Konflik Global Jadi Berkah, Jet Tempur F-35 dan Rudal Patriot Lockheed Martin Laris



KONTAN.CO.ID - Lockheed Martin memperkirakan laba dan pendapatan tahun 2026 akan melampaui ekspektasi pasar, didorong oleh permintaan yang terus menguat terhadap jet tempur dan sistem persenjataan.

Saham perusahaan pertahanan asal Amerika Serikat (AS) itu melonjak sekitar 7% dalam perdagangan awal di New York, Kamis (29/1/2026).

Konflik berkepanjangan di Timur Tengah serta perang Rusia–Ukraina telah memicu lonjakan belanja militer global, yang menjadi katalis positif bagi kontraktor pertahanan seperti Lockheed Martin.


Baca Juga: Pesanan Pabrik AS Bangkit November 2025, Dipicu Lonjakan Permintaan Pesawat Komersial

Ketegangan geopolitik juga semakin meningkat menyusul operasi militer Amerika Serikat yang melibatkan penangkapan presiden Venezuela.

CEO Lockheed Martin Jim Taiclet mengatakan, sejumlah produk utama perusahaan digunakan dalam operasi tersebut, termasuk jet tempur F-35 dan F-22, drone siluman RQ-170, serta helikopter Black Hawk produksi unit Sikorsky.

Pernyataan itu disampaikan Taiclet dalam konferensi pers pasca-pengumuman kinerja keuangan.

Awal bulan ini, Lockheed Martin juga mengamankan kontrak tujuh tahun dengan Departemen Pertahanan AS untuk meningkatkan produksi rudal pencegat Patriot PAC-3 menjadi 2.000 unit per tahun, melonjak dari sebelumnya sekitar 600 unit.

Selain itu, perusahaan sepakat untuk lebih dari melipatgandakan kapasitas produksi sistem pertahanan udara Terminal High Altitude Area Defense (THAAD) menjadi 400 unit per tahun, dari sebelumnya 96 unit.

Baca Juga: Rusia Siap Evakuasi Staf dari PLTN Bushehr Iran Jika Situasi Memburuk

Manajemen menyatakan bahwa jika target produksi dan profitabilitas pada kontrak Patriot dan THAAD terlampaui, sebagian keuntungan tambahan akan dibagikan kembali kepada pemerintah AS, antara lain melalui peningkatan pasokan suku cadang atau investasi fasilitas produksi.

Sebaliknya, kontrak tersebut juga memuat mekanisme perlindungan jika dukungan anggaran dari Kongres tidak sesuai rencana.

Pada kuartal keempat, segmen rudal dan sistem kendali tembak yang mencakup sistem Patriot mencatat pertumbuhan penjualan tercepat, naik 17,8% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Sementara itu, penjualan segmen aeronautika, yang memproduksi jet F-35 dan menjadi penyumbang pendapatan terbesar, meningkat 6,4%.

Baca Juga: Belanja Modal Tesla Naik Lebih dari Dua Kali Lipat, Fokus ke Robot dan Mobil Otonom

Pada Januari lalu, Lockheed Martin melaporkan pengiriman rekor 191 unit jet tempur F-35 sepanjang 2025, naik signifikan dibandingkan 110 unit pada 2024.

Program F-35 sendiri merupakan proyek akuisisi terbesar Pentagon, dengan estimasi biaya seumur hidup melebihi US$2 triliun, termasuk pembelian, operasional, dan pemeliharaan.

Di tengah peningkatan kinerja, industri pertahanan AS juga menghadapi ketidakpastian kebijakan.

 Presiden Donald Trump pada Januari menandatangani perintah eksekutif yang mengaitkan pembagian dividen, pembelian kembali saham, dan kompensasi eksekutif dengan jadwal pengiriman persenjataan.

Kebijakan ini berpotensi memengaruhi strategi pengembalian modal perusahaan pertahanan.

Untuk tahun 2025, Lockheed Martin membayarkan dividen sebesar US$3,13 miliar, meningkat dari US$3,06 miliar pada tahun sebelumnya.

Baca Juga: Laba H&M di Atas Ekspektasi, Waspadai Perlambatan Penjualan Musim Dingin

Ke depan, Lockheed Martin memproyeksikan pendapatan 2026 berada di kisaran US$77,5 miliar hingga US$80 miliar, di atas estimasi analis sebesar US$77,83 miliar.

Laba per saham diperkirakan mencapai US$29,35 hingga US$30,25, juga melampaui perkiraan pasar.

Pada kuartal terakhir, perusahaan membukukan pendapatan US$20,32 miliar, naik dari US$18,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.

Selanjutnya: Nikita Willy Bagi Tips Pilih Fesyen untuk Kegiatan Sehari-hari, yuk Simak

Menarik Dibaca: Nikita Willy Bagi Tips Pilih Fesyen untuk Kegiatan Sehari-hari, yuk Simak