors (UNTR) Terkoreksi per Februari 2026 Antusiasme investor ritel di SBN seri ini terpantau cukup besar. Ekonom Universitas Andalas, Syafruddin Karimi, menilai tingginya minat investor pada SR024 tidak terlepas dari kondisi pasar yang sedang mencari kepastian imbal hasil. Di tengah tekanan global, seperti pelemahan rupiah hingga di kisaran Rp 17.105 per dolar Amerika Serikat (AS), lonjakan harga minyak, serta pergerakan pasar saham yang cenderung rapuh, investor ritel beralih ke instrumen yang lebih stabil. “Dalam suasana seperti itu, investor ritel cenderung masuk ke instrumen yang memberi arus kas bulanan tetap, dijamin negara, dan mudah dipahami,” ujar Syafruddin kepada Kontan, Senin (13/4/2026). Ia menambahkan, faktor lain yang turut mendorong permintaan adalah pergeseran preferensi risiko investor. Dibandingkan dengan seri sebelumnya, seperti ORI029 yang penjualannya hanya mencapai sekitar Rp 14,44 triliun dari kuota Rp 25 triliun, SR024 dinilai memiliki
positioning yang lebih kuat. Selain kupon yang kompetitif, unsur syariah juga memperluas basis investor. Lebih lanjut, Syafruddin melihat kecenderungan investor saat ini lebih memilih tenor pendek. Hal ini tercermin dari penyerapan SR024-T3 yang lebih cepat dibandingkan SR024-T5. Menurutnya, pilihan tenor pendek memberikan fleksibilitas lebih tinggi di tengah ketidakpastian arah suku bunga global dan sentimen geopolitik. Investor cenderung menghindari risiko perubahan harga dengan memilih durasi investasi yang lebih singkat.
Baca Juga: IHSG Berhasil Menguat Hari Ini (13/4), Intip Pergerakannya Pada Selasa (14/4) Ia juga menyoroti data lelang SBSN memberi bukti yang kuat. Pada akhir Maret hingga awal April 2026, instrumen syariah negara tenor 1 tahun berulang kali terserap sangat besar, mulai dari Rp 5 triliun, lalu Rp 11,8 triliun, Rp 12 triliun, dan Rp 11 triliun.
Yield-nya juga naik dari 5,45% menjadi 5,76%, yang menunjukkan pasar tetap masuk, tetapi memilih durasi yang lebih aman. Pola itu sejalan dengan SR024, di mana tenor 3 tahun bergerak lebih cepat daripada tenor 5 tahun. “Investor tetap menginginkan
return, tetapi investor juga ingin dana lebih cepat kembali agar bisa menyesuaikan keputusan saat arah pasar berubah,” pungkasnya. Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News