KONTAN.CO.ID - LONDON. Konflik di Timur Tengah menjadi salah satu sumber tekanan baru bagi industri manufaktur global pada September 2026. Kenaikan harga minyak dan bahan bakar, ditambah gangguan pengiriman serta kenaikan biaya logistik, mendorong biaya input produsen di berbagai negara. Pada saat yang sama, perusahaan menghadapi keterbatasan untuk meneruskan seluruh kenaikan biaya tersebut ke harga jual. Ini terlihat dari survei
purchasing managers’ index (PMI) sektor manufaktur yang digelar S&P Global. Dampak gangguan energi dan logistik terlihat di sejumlah negara dengan memburuknya waktu pengiriman pemasok. Vietnam, misalnya, menghadapi kenaikan biaya bahan bakar dan minyak serta keterlambatan pengiriman akibat kondisi internasional dan gangguan jalur pelayaran.
Andrew Harker,
Economics Director S&P Global Market Intelligence, mengatakan, lingkungan internasional membatasi ekspansi industri Vietnam melalui penurunan pesanan ekspor. "Perang di Timur Tengah meningkatkan biaya bahan bakar dan minyak, sementara keterlambatan pengiriman juga menjadi masalah," katanya dalam rilis pers, Kamis (1/10/2026). Tekanan serupa terlihat di Filipina. PMI manufaktur negara tersebut turun tajam menjadi 49,6 pada September dari 54,9 pada Agustus. Perusahaan menghadapi gangguan logistik yang dikaitkan dengan tingginya harga minyak, sementara permintaan yang lemah dan persaingan internasional mendorong perusahaan melakukan pengurangan aktivitas.
Baca Juga: Manufaktur Global Terbelah, Teknologi dan Barang Modal Jadi Motor Pertumbuhan Principal Economist S&P Global Market Intelligence Siân Jones mengatakan, perusahaan Filipina berada dalam posisi sulit karena tekanan biaya tidak sepenuhnya dapat diimbangi oleh permintaan. "Harga minyak yang tinggi, persaingan internasional yang kuat dan permintaan yang lemah membuat perusahaan berada dalam mode penghematan," ujarnya. Kenaikan biaya input juga terlihat di sejumlah negara Eropa. Di Spanyol, inflasi biaya meningkat tajam, terutama dipicu energi, bahan bakar dan produk turunan minyak. Waktu pengiriman pemasok juga mengalami gangguan yang secara historis cukup berat. Italia menghadapi tekanan biaya input yang mencapai level tertinggi pada kuartal ketiga. Di Prancis, inflasi harga input dan harga output kembali meningkat untuk pertama kalinya sejak Mei. Sementara di Jerman, inflasi biaya input kembali menguat, dengan energi, elektronik, transportasi dan bahan baku menjadi sumber tekanan. Di Inggris, inflasi biaya input juga meningkat untuk pertama kalinya dalam empat bulan. Perusahaan menghadapi tekanan dari harga energi, pelabuhan, pengiriman serta kekurangan sejumlah bahan baku. Kenaikan harga jual memang terjadi, tetapi laju kenaikan harga input kembali meningkat. Tekanan rantai pasok tidak hanya terjadi di Eropa. Taiwan menghadapi kekurangan pemasok dan memburuknya waktu pengiriman, dengan gangguan berada pada tingkat terburuk ketiga sejak Maret 2022. Jepang juga menghadapi keterlambatan pemasok yang termasuk paling parah dalam empat tahun akibat kekurangan komponen elektronik dan teknologi yang berkaitan dengan AI.
Baca Juga: Warga Jerman Bisa Gunakan Baterai Mobil Listrik untuk Pasok Listrik di Rumah Belanda menghadapi persoalan serupa. Keterlambatan pemasok cukup besar akibat kekurangan komponen elektronik dan cip serta kondisi di Timur Tengah. Perusahaan bahkan meningkatkan persediaan input untuk membangun stok pengaman, dengan akumulasi persediaan bahan baku mencapai tingkat terbesar dalam empat tahun. Australia juga terkena gangguan rantai pasok. PMI manufaktur negara tersebut turun menjadi 49,6 dari 52,0. Waktu pengiriman pemasok memburuk karena konflik di Timur Tengah serta cuaca buruk di Asia Utara. Kondisi tersebut terjadi bersamaan dengan tingginya biaya input dan penurunan pesanan baru.
Malaysia menunjukkan sisi lain dari tekanan biaya. Inflasi biaya input justru melandai untuk bulan kelima berturut-turut dan mencapai laju paling lambat sejak Februari. Namun, PMI turun menjadi 49,9 dan kepercayaan bisnis berada pada level terendah dalam lima bulan. Ini menunjukkan bahwa meredanya tekanan biaya belum otomatis mengembalikan momentum permintaan. Sejumlah produsen juga menghadapi dilema dalam menentukan harga jual. Di Filipina, inflasi harga jual justru meningkat meski tekanan biaya input melambat. Di Spanyol, harga output naik seiring melonjaknya biaya energi. Sementara di zona euro, inflasi harga input dan output kembali meningkat pada September, meski belum mencapai puncak tekanan harga pada Mei. Kondisi tersebut menunjukkan adanya keterbatasan kemampuan produsen meneruskan kenaikan harga ke konsumen. Produsen harus menanggung sebagian tekanan biaya ketika permintaan dan konsumsi masih lemah serta persaingan internasional tetap ketat. Di zona euro, misalnya, pertumbuhan manufaktur terutama didorong barang investasi, sementara permintaan barang konsumsi masih menurun akibat tekanan biaya hidup.