Konflik AS-Iran Meluas, Serangan Drone di Mesir Ancam Jalur Minyak Lewat Terusan Suez



KONTAN.CO.ID - Serangan pesawat nirawak (drone) yang memicu kebakaran pada dua kapal pengangkut gas di Pelabuhan Damietta, Mesir, meningkatkan kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran di sekitar Terusan Suez.

Insiden ini terjadi di tengah meluasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, sehingga memunculkan risiko baru bagi distribusi energi global.

Baca Juga: Bursa Korea Selatan Melonjak 14% Jumat (31/7), Saham Samsung dan SK Hynix Pimpin Reli


Mengutip Reuters, Kamis (30/7/2026), pemerintah Mesir menyatakan sebuah drone tak dikenal menyebabkan kebakaran pada dua kapal di Pelabuhan Damietta sehari sebelumnya.

Pelabuhan tersebut berada di dekat Terusan Suez yang menghubungkan Laut Mediterania dengan Laut Merah.

Menurut sumber yang mengetahui insiden tersebut, drone menghantam kapal penyimpanan gas milik AS, Energos Winter, sehingga memicu kebakaran yang kemudian menjalar ke kapal lain yang berada di dekatnya.

Hingga kini belum ada pihak yang mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut.

Iran membantah terlibat dalam insiden di Damietta.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengatakan, Mesir merupakan mitra penting di kawasan dan keamanan negara itu menjadi perhatian Iran.

Araqchi juga menuduh ada kemungkinan operasi provokasi (false flag) yang bertujuan mengganggu stabilitas kawasan, tanpa menyertakan bukti.

Baca Juga: Nikkei Jepang Melonjak Hampir 5% Jumat (31/7), Pasar Nantikan Keputusan BOJ

Ancaman Baru bagi Jalur Ekspor Minyak

Perang yang telah berlangsung selama lima bulan antara AS dan Iran sebelumnya telah mengganggu lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, salah satu jalur energi terpenting di dunia.

Sebelum konflik pecah, sekitar 20% pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia melewati Selat Hormuz.

Kini, jalur tersebut praktis mengalami gangguan serius sehingga meningkatkan ketergantungan pada rute alternatif melalui Laut Merah, Terusan Suez, dan jaringan pipa SUMED di Mesir.

Analis energi menilai serangan di Damietta memperbesar risiko terhadap salah satu jalur ekspor minyak utama Arab Saudi yang masih berfungsi di tengah konflik.

Data perusahaan intelijen pasar Kpler menunjukkan semakin banyak ekspor minyak Arab Saudi dialihkan melalui Laut Merah menuju Terusan Suez dan pipa SUMED.

Namun, untuk pengiriman ke pelanggan di Asia, perubahan rute tersebut membuat perjalanan menjadi lebih panjang karena kapal harus memutar melalui Afrika dibandingkan melewati Teluk Aden.

Baca Juga: PBOC Kembali Tekan Yuan, Kurs Tengah Dipatok Jauh di Bawah Estimasi Pasar

Saudi Bentuk Koalisi Keamanan Maritim

Di tengah meningkatnya ancaman terhadap pelayaran, Arab Saudi pada Kamis mengumumkan rencana pembentukan koalisi pertahanan maritim multinasional untuk melindungi jalur pelayaran internasional dan distribusi energi di kawasan Laut Merah.

Sebelumnya, kelompok Houthi yang didukung Iran mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada 20 Juli.

Serangkaian serangan Houthi terhadap kapal-kapal dagang juga mendorong pasar asuransi maritim London memperluas kategori wilayah berisiko tinggi di Laut Merah hingga mencakup lebih banyak kawasan pesisir di sekitar pelabuhan Arab Saudi.

Di sisi lain, Oman disebut telah mengajukan proposal kepada Iran, yang didukung negara-negara Teluk, untuk mengelola lalu lintas di Selat Hormuz, termasuk mekanisme pembayaran sukarela bagi kapal yang melintas.

Meski Iran secara terbuka menolak usulan tersebut, media semi-resmi ILNA melaporkan pembicaraan dengan Oman mengenai Selat Hormuz masih terus berlangsung.

Baca Juga: HSBC Jual Portofolio Pinjaman Australia US$ 25,3 Miliar ke Blackstone

Konflik Berpotensi Meluas

Konflik juga merembet ke Irak. Untuk pertama kalinya sejak perang berlangsung lima bulan, Arab Saudi secara terbuka ikut melancarkan serangan bersama AS terhadap kelompok-kelompok yang bersekutu dengan Iran di Irak timur sebagai balasan atas dugaan serangan drone terhadap fasilitas minyak Saudi yang disebut berasal dari wilayah Irak.

Namun, juru bicara pemerintah Irak, Haider al-Aboudi, mengatakan Baghdad tidak memberikan persetujuan maupun mengetahui lebih dahulu mengenai serangan gabungan AS dan Arab Saudi di wilayahnya.

Perkembangan terbaru di Mesir dan Irak memperkuat kekhawatiran bahwa semakin banyak negara di Timur Tengah dapat terseret ke dalam konflik yang terus meluas.