KONTAN.CO.ID - Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran kembali memanas setelah Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan Iran tidak menunjukkan keseriusan untuk berunding mengakhiri perang. Di saat yang sama, gangguan terhadap jalur pelayaran energi global semakin meluas setelah lebih banyak kapal tanker minyak Saudi mengubah rute pelayarannya di Laut Merah.
Baca Juga: Philip Morris Pangkas Proyeksi Laba 2026 untuk Ketiga Kalinya, Ini Pemicunya Rubio mengatakan Washington tetap terbuka untuk jalur diplomasi, tetapi menilai Teheran belum menunjukkan komitmen yang sama. "Masalah yang kami hadapi saat ini adalah mereka tidak serius untuk berunding. Jika mereka serius, kami juga serius. Jika tidak, kami akan melakukan apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan kami dan sekutu kami," ujar Rubio dalam pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Manila, Rabu (22/7/2026). Di sektor energi, empat kapal tanker yang mengangkut minyak mentah Saudi menuju Asia berbalik arah di Laut Merah pada Rabu. Sehari sebelumnya, tiga kapal tanker lainnya juga mengambil langkah serupa setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menyerang kapal yang mengangkut minyak Saudi.
Baca Juga: Impor Minyak Nabati India Diproyeksi Naik hingga Oktober, Harga CPO Bakal Menguat Gangguan tersebut memperburuk risiko terhadap rantai pasok energi global. Sebelumnya, Iran telah mengancam pelayaran melalui Selat Hormuz, sementara ancaman Houthi kini mengarah ke jalur Laut Merah melalui Selat Bab el-Mandeb, dua jalur pelayaran energi paling penting di dunia. Akibat ancaman tersebut, sebagian besar ekspor minyak Saudi dialihkan menuju pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Namun, jika kapal harus menghindari Bab el-Mandeb dan memilih rute melalui Terusan Suez, waktu pengiriman ke Asia akan bertambah hingga beberapa pekan. Seorang pejabat senior Iran sebelumnya mengatakan kepada Reuters bahwa para mediator telah mengajukan proposal gencatan senjata selama 10 hari untuk menyelamatkan kesepakatan penghentian sementara konflik yang dicapai pada Juni lalu. Namun, sejumlah analis menilai ancaman terbaru terhadap pelayaran merupakan bagian dari strategi Iran untuk memperkuat posisi tawarnya dalam perundingan.
Baca Juga: Harga Minyak Melonjak Lebih dari 4%, Konflik Mengancam Jalur Transit Minyak Utama "Teheran sedang berupaya menciptakan daya tawar dalam proses negosiasi," kata Mahmoud Shehrah, Associate Fellow Program Timur Tengah dan Afrika Utara di Chatham House. Sementara itu, Pakistan yang menjadi salah satu mediator mengecam ancaman Houthi terhadap ekspor minyak Saudi. Islamabad menegaskan seluruh pihak harus menjamin keamanan pelayaran internasional dan menghormati hukum internasional. Di medan perang, militer AS kembali melancarkan serangan ke sejumlah target di Iran untuk hari ke-11 berturut-turut. Serangan terbaru dilaporkan menyasar beberapa lokasi di Provinsi Bushehr, termasuk wilayah dekat pembangkit listrik tenaga nuklir satu-satunya milik Iran. Sebagai balasan, militer Iran mengklaim menyerang fasilitas militer AS di Yordania dan Bahrain menggunakan drone bunuh diri Arash. Pemerintah Yordania menyatakan berhasil menembak jatuh empat drone Iran dan mencegat enam rudal, meski Reuters belum dapat memverifikasi klaim tersebut.
Baca Juga: JD.com Terancam Dakwaan Subsidi Uni Eropa atas Akuisisi Ceconomy US$ 2,5 Miliar Presiden AS Donald Trump mengatakan sedikitnya 18 personel militer AS telah tewas sejak perang pecah, termasuk empat orang yang gugur dalam serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania dan Irak beberapa hari terakhir. Trump juga kembali mengancam akan menyerang fasilitas nuklir Iran di Natanz "dalam waktu dekat". Iran menegaskan akan memberikan balasan jika serangan tersebut kembali dilakukan. Meningkatnya eskalasi konflik membuat harga minyak dunia terus menguat. Minyak mentah Brent diperdagangkan mendekati US$ 94 per barel, mendekati level tertinggi dalam enam pekan terakhir, di tengah kekhawatiran terganggunya pasokan energi global akibat konflik di Timur Tengah.