Konflik AS-Iran Memanas, Bursa Asia Tertekan, Harga Minyak Melambung



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Bursa saham Asia dibuka melemah pada perdagangan Senin (13/7/2026) setelah ketegangan di kawasan Teluk memicu lonjakan harga minyak dunia.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, ditambah klaim Teheran telah menutup Selat Hormuz, kembali memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi global dan prospek suku bunga yang tetap tinggi.

Harga minyak Brent langsung melonjak 3,3% ke US$78,50 per barel pada awal perdagangan, setelah sebelumnya sempat menyentuh level terendah US$70,14 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) naik 3,4% menjadi US$73,83 per barel.


Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran energi paling vital di dunia. Otoritas Amerika Serikat menyebut sekitar 20 kapal berhasil dikawal melewati selat tersebut dalam 24 jam terakhir, meski data pelacakan kapal menunjukkan lalu lintas pelayaran masih sangat terbatas.

Baca Juga: Bursa Asia Menguat, Harga Minyak Turun Seiring Kemajuan Perundingan Damai Iran-AS

Lonjakan harga minyak langsung menekan sentimen pasar saham. Kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3%, sedangkan Nasdaq futures melemah 0,5%.

Di Asia, indeks Nikkei Jepang merosot 1%, memperpanjang pelemahan 1,7% pada pekan lalu. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang juga turun 0,2%, sementara pasar saham Korea Selatan terkoreksi 0,4%.

Kenaikan harga energi juga membuat pelaku pasar kembali memperhitungkan peluang bank sentral Amerika Serikat (The Fed) mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik 2 basis poin menjadi 4,59%, sedangkan kontrak Fed Funds kini mengindikasikan pengetatan suku bunga sekitar 34 basis poin hingga akhir tahun.

Perhatian investor pekan ini juga tertuju pada kesaksian Ketua The Fed Kevin Warsh di hadapan Kongres untuk pertama kalinya sejak menjabat, serta rilis data inflasi Amerika Serikat periode Juni yang dijadwalkan pada Selasa (14/7).

Baca Juga: Bursa Asia Merosot, Harga Minyak Naik Terseret Konflik Iran dan AS yang Memanas

Inflasi diperkirakan sedikit melambat dari level 4,2% seiring turunnya harga bensin, namun reli harga minyak terbaru berpotensi kembali mendorong tekanan harga ke depan.

Di pasar valuta asing, indeks dolar AS menguat ke level 101,12. Euro melemah tipis ke US$1,1403 karena ekonomi Eropa dinilai lebih rentan terhadap kenaikan harga minyak akibat tingginya ketergantungan pada impor energi.

Dolar AS juga naik 0,1% terhadap yen Jepang menjadi 161,96. Penguatan ini memangkas pelemahan dolar pada akhir pekan lalu setelah Menteri Keuangan Jepang Satsuki Katayama mengusulkan agar Government Pension Investment Fund (GPIF) dan dana pensiun lainnya meningkatkan investasi di dalam negeri.

Analis National Australia Bank (NAB) menilai jika alokasi investasi GPIF kembali mendekati komposisi sebelum pandemi, arus pembelian yen berpotensi meningkat, meski perubahan strategi investasi diperkirakan berlangsung secara bertahap.

Sementara itu, pasar saham Korea Selatan masih menjadi perhatian investor global setelah anjlok hampir 8% sepanjang pekan lalu akibat tekanan pada saham-saham semikonduktor yang banyak diperdagangkan menggunakan leverage.

Pergerakan pasar Korea kini dinilai menjadi indikator penting bagi sektor chip global.

Di sisi lain, saham SK Hynix yang baru tercatat di Nasdaq melonjak hampir 14% pada debut perdagangannya Jumat lalu. Setelah penutupan pasar, muncul kabar bahwa Apple menggugat OpenAI dan dua mantan karyawannya atas dugaan pencurian rahasia dagang.

Baca Juga: Harapan Gencatan Senjata AS-Iran Dorong Bursa Eropa Naik, Harga Minyak Turun

Memasuki musim laporan keuangan kuartalan, investor berharap kinerja emiten tetap solid. Bank-bank besar Amerika Serikat akan membuka musim laporan keuangan mulai Selasa, disusul Netflix dan General Electric.

Analis Citi tetap mempertahankan rekomendasi overweight untuk sektor teknologi global dan Amerika Serikat.

Menurut mereka, prospek pertumbuhan laba dan momentum bisnis teknologi, terutama yang berkaitan dengan kecerdasan buatan (AI), masih menarik meski volatilitas diperkirakan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang.

Di pasar komoditas, kenaikan imbal hasil obligasi turut menekan harga emas. Logam mulia tersebut turun 1,1% menjadi US$4.076 per ons karena daya tarik aset tanpa imbal hasil berkurang ketika suku bunga dan imbal hasil obligasi meningkat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News