Konflik AS-Iran Topang Dolar AS, Yen Bertahan Dekat Level Terendah 40 Tahun



KONTAN.CO.ID - Dolar Amerika Serikat (AS) bertahan menguat pada perdagangan Kamis (23/7/2026), didukung meningkatnya permintaan aset safe haven di tengah memanasnya kembali konflik antara AS dan Iran. Di sisi lain, yen Jepang masih berada di dekat level terlemahnya dalam hampir 40 tahun.

Melansir Reuters, Indeks dolar AS, yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama termasuk euro dan yen, bergerak stabil di level 101,11.

Penguatan dolar didorong oleh lonjakan harga minyak setelah militer AS melancarkan serangan terbaru ke Iran.


Baca Juga: 12 Pemain dengan Kenaikan Nilai Pasar Terbesar usai Piala Dunia 2026

Kelompok Houthi yang didukung Iran juga mengklaim menyerang dua kapal tanker minyak Saudi sebagai bagian dari blokade laut terhadap Arab Saudi, sehingga meningkatkan risiko gangguan pasokan minyak melalui Laut Merah.

Harga minyak Brent naik lebih dari 1,3% menjadi US$ 95,31 per barel pada Kamis (23/7).

Kenaikan harga energi tersebut turut memicu kekhawatiran inflasi dan mendorong imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor dua tahun ke level tertinggi dalam 17 bulan, seiring meningkatnya ekspektasi bahwa Federal Reserve (The Fed) masih berpeluang menaikkan suku bunga.

"Yang berbeda dibanding awal konflik lima bulan lalu adalah kondisi persediaan energi. Persediaan yang lebih rendah membuat risiko kekurangan pasokan minyak dan gas semakin besar jika konflik berlanjut, sehingga memperburuk dampak ekonomi dari tingginya harga energi dan pada akhirnya menguntungkan dolar AS," ujar Head of International Economics and Foreign Exchange Commonwealth Bank of Australia, Joseph Capurso.

Baca Juga: FIFA Umumkan 11 Pemain Terbaik Piala Dunia 2026: Ada Messi hingga Vozinha

Sementara itu, euro naik tipis 0,02% menjadi US$ 1,1412 menjelang rapat kebijakan moneter Bank Sentral Eropa (ECB).

Pasar memperkirakan ECB akan mempertahankan suku bunga, namun tetap membuka peluang kenaikan suku bunga pada September jika lonjakan harga energi kembali mendorong inflasi.

Di kawasan Asia Pasifik, dolar Australia turun 0,1% menjadi US$ 0,6989, sedangkan dolar Selandia Baru melemah hampir 0,1% ke US$ 0,5811. Poundsterling diperdagangkan di level US$ 1,3373.

Adapun yen Jepang hanya menguat tipis 0,02% ke level 163,1 per dolar AS setelah sebelumnya sempat menyentuh 163,23 per dolar pada Selasa, level terlemah sejak Desember 1986.

Penguatan yen sempat tertahan meski muncul laporan bahwa pejabat Bank of Japan (BOJ) mulai membuka peluang kenaikan suku bunga yang lebih agresif.

Baca Juga: Trump Ancam Hancurkan Infrastruktur Iran Pasca Houthi Blokir Jalur Utama Laut Merah

Reuters juga melaporkan BOJ tetap mewaspadai risiko inflasi yang dapat mendorong kenaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan pasar.

Namun, pelemahan yen masih berlanjut karena investor menilai perbedaan suku bunga antara Jepang dan AS masih lebar.

Analis pasar IG Australia, Tony Sycamore, menilai peluang pemerintah Jepang melakukan intervensi di pasar valuta asing dalam waktu dekat masih kecil.

"Dengan latar belakang kenaikan harga energi dan meningkatnya ekspektasi sikap hawkish The Fed pada pertemuan pekan depan, sangat kecil kemungkinan otoritas Jepang melakukan intervensi sebelum hasil rapat FOMC diumumkan," ujarnya.