Konflik Geopolitik Bisa Dorong Inflasi, Tekanan Terhadap Daya Beli Makin Besar



KONTAN.CO.ID - JAKARTA. Kamar Dagang Indonesia (Kadin) Jakarta menyoroti dampak konflik geopolitik antara Iran-Israel terhadap perekonomian Indonesia.  Ketua Umum Kadin Jakarta, Diana Dewi menilai konflik Iran-Israel bisa mendorong inflasi karena naiknya harga energi. Hal ini membuat tekanan daya beli masyarakat bisa semakin besar. 

"Rantai pasok global yang terganggu perang membuat produsen harus cari bahan baku dari tempat lain, tentu biaya produksi yang naik akan diteruskan ke konsumen," kata Diana kepada Kontan, Rabu (17/4) malam.

Untuk itu, Diana mengimbau pemerintah segera menyusun langkah mitigasi bagi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk menjadi shock absorber. Ini dibutuhkan untuk menambah alokasi berbagai belanja termasuk belanja perlindungan sosial.


"Bila perlu dilakukan penambahan anggaran belanja untuk mempercepat pengurangan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) dan listrik dari komoditas fosil ke energi terbarukan. Dalam hal ini, APBN harus bergerak cepat," ujarnya.

Baca Juga: Kemenperin Siapkan Antisipasi Dampak Situasi Geopolitik Dunia Bagi Sektor Industri

Diana menerangkan, konflik tersebut dapat memicu lonjakan harga minyak mentah ke US$ 85,6 dolar AS atau meningkat 4,4% secara tahunan (yoy). 

Harga minyak yang melonjak dikhawatirkan berimbas ke pelebaran subsidi energi hingga pelemahan kurs rupiah lebih dalam. Tentu ini juga bisa berdampak pada APBN dalam memperlebar alokasi anggaran untuk belanja subsidi energi.

"Dampak lainnya, melemahnya investasi asing karena meningkatnya risiko geopolitik. Untuk itu, investor akan mencari aset yang aman. Hal ini bisa mengakibatkan pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS," jelasnya.

Ia juga mengungkapkan, kinerja ekspor Indonesia ke Timur Tengah, Afrika dan Eropa akan terganggu. Sementara untuk dampak domestik bakal terjadi pelambatan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,6%-4,8% pada tahun ini.

Baca Juga: BI Diperkirakan Tahan Suku Bunga Acuan 6% pada April 2024, Ini Alasannya

"Masalah lain yang kemungkinan muncul adalah kebijakan suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama atau higher for longer, bahkan ada risiko suku bunga naik. Juga distribusi bahan kebutuhan pokok juga bisa mengalami hambatan oleh karena kekhawatiran, baik dari negara penyuplai maupun konsumen," tutupnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Editor: Tendi Mahadi